Ketika Pohon “Berdoa”, Renungan Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol tentang Alam, Kepemimpinan, dan Masa Depan Bangsa
- account_circle Suwoto
- calendar_month Jumat, 31 Jul 2026
- visibility 174
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta – Di tengah derasnya arus modernisasi dan kompetisi global, nilai-nilai kebijaksanaan yang diajarkan alam dinilai tetap relevan sebagai pedoman dalam membangun karakter, kepemimpinan, dan masa depan bangsa. Gagasan tersebut disampaikan Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol melalui tulisan reflektif berjudul “Ketika Pohon Berdoa, Manusia Mendengar”, yang ditulis di Jakarta, Jumat (31/7/2026).
Dalam tulisannya, MJP Hutagaol mengajak pembaca memaknai alam sebagai sumber pembelajaran tentang kehidupan. Menurutnya, pohon, sungai, matahari, dan berbagai unsur alam menghadirkan teladan mengenai pengabdian, keikhlasan, keseimbangan, serta manfaat bagi sesama tanpa mengharapkan balasan.
Ia menggambarkan akar sebagai simbol kerendahan hati yang menjadi fondasi kekuatan, batang pohon sebagai lambang keteguhan dalam menghadapi berbagai tantangan, dan daun sebagai cerminan keikhlasan yang terus memberi kehidupan, bahkan setelah gugur.
Lebih jauh, penulis menekankan bahwa kepemimpinan sejati tidak semata-mata diukur dari kekuasaan atau keberhasilan, melainkan dari kemampuan menjaga integritas, keadilan, serta keberanian mempertahankan nilai-nilai luhur di tengah tekanan.
Dalam refleksinya, MJP Hutagaol juga mengingatkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi harus berjalan seiring dengan kebijaksanaan serta nurani. Menurutnya, pembangunan yang berkelanjutan hanya dapat diwujudkan apabila manusia mampu menjaga keseimbangan antara kemajuan peradaban dan kelestarian lingkungan.
Ia menilai hubungan antara manusia dan alam merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Menjaga lingkungan, menurutnya, bukan sekadar kewajiban ekologis, tetapi juga bagian dari tanggung jawab untuk memastikan keberlangsungan kehidupan generasi mendatang.
Pada bagian penutup, penulis mengajak masyarakat menjadikan kehidupan sebagai sarana untuk memberi manfaat bagi sesama. Ia menegaskan bahwa ukuran keberhasilan bukanlah seberapa tinggi seseorang mencapai kedudukan, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada masyarakat, bangsa, dan negara.
“Ketika pohon terus ‘berdoa’ melalui kehidupan yang diberikannya, pertanyaannya bukanlah apakah alam berbicara, melainkan apakah manusia masih memiliki kerendahan hati untuk mendengarkan, kebijaksanaan untuk memahami, dan keberanian untuk mengamalkannya,” tulis Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar