Breaking News
light_mode
Trending HasTags
Beranda » Opini » Seri Kesadaran Nusantara II: Wangsit Siliwangi dan Makna Budak Angon, Mencari Kembali yang Berserak

Seri Kesadaran Nusantara II: Wangsit Siliwangi dan Makna Budak Angon, Mencari Kembali yang Berserak

  • account_circle Suwoto
  • calendar_month Senin, 31 Agt 2026
  • visibility 116
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MediaSuaraMabes | Jakarta — Tradisi dan ingatan kebudayaan Nusantara kembali menjadi bahan perenungan dalam Seri Kesadaran Nusantara II karya Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol bertajuk “Wangsit Siliwangi — Budak Angon: Ketika Yang Berserak Harus Dicari Kembali.” Tulisan tersebut bertanggal Jakarta, 28 Agustus 2026.

Dalam seri ini, Hutagaol mengajak pembaca melihat simbol Budak Angon dalam tradisi Sunda, termasuk berbagai versi yang dikenal sebagai Uga atau Wangsit Siliwangi, bukan semata-mata sebagai ramalan mengenai sosok yang akan hadir di masa depan. Ia menawarkan pembacaan filosofis bahwa Budak Angon dapat dimaknai sebagai simbol kesadaran untuk mencari kembali pengetahuan, nilai, dan ingatan peradaban yang tercecer dalam perjalanan sejarah.

Hutagaol juga menekankan perlunya membedakan antara tradisi dan fakta sejarah. Sosok Prabu Siliwangi memiliki posisi penting dalam ingatan kebudayaan Sunda dan lazim dikaitkan dengan Sri Baduga Maharaja dari Kerajaan Sunda-Pajajaran. Namun, berbagai teks yang berkembang sebagai Uga atau Wangsit Siliwangi telah melalui perjalanan panjang dalam tradisi sehingga tidak seluruh ungkapan yang beredar dapat dianggap sebagai ucapan historis Prabu Siliwangi.

“Sejarah tetap harus diperiksa sebagai sejarah. Tradisi harus dipahami sebagai tradisi. Tetapi tradisi dapat menyimpan sesuatu yang tidak kalah penting: ingatan peradaban.”

Budak Angon dan Ngorehan

Salah satu fokus tulisan adalah konsep ngorehan, yang secara filosofis ditempatkan sebagai tindakan mencari, menelusuri, dan menggali kembali sesuatu yang telah tercecer.

Dalam konteks kehidupan bangsa, Hutagaol menilai persoalan peradaban tidak hanya terjadi ketika wilayah, bahasa, atau kekuasaan hilang, tetapi juga ketika generasi penerus kehilangan pemahaman terhadap nilai yang pernah menopang kehidupan masyarakat.

Karena itu, ngorehan tidak dimaknai sebagai upaya menghidupkan kembali masa lalu secara harfiah, melainkan menyambungkan ingatan yang terputus, memeriksa nilai yang terlupakan, serta memilah warisan yang masih relevan untuk masa depan.

Simbol kalakay, daun tua yang jatuh dan kembali ke tanah, digunakan sebagai metafora bahwa masa lalu tidak selalu harus dibuang, tetapi juga tidak harus dihidupkan kembali secara utuh. Masa lalu perlu dibaca, diperiksa, dipilah, dan diambil sarinya.

Membaca Waktu dan Perubahan

Hutagaol turut mengangkat ungkapan “acan wayah”, yang dimaknai sebagai “belum waktunya”. Konsep ini digunakan untuk menggambarkan pentingnya membaca momentum dalam menghadapi perubahan.

Menurut gagasan tersebut, kemampuan melakukan sesuatu tidak selalu berarti tindakan itu tepat dilakukan saat itu juga. Kebijaksanaan juga membutuhkan kemampuan membaca kesiapan, keadaan, dan waktu.

Pemikiran ini dinilai relevan dengan perubahan sosial, teknologi, dan budaya yang berlangsung cepat. Perubahan yang terlalu lambat berisiko membuat masyarakat tertinggal, sementara perubahan yang terlalu cepat tanpa kesiapan dapat menimbulkan ketidakseimbangan.

Pajajaran Anyar sebagai Kesadaran

Gagasan Pajajaran Anyar juga dibahas dalam perspektif filosofis. Hutagaol tidak menempatkannya sebagai ajakan mengembalikan kerajaan masa lalu secara literal, melainkan sebagai upaya menggali kesadaran dari pengalaman peradaban Sunda.

Kesadaran tersebut antara lain menyangkut hubungan manusia dengan alam, tanggung jawab pemimpin, ingatan terhadap asal-usul, serta kemampuan memasuki zaman baru tanpa kehilangan jati diri.

Pada bagian akhir, pertanyaan kemudian bergeser dari “Siapa Budak Angon?” menjadi “Apakah masih ada manusia yang mau ngorehan?”

Peneliti yang membuka arsip, guru yang meneruskan pengetahuan kepada generasi baru, petani yang memadukan pengalaman leluhur dengan ilmu modern, maupun generasi muda yang mempelajari bahasa dan budayanya sambil tetap menerima kemajuan, disebut sebagai contoh laku ngorehan.

“Budak Angon tidak harus mempunyai satu wajah. Ia dapat hidup sebagai laku.”

Dalam rangkaian Seri Kesadaran Nusantara, Budak Angon ditempatkan sebagai simbol ngorehan—mencari kembali yang berserak. Gagasan ini melengkapi simbol sebelumnya, yakni Jayabaya sebagai membaca zaman, Sabdo Palon sebagai menjaga arah, dan Ranggawarsita melalui eling lan waspada sebagai kesadaran untuk tetap ingat dan waspada.

Rangkaian pemikiran tersebut kemudian mengarah pada tiga unsur: akal untuk memeriksa, budi untuk menimbang, dan laku untuk mewujudkan.

Pesan utama Seri Kesadaran Nusantara II bukan mengajak masyarakat kembali hidup seperti masa lampau, melainkan menjadikan masa lalu sebagai sumber pengalaman dan ingatan untuk menghadapi masa depan.

“Pohon tidak tumbuh dengan kembali menjadi akar. Tetapi tanpa akar, ia juga tidak akan pernah menjadi pohon.”

Seri Kesadaran Nusantara selanjutnya akan memasuki Seri III bertajuk “Mendengar Nusantara”, yang mengangkat pertanyaan mengenai kemungkinan adanya pesan kesadaran yang sama dalam bahasa dan kebudayaan yang berbeda.

MJP Hutagaol ’86
Jakarta, 28 Agustus 2026

— Bersambung —

Suwoto

Jurnalis :

Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Teladan Jaga Kedamaian, Kapolresta Pati Siraman Rohani dan Safari Subuh

    Teladan Jaga Kedamaian, Kapolresta Pati Siraman Rohani dan Safari Subuh

    • calendar_month Sabtu, 15 Agt 2026
    • account_circle Supriyono
    • visibility 168
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Pati – Kapolresta Pati, Kombes Pol. Sigit, S.I.K., M.H gencarkan siraman rohani dan memperkuat kedekatan dengan masyarakat melalui pendekatan keagamaan serta humanis. Sabtu (15/8/2026), Kapolresta Pati mengikuti kegiatan siraman rohani dan Safari Subuh di sejumlah masjid wilayah Kecamatan Winong, Kabupaten Pati. Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi, sekaligus menyampaikan pesan-pesan keamanan dan […]

  • Perkuat Pencegahan Karhutla, Polda Kalbar Edukasi Masyarakat Bahaya Pembakaran Lahan

    Perkuat Pencegahan Karhutla, Polda Kalbar Edukasi Masyarakat Bahaya Pembakaran Lahan

    • calendar_month Jumat, 25 Sep 2026
    • account_circle Hepni Jaya Kusuma
    • visibility 111
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Pontianak, Kalbar – Polda Kalbar melalui Satgas Pencegahan Operasi Aman Nusa II Karhutla Kapuas-2026 terus memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dengan memberikan edukasi langsung kepada masyarakat di sejumlah wilayah Kabupaten Kubu Raya, Rabu (23/9). Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 WIB tersebut menyasar masyarakat di Desa Sungai Raya Dalam, Parit […]

  • Polres Kampar Raih ‘Presisi award’ dari lemkapi – Dinilai Inovatif Dalam Pelayanan dan Penegakan Hukum photo_camera 2

    Polres Kampar Raih ‘Presisi award’ dari lemkapi – Dinilai Inovatif Dalam Pelayanan dan Penegakan Hukum

    • calendar_month Jumat, 31 Jul 2026
    • account_circle Anggiat Sianturi
    • visibility 138
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Kampar – Suasana penuh kebanggaan menghiasi Aula Sanika Satyawada Mapolres Kampar pada hari Kamis (30/7/2026) pukul 08.15 WIB, ketika Lembaga Kajian Strategis Kepolisian Indonesia (LEMKAPI) memberikan penghargaan bergengsi “Presisi Award” kepada Polres Kampar. Penghargaan ini menjadi bukti nyata bahwa kerja keras dan inovasi yang dilakukan oleh Polres Kampar dalam melayani masyarakat serta menegakkan […]

  • Atasi Karhutla Kapolres Ketapang Bersama Jajaran Forkopimda Turun Langsung Ke Wilayah Karhutla Di Kecamatan Matan Hilir Selatan

    Atasi Karhutla Kapolres Ketapang Bersama Jajaran Forkopimda Turun Langsung Ke Wilayah Karhutla Di Kecamatan Matan Hilir Selatan

    • calendar_month Selasa, 25 Agt 2026
    • account_circle A'ang Sanjaya
    • visibility 145
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Ketapang, Kalbar – Bersama Bupati Ketapang Alexander Wilyo, S.STP., M.Si., Ketua DPRD Ketapang H. Achmad Sholeh, S.T., M.Sos., Dandim 1203 Ketapang Letkol Inf Zulkarnaen Galib, S.H serta Kepala BPBD Ketapang Yunifar Purwantoro, S.STP, Kapolres Ketapang AKBP Muhammad Harris, S.H., S.I.K., M.I.K., CPHR., meninjau langsung lokasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kecamatan Matan […]

  • Supriyono Terpilih Secara Aklamasi sebagai Komandan Pleton Linmas Guyangan, Bangsri, Jepara

    Supriyono Terpilih Secara Aklamasi sebagai Komandan Pleton Linmas Guyangan, Bangsri, Jepara

    • calendar_month Minggu, 27 Sep 2026
    • account_circle Supriyono
    • visibility 101
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Jepara – Supriyono terpilih secara aklamasi sebagai Komandan Pleton (Danton) Satuan Perlindungan Masyarakat (Linmas) Desa Guyangan, Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara. Pemilihan tersebut berlangsung dalam rapat koordinasi dan musyawarah anggota Linmas yang digelar di Balai Desa Guyangan, Sabtu malam, 26 September 2026. Pemilihan Danton dilakukan menyusul berakhirnya masa tugas Komandan Pleton Linmas sebelumnya, Sukendro. […]

  • Energi dan Mineral Strategis, Fondasi Kedaulatan Indonesia di Tengah Perebutan Masa Depan Dunia

    Energi dan Mineral Strategis, Fondasi Kedaulatan Indonesia di Tengah Perebutan Masa Depan Dunia

    • calendar_month Jumat, 5 Jun 2026
    • account_circle Suwoto
    • visibility 351
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes, Jakarta – Di tengah percepatan perkembangan teknologi global, perebutan sumber daya strategis kini menjadi faktor utama yang menentukan arah peradaban dunia. Jika pada masa lalu kekuatan negara ditentukan oleh wilayah, kekuatan militer, dan kolonialisme fisik, maka abad ke-21 ditandai dengan persaingan penguasaan energi, mineral strategis, teknologi, serta rantai industri masa depan. Hal tersebut disampaikan […]

expand_less