Gerilya Kognitif Seri 3, Brigjen (Purn) MJP Hutagaol Bedah Kekuatan Narasi dalam Membentuk Persepsi Publik
- account_circle Suwoto
- calendar_month 11 jam yang lalu
- visibility 88
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Masyarakat Perlu Kritis terhadap Informasi
Untuk menghadapi derasnya arus informasi digital, MJP Hutagaol menawarkan tujuh pertanyaan kritis sebelum masyarakat mempercayai atau menyebarkan informasi.
Pertanyaan tersebut meliputi kejelasan fakta utama, kredibilitas sumber, keberadaan bukti pendukung, kelengkapan konteks, kemungkinan adanya fakta yang dihilangkan, kesesuaian judul dengan isi, serta apakah kesimpulan benar-benar didukung fakta.
Langkah tersebut dinilai relevan untuk memperkuat literasi media dan mencegah masyarakat terjebak dalam informasi menyesatkan, manipulasi narasi, maupun penyebaran kabar yang belum terverifikasi.
Komunikasi Strategis Harus Berbasis Fakta
Dalam perspektif kepentingan nasional, tulisan tersebut juga menyoroti pentingnya kemampuan Indonesia membangun komunikasi strategis yang aktif, terukur, dan dapat dipercaya.
Penguasaan data nasional, komunikasi kebijakan yang mudah dipahami, analisis media, pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), serta peningkatan literasi masyarakat menjadi sejumlah aspek yang perlu diperkuat.
Namun, komunikasi strategis tetap harus berlandaskan kebenaran, bukti, dan tanggung jawab. Kepercayaan publik tidak dapat dibangun hanya melalui slogan, melainkan melalui kesesuaian antara pernyataan, data, dan tindakan.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar