Breaking News
light_mode
Trending HasTags
Beranda » Opini » Mazhab Nusantara Seri 7: Kemajuan Bangsa Tak Cukup Diukur Dari Kekayaan Dan Kekuasaan

Mazhab Nusantara Seri 7: Kemajuan Bangsa Tak Cukup Diukur Dari Kekayaan Dan Kekuasaan

  • account_circle Suwoto
  • calendar_month Selasa, 13 Okt 2026
  • visibility 69
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MediaSuaraMabes | Jakarta — Kemajuan suatu bangsa tidak cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, kekuatan pertahanan, penguasaan teknologi, maupun besarnya investasi. Kemajuan juga perlu dinilai dari kualitas kehidupan masyarakat, keadilan dalam memperoleh kesempatan, kredibilitas kelembagaan, kemandirian strategis, serta kemampuan menjaga keberlanjutan bagi generasi mendatang.

Gagasan tersebut menjadi pokok pembahasan Mazhab Nusantara Seri 7 bertajuk “Ukuran Kemajuan: Kekayaan, Kekuasaan, atau Kualitas Peradaban?”, yang ditulis MJP Hutagaol ’86 dan dipublikasikan sebagai bagian dari rangkaian pemikiran mengenai nilai kebangsaan, kebijaksanaan, dan pembangunan peradaban Indonesia.

Dalam tulisan tersebut, kemajuan ditempatkan bukan semata-mata sebagai capaian angka, melainkan sebagai kemampuan bangsa memastikan bahwa hasil pembangunan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik tetap menjadi unsur penting dalam pembangunan nasional. Namun, capaian tersebut perlu dibaca bersama kondisi sosial dan kemampuan masyarakat mengakses pendidikan, pelayanan kesehatan, pekerjaan, perlindungan hukum, serta kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup.

Kekayaan sumber daya alam, misalnya, tidak otomatis menjadikan suatu negara mandiri. Demikian pula, kemajuan teknologi tidak dengan sendirinya menjamin keadilan apabila penerapannya tidak disertai tata kelola yang bertanggung jawab.

Karena itu, ukuran kemajuan perlu menjawab pertanyaan mendasar: bukan hanya seberapa besar kemampuan yang dimiliki negara, tetapi juga bagaimana kemampuan tersebut digunakan dan sejauh mana manfaatnya dirasakan masyarakat.

Dalam kerangka pemikiran Mazhab Nusantara, terdapat lima dimensi yang dapat digunakan untuk mengkaji kemajuan peradaban secara lebih menyeluruh.

Pertama, kualitas manusia. Pendidikan, kesehatan, pengetahuan, keterampilan, kreativitas, dan karakter menjadi fondasi bagi masyarakat yang mampu menghadapi perubahan zaman. Pembangunan perlu memperluas kesempatan manusia untuk berkembang dan menjalani kehidupan yang bermartabat.

Kedua, keadilan dan kesejahteraan. Pertumbuhan ekonomi perlu disertai perhatian terhadap distribusi manfaat pembangunan, perlindungan kelompok rentan, pemerataan kesempatan, dan kepastian hukum. Keadilan tidak mengharuskan semua orang memperoleh hasil yang sama, tetapi menuntut kesempatan yang layak dan perlakuan yang adil.

Ketiga, kualitas kelembagaan. Lembaga negara dan institusi publik membutuhkan kompetensi, integritas, pengawasan yang efektif, serta pertanggungjawaban dalam penggunaan kewenangan dan anggaran. Kualitas kelembagaan menentukan apakah kebijakan dapat dijalankan secara konsisten dan dievaluasi ketika menghadapi persoalan.

Keempat, kemandirian strategis. Kemandirian tidak berarti menutup diri dari hubungan internasional. Sebaliknya, kemandirian berarti memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, mengelola sumber daya, serta menjaga kepentingan nasional dalam kerja sama dengan negara lain.

Kelima, keberlanjutan kehidupan. Pembangunan perlu mempertimbangkan daya dukung lingkungan, ketahanan energi dan pangan, ketersediaan air, serta kepentingan generasi mendatang. Kemajuan saat ini tidak seharusnya menciptakan beban yang tidak proporsional bagi masa depan.

Kelima dimensi tersebut merupakan kerangka pemikiran yang ditawarkan dalam Mazhab Nusantara, bukan indeks resmi pembangunan. Penerapannya membutuhkan indikator yang jelas, data yang dapat diuji, serta evaluasi yang dilakukan secara berkelanjutan.

Indonesia memiliki sumber daya alam dan posisi strategis yang dapat menjadi modal penting bagi pembangunan. Namun, besarnya sumber daya belum cukup untuk menjamin kemandirian ekonomi apabila tidak didukung penguasaan pengetahuan, teknologi, industri, kualitas sumber daya manusia, dan tata kelola yang baik.

Pengolahan sumber daya di dalam negeri berpotensi meningkatkan nilai tambah dan memperluas kegiatan ekonomi. Pengembangan riset, inovasi, serta industri yang kompetitif juga dapat memperkuat kemampuan nasional dalam menentukan arah pembangunan.

Meski demikian, hilirisasi tidak otomatis menghasilkan kesejahteraan yang merata. Manfaatnya tetap perlu dinilai berdasarkan produktivitas, kualitas lapangan kerja, dampak lingkungan, distribusi nilai tambah, dan keberlanjutan industri.

Dengan demikian, pertanyaan strategis bagi Indonesia bukan sekadar berapa besar kekayaan alam yang dimiliki, melainkan seberapa besar kemampuan nasional yang berhasil dibangun melalui pengelolaan kekayaan tersebut.

Tulisan Mazhab Nusantara Seri 7 juga menempatkan kekuasaan dan teknologi dalam kerangka tanggung jawab.

Kekuatan negara diperlukan untuk menjaga kedaulatan, keamanan, dan keberlangsungan pelayanan publik. Namun, penggunaan kewenangan tetap membutuhkan batas yang jelas, pengawasan, kepastian hukum, dan mekanisme pertanggungjawaban.

Di bidang teknologi, inovasi dapat meningkatkan produktivitas, memperluas akses informasi, serta mempercepat pelayanan publik. Akan tetapi, penerapannya perlu memperhatikan keamanan, perlindungan data pribadi, perubahan kebutuhan tenaga kerja, dan risiko ketimpangan akses.

Dalam era kecerdasan buatan, kemajuan tidak cukup ditandai dengan penggunaan teknologi terbaru. Kemampuan sumber daya manusia untuk memahami, mengembangkan, mengawasi, dan mengevaluasi teknologi juga menjadi faktor penting.

Dengan kata lain, kekuatan dan kecanggihan teknologi perlu ditempatkan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas kehidupan, bukan sekadar simbol keberhasilan pembangunan.

Seri ketujuh ini melanjutkan rangkaian pembahasan Mazhab Nusantara mengenai Budi, Pancasila, serta hubungan antara manusia dan kelembagaan.

Budi ditempatkan sebagai landasan pertimbangan moral dan kebijaksanaan. Pancasila menjadi dasar negara sekaligus orientasi nilai kehidupan kebangsaan. Sementara itu, manusia dan kelembagaan berperan dalam menerjemahkan nilai menjadi keputusan, kebijakan, dan tindakan nyata.

Pembahasan mengenai ukuran kemajuan kemudian menjadi sarana untuk menilai hasil penerapan nilai dan kebijakan tersebut.

Kerangka ini menekankan bahwa nilai yang baik membutuhkan sistem pelaksanaan yang memadai. Sebaliknya, sistem yang berjalan tanpa orientasi nilai berisiko kehilangan arah dan tujuan sosialnya.

Oleh karena itu, gagasan kebangsaan perlu dihubungkan dengan persoalan konkret, seperti kualitas pendidikan, integritas kelembagaan, produktivitas ekonomi, keadilan sosial, penguasaan teknologi, dan keberlanjutan lingkungan.

Pengukuran dan evaluasi menjadi penting agar gagasan tidak berhenti pada cita-cita, tetapi dapat dikembangkan menjadi agenda pemikiran dan kebijakan yang terbuka terhadap pengujian.

Melalui Seri 7, Mazhab Nusantara menawarkan cara pandang bahwa kemajuan ekonomi, kekuatan negara, dan penguasaan teknologi perlu berjalan bersama peningkatan kualitas manusia dan tanggung jawab sosial.

Kekayaan, kekuasaan, dan teknologi tidak harus dipertentangkan dengan kebijaksanaan serta nilai kebangsaan. Tantangannya adalah menempatkan seluruh unsur tersebut dalam hubungan yang saling memperkuat.

Masa depan Indonesia akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan mengubah sumber daya menjadi kapasitas produktif, pengetahuan menjadi inovasi, nilai menjadi tindakan, serta pembangunan menjadi kesejahteraan yang berkelanjutan.

Pada bagian akhir tulisannya, MJP Hutagaol ’86 mengarahkan pembahasan menuju persoalan yang lebih strategis: bagaimana Indonesia membangun kemampuan sendiri dalam ilmu pengetahuan, energi, teknologi, dan industri tanpa kehilangan orientasi kebangsaan serta tanggung jawab terhadap generasi mendatang.

Pertanyaan tersebut akan menjadi pokok pembahasan berikutnya dalam Mazhab Nusantara Seri 8: “Kemandirian Strategis: Dari Sumber Daya Menuju Kekuatan Peradaban.”

Mazhab Nusantara merupakan rangkaian pemikiran yang berupaya membahas hubungan antara nilai, kebijaksanaan, Pancasila, manusia, kelembagaan, dan arah pembangunan peradaban Indonesia. Gagasan-gagasan di dalamnya dikembangkan sebagai bahan refleksi dan diskusi mengenai tantangan kebangsaan serta masa depan Indonesia.

Penulis: MJP Hutagaol ’86

Suwoto

Jurnalis :

Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pelajaran Sunyi Dari Dunia Intelijen: Ketika Perang Bergeser ke Data, Algoritma Dan Manusia

    Pelajaran Sunyi Dari Dunia Intelijen: Ketika Perang Bergeser ke Data, Algoritma Dan Manusia

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Suwoto
    • visibility 110
    • 0Komentar

    Oleh: Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol ’86 Jakarta, 18 September 2026 MediaSuaraMabes | Jakarta — Dunia intelijen mengalami perubahan seiring pesatnya perkembangan teknologi digital. Jika sebelumnya pengumpulan informasi banyak bergantung pada agen, dokumen, komunikasi tertutup, dan jaringan manusia, kini jejak digital seperti lokasi, foto, pola perjalanan, transaksi, komunikasi, aktivitas media sosial, hingga penggunaan perangkat dapat menjadi […]

  • Jelang Musda III, Bang Boy Minta ABUJAPI NTB Jaga Sinergi dengan Polda

    Jelang Musda III, Bang Boy Minta ABUJAPI NTB Jaga Sinergi dengan Polda

    • calendar_month Senin, 5 Okt 2026
    • account_circle Suwoto
    • visibility 93
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Mataram – Wakil Ketua Umum II Badan Pengurus Pusat Asosiasi Badan Usaha Jasa Pengamanan Indonesia (BPP ABUJAPI), H. Novembriono, S.E., yang akrab disapa Om Boy atau Bang Boy, meminta jajaran ABUJAPI NTB menjaga hubungan harmonis dengan Polda NTB. Ia juga menekankan pentingnya koordinasi antara pengurus daerah dan pusat menjelang Musda III BPD ABUJAPI […]

  • LAMI Bersama Dompet Dhuafa Sebar Kebahagiaan di Idul Adha: Warga Padang Pariaman Terharu dan Berterima Kasih photo_camera 3

    LAMI Bersama Dompet Dhuafa Sebar Kebahagiaan di Idul Adha: Warga Padang Pariaman Terharu dan Berterima Kasih

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Muhammad Yaman
    • visibility 206
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes, Padang Pariaman – Semangat berbagi dan kepedulian kemanusiaan mewarnai perayaan Hari Raya Idul Adha di Kabupaten Padang Pariaman. Lembaga Aspirasi Masyarakat Indonesia (LAMI) yang diketuai oleh Risma Wati, kembali menorehkan jejak nyata kebaikan melalui kolaborasi istimewa bersama Dompet Dhuafa (DD) di bawah pimpinan Ustadz Novil Okan Putra. Kegiatan bakti sosial ini menjadi bukti nyata […]

  • Perang Abad ke-21 Tak Lagi Hanya di Medan Tempur, Sistem Kehidupan Jadi Sasaran Strategis

    Perang Abad ke-21 Tak Lagi Hanya di Medan Tempur, Sistem Kehidupan Jadi Sasaran Strategis

    • calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
    • account_circle Suwoto
    • visibility 138
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Jakarta — Karakter perang pada abad ke-21 dinilai mengalami perubahan. Konflik tidak lagi hanya berkaitan dengan pertempuran fisik di darat, laut dan udara, tetapi dapat meluas ke berbagai sistem yang menopang kehidupan dan keberlangsungan sebuah negara. Pandangan tersebut disampaikan Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol dalam tulisan “Seri 1 — Membaca Perang Abad ke-21: […]

  • Perseteruan di TikTok Berujung Saling Lapor Polisi, MSM Ingatkan Pentingnya Bijak Bermedia Sosial

    Perseteruan di TikTok Berujung Saling Lapor Polisi, MSM Ingatkan Pentingnya Bijak Bermedia Sosial

    • calendar_month Senin, 10 Agt 2026
    • account_circle Wajidi Adiansyah
    • visibility 250
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Jakarta — Perseteruan antar pengguna media sosial, khususnya TikTok, kembali menjadi perhatian setelah konflik yang berkembang di ruang digital berujung pada laporan atau pengaduan kepada pihak kepolisian. Salah satu dokumen yang beredar menunjukkan adanya Tanda Terima Surat Pengaduan Masyarakat yang diterbitkan oleh Kepolisian Resor Badung, Polda Bali. Dokumen tersebut memuat pengaduan masyarakat terkait dugaan […]

  • Polda Kalbar Hadir di Tengah Krisis, Salurkan Air Bersih dan Gelar Bakti Kesehatan

    Polda Kalbar Hadir di Tengah Krisis, Salurkan Air Bersih dan Gelar Bakti Kesehatan

    • calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
    • account_circle Hepni Jaya Kusuma
    • visibility 148
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Kubu Raya — Kepolisian Daerah Kalimantan Barat (Polda Kalbar) menunjukkan kepeduliannya terhadap masyarakat yang terdampak kabut asap dan kekeringan dengan menggelar bakti kesehatan serta bakti sosial di Dusun Beringin, Desa Kalimas, Kabupaten Kubu Raya, Kamis (10/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya kepolisian untuk membantu masyarakat menghadapi dampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) […]

expand_less