Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol: Rasa Malu adalah Benteng Terakhir yang Menjaga Peradaban
- account_circle Suwoto
- calendar_month Sabtu, 1 Agt 2026
- visibility 299
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Belajar dari Alam tentang Manfaat
Dalam refleksinya, MJP Hutagaol menggunakan alam sebagai analogi mengenai makna kebermanfaatan.
Ia menggambarkan matahari yang terus memberi cahaya, sungai yang mengalirkan air, dan pohon yang menghasilkan buah tanpa mengharapkan balasan.
Dari ilustrasi tersebut, ia menyampaikan bahwa semakin tinggi kedudukan seseorang, seharusnya semakin besar pula manfaat yang diberikan kepada masyarakat.
“Semakin tinggi kedudukan, semakin rendah hatinya. Semakin luas kekuasaan, semakin besar tanggung jawabnya. Semakin dalam ilmunya, semakin bijaksana langkahnya.”
Menjaga Rasa Malu Berarti Menjaga Masa Depan Bangsa
Pada bagian akhir tulisannya, MJP Hutagaol menegaskan bahwa hilangnya rasa malu merupakan persoalan moral yang dapat berdampak pada melemahnya nilai kejujuran, tanggung jawab, dan integritas dalam kehidupan berbangsa.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memelihara hati nurani sebagai benteng internal dalam menjalankan amanah dan kehidupan bermasyarakat.
Menurutnya, sejarah tidak hanya akan mencatat siapa yang paling berkuasa atau paling kaya, tetapi juga siapa yang meninggalkan jejak moral yang bermanfaat bagi generasi berikutnya.
Sebagai penutup, ia mengajukan sebuah refleksi:
“Apakah masih ada rasa malu yang menjaga hati manusia ketika tidak ada seorang pun yang melihat?”
Pertanyaan tersebut, menurutnya, menjadi pengingat bahwa selama manusia masih mampu menjawabnya dengan kejujuran, harapan bagi bangsa dan peradaban akan tetap terjaga.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar