Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol Perkenalkan ESTOM Framework, Kerangka Intelijen Strategis Hadapi Persaingan Global Abad ke-21
- account_circle Suwoto
- calendar_month Minggu, 14 Jun 2026
- visibility 2.958
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes, Jakarta – Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol memperkenalkan sebuah konsep pemikiran strategis bertajuk ESTOM Framework (Environment, Sensing, Thinking, Operation, dan Maneuver) sebagai kerangka intelijen modern yang dinilai relevan dalam menghadapi dinamika persaingan global abad ke-21.
Dalam pemaparannya pada 2026, MJP Hutagaol menjelaskan bahwa perubahan geopolitik dunia, perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), persaingan energi, semikonduktor, data, ruang angkasa, hingga perang persepsi telah mengubah paradigma intelijen yang selama ini dikenal.
Menurutnya, intelijen modern tidak lagi hanya berfungsi sebagai pengumpul informasi, melainkan telah berkembang menjadi instrumen strategis yang mendukung pengambilan keputusan nasional secara multidomain.
“Persaingan antarnegara saat ini tidak hanya terjadi di medan perang konvensional, tetapi juga berlangsung di ruang siber, pusat data, laboratorium teknologi, pasar energi, media massa, dan ruang persepsi publik,” ungkap MJP Hutagaol.
Lima Pilar ESTOM
Dalam konsep tersebut, ESTOM terdiri atas lima tahapan utama yang saling terintegrasi.
Tahap pertama adalah Environment, yaitu memahami lingkungan strategis secara menyeluruh yang mencakup aspek geopolitik, ekonomi, energi, teknologi, data, siber, ruang angkasa, pertahanan, keamanan, hingga persepsi publik.
Tahap kedua adalah Sensing, yakni proses menangkap berbagai sinyal perubahan melalui beragam sumber intelijen seperti Human Intelligence (HUMINT), Signals Intelligence (SIGINT), Open Source Intelligence (OSINT), Cyber Intelligence, Artificial Intelligence, satelit, drone, serta analisis big data.
Selanjutnya adalah Thinking, yaitu proses mengubah informasi menjadi pengetahuan strategis melalui analisis intelijen, simulasi, penyusunan skenario, prediksi, hingga perumusan grand strategy nasional.
Tahap keempat, Operation, berfokus pada pelaksanaan strategi melalui berbagai instrumen negara, mulai dari diplomasi, ekonomi, teknologi, energi, keuangan, operasi siber, operasi informasi, hingga operasi militer multidomain.
Sementara tahap terakhir adalah Maneuver, yakni kemampuan melakukan adaptasi cepat terhadap perubahan lingkungan strategis melalui inovasi teknologi, perubahan kebijakan, diplomasi baru, restrukturisasi industri, maupun manuver ekonomi dan politik.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar