AI, Data Dan Persepsi: Pelajaran Sunyi Dari Dunia Intelejen
- account_circle Suwoto
- calendar_month Senin, 21 Sep 2026
- visibility 105
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta — Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah cara manusia mengolah informasi. Jika pada era intelijen konvensional pengumpulan informasi menjadi tantangan utama, kini persoalannya justru bergeser pada bagaimana memilah dan memahami data yang jumlahnya terus meningkat.
Dalam tulisan “Pelajaran Sunyi dari Dunia Intelijen: Dari KGB, Mossad, CIA hingga AI — Ketika Perang Berpindah dari Medan Fisik ke Data, Algoritma dan Manusia”, Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol ’86 menyoroti perubahan tersebut sekaligus mengingatkan bahwa data tidak selalu identik dengan kebenaran.
Menurutnya, AI mampu menemukan pola, mempercepat analisis dan membantu membuat prediksi. Namun, teknologi tersebut tidak secara otomatis mampu memastikan kebenaran konteks di balik data. Data yang keliru maupun sengaja dimanipulasi dapat menghasilkan analisis dan kesimpulan yang terlihat meyakinkan.
Karena itu, kemampuan teknologi perlu diimbangi proses verifikasi manusia. Prinsip human in the loop menjadi penting, terutama ketika keputusan yang diambil memiliki konsekuensi besar terhadap kehidupan manusia. Teknologi dapat memberikan rekomendasi dan mempercepat proses, tetapi tanggung jawab pengambilan keputusan tetap berada pada manusia.
PERANG PERSEPSI DI ERA DIGITAL
Perkembangan AI juga membawa tantangan baru dalam ruang informasi. Manipulasi video, suara dan wajah melalui teknologi deepfake dapat membuat informasi palsu terlihat seolah-olah nyata.
Situasi tersebut menempatkan persepsi masyarakat sebagai salah satu aspek penting dalam keamanan informasi. Ketika masyarakat kesulitan membedakan informasi yang benar dan yang telah dimanipulasi, kepercayaan publik dapat ikut terdampak.
Naskah tersebut juga menempatkan persoalan AI sebagai bagian dari tantangan yang telah dihadapi Indonesia. Tata kelola AI, keamanan siber, perlindungan data strategis dan penguatan talenta digital menjadi sejumlah aspek yang perlu mendapat perhatian.
DATA SEBAGAI BAGIAN DARI KETAHANAN NASIONAL
Menurut tulisan tersebut, data kini tidak lagi semata-mata menjadi persoalan teknologi informasi. Penguasaan data, kemampuan mengolahnya, infrastruktur komputasi, algoritma dan sumber daya manusia menjadi bagian dari aspek strategis suatu negara.
Konsep tersebut kemudian dikaitkan dengan tiga fondasi yang semakin penting dalam kehidupan modern, yakni energi, data dan persepsi. Energi memungkinkan sistem bergerak, data memungkinkan sistem mengetahui kondisi, sedangkan persepsi memengaruhi cara manusia memahami realitas. Gangguan terhadap salah satu fondasi tersebut dapat berdampak terhadap stabilitas sebuah sistem.
TEKNOLOGI TETAP MEMBUTUHKAN MANUSIA
Di tengah perkembangan teknologi, penulis memperkenalkan istilah “intelijen rasa” sebagai kemampuan manusia membaca gejala sosial yang belum tentu sepenuhnya terlihat dalam data.
Kekecewaan, ketidakpercayaan, kemarahan, harapan dan kehilangan makna disebut sebagai aspek yang membutuhkan kepekaan manusia. Istilah tersebut bukan terminologi teknis resmi dunia intelijen, melainkan gagasan mengenai pentingnya kemampuan kepemimpinan memahami kondisi manusia di balik angka dan data.
Tulisan itu menekankan bahwa semakin canggih teknologi, semakin penting kemampuan manusia untuk berpikir kritis dan melakukan verifikasi. Data perlu diubah menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi kebijakan, dan kebijakan diterjemahkan menjadi tindakan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
LITERASI INFORMASI MENJADI KEBUTUHAN
Masyarakat juga memiliki peran dalam menghadapi tantangan informasi digital. Literasi informasi diperlukan agar masyarakat tidak mudah mempercayai informasi, memeriksa sumber, membandingkan informasi, membedakan fakta dan opini, serta mengenali potensi manipulasi.
Pesan utama yang disampaikan adalah pentingnya menjaga kemampuan manusia untuk tetap berpikir dan tidak menyerahkan seluruh proses penilaian kepada algoritma.
Pada akhirnya, perang modern tidak selalu berbentuk konflik fisik. Ancaman dapat hadir melalui informasi palsu, serangan siber, manipulasi data, kebocoran informasi maupun keputusan yang diambil berdasarkan informasi yang keliru.
Tulisan Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol ’86 tersebut mengajak pembaca melihat bahwa tantangan masa depan bukan hanya bagaimana memperoleh informasi sebanyak-banyaknya, tetapi bagaimana menentukan informasi yang benar, memahami maknanya, serta menggunakannya secara bertanggung jawab untuk melindungi manusia dan kepentingan bangsa.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar