Nusantara Tidak Hanya Membangun Candi, Kapal, Rumah, Air, dan Teknologi Menyimpan Pengetahuan
- account_circle Suwoto
- calendar_month Kamis, 1 Okt 2026
- visibility 131
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta – Warisan Nusantara tidak semestinya hanya dipandang sebagai peninggalan budaya atau benda bersejarah. Di balik kapal, rumah tradisional, sistem pengairan, pola permukiman hingga bangunan monumental, terdapat pengetahuan dan pengalaman manusia yang berkembang untuk menjawab berbagai persoalan kehidupan.
Gagasan tersebut menjadi pokok pemikiran dalam tulisan “Dekolonisasi Pemikiran — Seri 3: Nusantara Tidak Hanya Membangun Candi, Kapal, Rumah, Air, dan Teknologi Juga Menyimpan Pengetahuan” yang ditulis Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol di Jakarta, 29 September 2026.
Dalam tulisannya, MJP Hutagaol mengajak masyarakat mengubah cara melihat warisan Nusantara. Pertanyaan tidak hanya berhenti pada siapa yang membangun suatu peninggalan, tetapi juga mengenai pengetahuan apa yang diperlukan untuk membangun, mengoperasikan, mempertahankan dan mewariskannya.
“Peradaban tidak hanya meninggalkan tulisan. Peradaban meninggalkan cara memecahkan masalah,” demikian salah satu gagasan utama dalam tulisan tersebut.
Pinisi dan Pengetahuan Maritim
Salah satu contoh adalah Pinisi. UNESCO menetapkan “Pinisi, art of boatbuilding in South Sulawesi” dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 2017.
Tradisi pembuatan dan pengoperasian kapal tersebut menunjukkan adanya pengetahuan dan keterampilan yang diwariskan lintas generasi. Pinisi dapat dikaji dari aspek material, konstruksi, keseimbangan, layar, navigasi hingga mekanisme pewarisan pengetahuan.
Menurut MJP Hutagaol, pengetahuan tradisional tidak harus langsung dianggap lebih unggul daripada teknologi modern. Sebaliknya, pengetahuan tersebut dapat didokumentasikan, diukur, diuji dan dikembangkan.
Rumah dan Sistem Pengelolaan Air
Rumah tradisional seperti rumah panggung, joglo dan limasan juga dapat dibaca sebagai bentuk adaptasi masyarakat terhadap lingkungan. Bentuk bangunan, material, bukaan dan orientasinya dapat menjadi objek penelitian mengenai iklim, kondisi tanah, ventilasi dan kebutuhan kehidupan sehari-hari.
Demikian pula sistem pengelolaan air. Sistem pengairan tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga hubungan antara manusia, lingkungan, aturan sosial dan pembagian sumber daya.
Pertanyaan mengenai bagaimana air dialirkan, didistribusikan, diatur serta bagaimana konflik diselesaikan dapat menjadi bahan kajian lintas disiplin, mulai dari hidrologi, pertanian, ekologi hingga ilmu sosial.
Teknologi Tidak Selalu Berbentuk Mesin
Tulisan tersebut juga mengajak masyarakat memperluas pengertian mengenai teknologi. Teknologi tidak selalu berupa mesin, komputer, robot atau satelit. Pengetahuan dan keterampilan manusia dalam menyelesaikan persoalan juga dapat menjadi bagian dari sejarah teknologi.
Pembuatan kapal, pengolahan logam, pengelolaan air, pembangunan rumah, pengawetan makanan, pengolahan tanah hingga pembacaan musim dapat menjadi objek penelitian teknologi dan pengetahuan.
Namun, pendekatan terhadap warisan masa lalu tetap membutuhkan sikap kritis. Tidak perlu muncul klaim bahwa masyarakat Nusantara telah memiliki “ilmu modern” dalam pengertian yang sama dengan ilmu pengetahuan kontemporer. Yang penting adalah mengidentifikasi persoalan yang dihadapi masyarakat pada masanya dan bagaimana mereka mengembangkan cara untuk mengatasinya.
Pendekatan tersebut sekaligus menghindari dua ekstrem, yakni menganggap warisan masa lalu tidak memiliki nilai pengetahuan atau sebaliknya menganggap seluruh warisan leluhur pasti benar tanpa pengujian.
Dari Warisan Menjadi Data dan Pengetahuan
MJP Hutagaol mendorong perubahan cara pandang dari sekadar menyebut sesuatu sebagai warisan leluhur menuju proses penelitian yang terukur.
Ukuran, struktur, material, asal material, proses pembuatan, fungsi serta persoalan yang dipecahkan dapat didokumentasikan menjadi data. Data kemudian dapat dikembangkan menjadi pengetahuan dan menjadi dasar inovasi.
Dalam perspektif tersebut, Nusantara dapat dipandang sebagai laboratorium peradaban. Borobudur, misalnya, dapat dikaji tidak hanya dari sisi sejarah dan arkeologi, tetapi juga melalui arsitektur, teknik sipil, geologi, hidrologi, matematika dan ilmu material.
Demikian pula Pinisi dapat diteliti bersama para pembuat kapal yang mewarisi keterampilan tersebut, sementara rumah tradisional dan sistem air dapat dikaji melalui berbagai disiplin ilmu.
Dekolonisasi Pemikiran
Dekolonisasi pemikiran, menurut gagasan dalam tulisan tersebut, bukan berarti menolak pengetahuan dari Barat maupun Timur. Sebaliknya, berbagai sumber pengetahuan perlu dibaca secara terbuka dan diuji berdasarkan bukti serta metode ilmiah.
Tujuannya bukan membuktikan bahwa suatu bangsa lebih unggul dari bangsa lain, melainkan memahami sejarah pengetahuan manusia di Nusantara secara lebih utuh dan menjadikannya bahan untuk membangun pengetahuan baru.
“Warisan budaya dapat menjadi titik awal untuk penelitian, pengembangan teknologi dan penciptaan pengetahuan baru—selama dibaca secara kritis, terdokumentasi dan diuji berdasarkan bukti,” tulis MJP Hutagaol.
Tulisan “Dekolonisasi Pemikiran — Seri 3” menjadi pengantar menuju Seri 4: “Dari Warisan Menjadi Ilmu — Bagaimana Nusantara Mengubah Pengetahuan Lokal Menjadi Teknologi Masa Depan.”
Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol
Jakarta, 29 September 2026
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar