Waspada Tuberkulosis (TBC): Penyakit Menular yang Masih Mengancam, Namun Masih Bisa Disembuhkan
- account_circle Hapzon Effendi
- calendar_month Senin, 8 Jun 2026
- visibility 273
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes, Jakarta – Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu penyakit menular yang perlu mendapat perhatian serius dari masyarakat. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis ini umumnya menyerang paru-paru dan dapat menular melalui percikan dahak di udara saat penderita batuk, bersin, atau berbicara.
Meski sering dianggap sebagai penyakit masa lalu, faktanya TBC hingga saat ini masih menjadi tantangan kesehatan di Indonesia. Kurangnya pemahaman masyarakat terhadap gejala, pencegahan, dan pentingnya pengobatan yang tuntas menjadi salah satu faktor yang menyebabkan penularan terus terjadi.
Masyarakat diimbau untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami batuk yang tidak kunjung sembuh selama lebih dari dua minggu. Gejala lain yang sering menyertai antara lain demam berkepanjangan, keringat berlebih pada malam hari, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, tubuh lemas, serta berkurangnya nafsu makan.
Apabila tidak ditangani dengan baik, TBC dapat menyebabkan kerusakan paru-paru yang serius, menurunkan kualitas hidup penderita, bahkan berpotensi menimbulkan komplikasi pada organ tubuh lainnya
Selain berdampak pada kesehatan, TBC juga dapat memengaruhi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Penderita sering mengalami keterbatasan dalam bekerja maupun beraktivitas, sehingga produktivitas menurun. Tidak sedikit pula yang menghadapi stigma sosial akibat kurangnya pemahaman masyarakat mengenai penyakit ini.
Karena itu, edukasi yang tepat menjadi kunci untuk menghilangkan diskriminasi terhadap penderita TBC sekaligus mendorong mereka agar tidak takut menjalani pemeriksaan dan pengobatan.
Pencegahan TBC dapat dilakukan melalui berbagai langkah sederhana namun efektif. Di antaranya menjaga sirkulasi udara di dalam rumah, membuka jendela agar sinar matahari masuk, menerapkan etika batuk yang benar, menggunakan masker saat sakit, serta menjaga daya tahan tubuh dengan pola hidup sehat dan konsumsi makanan bergizi.
Pemerintah juga terus mendorong program imunisasi BCG bagi bayi sebagai salah satu upaya perlindungan terhadap bentuk TBC yang berat.
Di tengah kemajuan dunia medis, Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu penyakit menular paling mematikan di dunia. Berdasarkan laporan terbaru dari World Health Organization (WHO), pada tahun 2023 diperkirakan 1,25 juta orang meninggal dunia akibat TBC, menjadikannya kembali sebagai penyakit infeksi dengan jumlah kematian tertinggi di dunia, melampaui COVID-19. Selain itu, sekitar 10,8 juta orang tercatat jatuh sakit akibat TBC di seluruh dunia.
Kondisi ini menunjukkan bahwa TBC masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan global, terutama di negara-negara berkembang yang memiliki tantangan dalam akses layanan kesehatan, deteksi dini, dan kepatuhan pengobatan.
Indonesia saat ini menempati posisi kedua di dunia dengan beban kasus TBC tertinggi setelah India. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan yang mengacu pada Global TB Report 2024, diperkirakan terdapat sekitar 1,09 juta kasus TBC dengan sekitar 125.000 kematian setiap tahun akibat penyakit tersebut. Angka ini setara dengan sekitar 342 kematian setiap hari atau 14 kematian setiap jam akibat TBC di Indonesia.
Tingginya angka kematian tersebut sebagian besar disebabkan oleh keterlambatan diagnosis, rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan, serta masih adanya pasien yang tidak menyelesaikan pengobatan hingga tuntas.
Kabar baiknya, TBC merupakan penyakit yang dapat disembuhkan apabila penderita menjalani pengobatan secara disiplin dan tuntas sesuai petunjuk tenaga kesehatan. Pengobatan biasanya berlangsung selama enam bulan atau lebih, tergantung kondisi pasien.
Tenaga medis mengingatkan agar penderita tidak menghentikan konsumsi obat meskipun kondisi tubuh sudah terasa membaik. Pengobatan yang tidak tuntas berisiko menyebabkan bakteri menjadi kebal terhadap obat atau dikenal sebagai TBC Resistan Obat (MDR-TB), yang membutuhkan penanganan lebih lama dan lebih kompleks.
Keberhasilan pengobatan TBC tidak hanya bergantung pada pasien, tetapi juga dukungan keluarga dan lingkungan sekitar. Pendampingan dalam mengingatkan jadwal minum obat, memberikan motivasi, serta menciptakan lingkungan yang sehat menjadi faktor penting dalam proses penyembuhan.
Melalui kesadaran bersama, deteksi dini, dan kepatuhan menjalani pengobatan, upaya memutus rantai penularan TBC dapat dilakukan secara lebih efektif.
“TBC Bukan Aib dan Bisa Disembuhkan. Batuk Lebih dari Dua Minggu? Segera Periksa dan Obati Sampai Tuntas.”
Dari berbagai sumber.
Penulis: Hapzon Effendi
Jurnalis : Hapzon Effendi
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 9 September 2025 sebagai Jurnalis Pusat. Email : hapson.effendi@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar