ESTOM sebagai Siklus Strategis: Setelah Maneuver, Negara Harus Kembali Membaca Perubahan
- account_circle Suwoto
- calendar_month Senin, 24 Agt 2026
- visibility 316
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Negara yang Mampu Belajar Memiliki Daya Tahan Lebih Besar
Dua negara dapat menghadapi perubahan strategis yang sama, tetapi menghasilkan respons yang berbeda.
Negara yang terlambat menangkap perubahan, lambat menganalisis, kaku dalam pelaksanaan, dan enggan mengakui kegagalan akan menghadapi kesulitan lebih besar dalam beradaptasi.
Sebaliknya, negara yang mampu menangkap perubahan lebih dini, memahami situasi secara tepat, menyiapkan sejumlah pilihan, bertindak, mengukur hasil, serta belajar dari pengalaman akan memiliki kemampuan adaptasi yang lebih besar.
Dengan demikian, kekuatan strategis tidak selalu identik dengan luas wilayah, jumlah penduduk, atau besarnya sumber daya.
Kemampuan untuk mengetahui lebih cepat, memahami lebih tepat, memutuskan lebih baik, bergerak lebih lentur, dan belajar lebih cepat juga merupakan sumber kekuatan negara.
ESTOM Tidak Berakhir pada Maneuver
Pada akhirnya, ESTOM tidak dapat dipahami sebagai:
E → S → T → O → M → SELESAI
Melainkan:
E → S → T → O → M → Feedback → E Baru → S Baru → T Baru → O Baru → M Baru.
Dalam bahasa sederhana:
PETAKAN.
INDERA.
PAHAMI.
RANCANG.
GERAKKAN.
UKUR.
BELAJAR.
PETAKAN KEMBALI.
Inilah inti pemikiran ESTOM sebagai Siklus Strategis.
Pembahasan tersebut sekaligus menjadi jembatan menuju Seri Memahami ESTOM #8: “Ketika ESTOM Bertemu Pertahanan Fondasi—Energi, Data, Persepsi sebagai Ruang Strategis Negara.”
Seri berikutnya akan membahas bagaimana energi, data, dan persepsi dapat dipandang sebagai ruang strategis yang perlu dijaga agar negara memiliki daya tahan sekaligus kemampuan menentukan kehendaknya sendiri.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar