Pengetahuan Nusantara Tak Selalu Hidup dalam Buku, tetapi Juga dalam Tutur dan Keterampilan
- account_circle Suwoto
- calendar_month Minggu, 6 Sep 2026
- visibility 141
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta — Pengetahuan dalam sebuah peradaban tidak selalu tersimpan dalam buku, manuskrip, maupun perpustakaan. Sebagian pengetahuan justru bertahan melalui ingatan, keterampilan, pengalaman, tradisi lisan, serta praktik kehidupan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Gagasan tersebut menjadi pokok pembahasan Pengetahuan Peradaban Nusantara Seri 4 berjudul “Ketika Pengetahuan Hidup Tanpa Buku: Dari Tutur, Keterampilan, Alam, hingga Laku Kehidupan”, yang ditulis Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol di Jakarta, 29 Agustus 2026.
Dalam seri tersebut, Hutagaol mengajak pembaca melihat pengetahuan Nusantara secara lebih luas. Sebelum tradisi tulis berkembang, masyarakat telah membangun pengetahuan melalui pengamatan terhadap alam, antara lain langit, laut, angin, air, tanah, tumbuhan, hewan, dan perubahan musim.
Pengetahuan itu tidak selalu berbentuk teori tertulis. Sebagian melekat dalam pengalaman dan keterampilan manusia. Salah satu contohnya adalah pembuatan perahu yang membutuhkan pemahaman mengenai jenis kayu, bentuk lambung, sambungan, keseimbangan, hingga karakteristik laut.
Kemampuan tersebut banyak diperoleh melalui latihan dan pengalaman. Dalam kajian pengetahuan modern, kondisi semacam itu dikenal sebagai tacit knowledge, yakni pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman dan keterampilan serta tidak selalu mudah dijelaskan sepenuhnya dengan kata-kata.
Alam sebagai Ruang Belajar
Masyarakat maritim dan agraris juga menunjukkan bagaimana alam menjadi ruang pembelajaran. Pelaut, misalnya, dituntut mampu membaca arah angin, arus, gelombang, awan, bintang, musim, serta kondisi garis pantai.
Sementara itu, petani mengamati hujan, kelembapan, kondisi tanah, air, tanaman, serangga, angin, dan perubahan musim untuk menentukan langkah dalam kegiatan pertanian.
Namun, pengetahuan yang diwariskan dari masa lalu tidak selalu dapat diterapkan secara sama pada kondisi saat ini. Perubahan iklim, lingkungan, teknologi, tanaman, dan pola kehidupan membuat pengetahuan tradisional perlu terus diperiksa dan disesuaikan.
Kearifan Lokal Perlu Dikaji
Hutagaol juga memberikan catatan mengenai istilah kearifan lokal. Menurut kerangka yang dibahas, sesuatu tidak semestinya dianggap benar hanya karena merupakan warisan leluhur.
Pengetahuan lokal dapat mengandung hal yang tepat, tetapi juga dapat mengalami perubahan, kehilangan, maupun kekeliruan. Karena itu, warisan pengetahuan perlu ditelaah dengan melihat apa yang diwariskan, bagaimana mekanisme pewarisannya, apa dampaknya, serta bukti yang mendukungnya.
Tradisi lisan seperti petuah, hikayat, legenda, nyanyian, genealogi, cerita perjalanan, dan pantangan dapat menjadi sumber penting untuk memahami ingatan masyarakat. Meski demikian, tradisi lisan tidak otomatis dapat diposisikan sebagai bukti sejarah.
Untuk memperoleh pemahaman yang lebih kuat, tradisi lisan dapat dibandingkan dengan naskah, prasasti, data arkeologi, kajian linguistik, bukti lingkungan, dan sumber sejarah lainnya.
Pengetahuan Dapat Hilang
Pewarisan pengetahuan juga berlangsung melalui proses belajar langsung. Melihat, mengikuti, mencoba, melakukan kesalahan, memperbaiki, dan mengulangi menjadi bagian dari proses seseorang menguasai keterampilan.
Pengetahuan tersebut kemudian dapat berkembang menjadi kebiasaan, ingatan motorik, kepekaan indera, serta kemampuan mengenali pola.
Hutagaol juga menyoroti risiko hilangnya pengetahuan ketika rantai pewarisan terputus. Seorang ahli yang meninggal tanpa penerus, perubahan bahasa, lingkungan, profesi, teknologi, maupun pola kehidupan dapat menyebabkan keterampilan tertentu ikut menghilang.
Karena itu, keberlanjutan pengetahuan tidak hanya bergantung pada isi pengetahuan, tetapi juga pada keberadaan pewaris, lembaga, kebutuhan, dan lingkungan yang mendukungnya.
Pada akhirnya, Seri 4 menekankan bahwa melestarikan warisan pengetahuan bukan berarti membekukan masyarakat agar hidup seperti masa lalu. Pengetahuan perlu didokumentasikan, dipahami, dibandingkan, dan diuji sepanjang memungkinkan.
Pengetahuan yang masih relevan dapat dipertahankan dan dikembangkan, sedangkan hal yang terbukti keliru atau tidak lagi sesuai dapat dikoreksi.
Seri ini sekaligus mengantarkan pembaca pada pembahasan berikutnya, Pengetahuan Peradaban Nusantara Seri 5: “Ketika Rasa Menjadi Sumber Pertanyaan”, yang akan membahas hubungan antara pengalaman manusia, intuisi, tafsir, kepercayaan, data, dan pembuktian.
Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol
Jakarta, 29 Agustus 2026
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar