Breaking News
light_mode
Trending HasTags
Beranda » Opini » Pengetahuan Nusantara Tak Selalu Hidup dalam Buku, tetapi Juga dalam Tutur dan Keterampilan

Pengetahuan Nusantara Tak Selalu Hidup dalam Buku, tetapi Juga dalam Tutur dan Keterampilan

  • account_circle Suwoto
  • calendar_month Minggu, 6 Sep 2026
  • visibility 194
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MediaSuaraMabes | Jakarta — Pengetahuan dalam sebuah peradaban tidak selalu tersimpan dalam buku, manuskrip, maupun perpustakaan. Sebagian pengetahuan justru bertahan melalui ingatan, keterampilan, pengalaman, tradisi lisan, serta praktik kehidupan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Gagasan tersebut menjadi pokok pembahasan Pengetahuan Peradaban Nusantara Seri 4 berjudul “Ketika Pengetahuan Hidup Tanpa Buku: Dari Tutur, Keterampilan, Alam, hingga Laku Kehidupan”, yang ditulis Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol di Jakarta, 29 Agustus 2026.

Dalam seri tersebut, Hutagaol mengajak pembaca melihat pengetahuan Nusantara secara lebih luas. Sebelum tradisi tulis berkembang, masyarakat telah membangun pengetahuan melalui pengamatan terhadap alam, antara lain langit, laut, angin, air, tanah, tumbuhan, hewan, dan perubahan musim.

Pengetahuan itu tidak selalu berbentuk teori tertulis. Sebagian melekat dalam pengalaman dan keterampilan manusia. Salah satu contohnya adalah pembuatan perahu yang membutuhkan pemahaman mengenai jenis kayu, bentuk lambung, sambungan, keseimbangan, hingga karakteristik laut.

Kemampuan tersebut banyak diperoleh melalui latihan dan pengalaman. Dalam kajian pengetahuan modern, kondisi semacam itu dikenal sebagai tacit knowledge, yakni pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman dan keterampilan serta tidak selalu mudah dijelaskan sepenuhnya dengan kata-kata.

Alam sebagai Ruang Belajar

Masyarakat maritim dan agraris juga menunjukkan bagaimana alam menjadi ruang pembelajaran. Pelaut, misalnya, dituntut mampu membaca arah angin, arus, gelombang, awan, bintang, musim, serta kondisi garis pantai.

Sementara itu, petani mengamati hujan, kelembapan, kondisi tanah, air, tanaman, serangga, angin, dan perubahan musim untuk menentukan langkah dalam kegiatan pertanian.

Namun, pengetahuan yang diwariskan dari masa lalu tidak selalu dapat diterapkan secara sama pada kondisi saat ini. Perubahan iklim, lingkungan, teknologi, tanaman, dan pola kehidupan membuat pengetahuan tradisional perlu terus diperiksa dan disesuaikan.

Kearifan Lokal Perlu Dikaji

Hutagaol juga memberikan catatan mengenai istilah kearifan lokal. Menurut kerangka yang dibahas, sesuatu tidak semestinya dianggap benar hanya karena merupakan warisan leluhur.

Pengetahuan lokal dapat mengandung hal yang tepat, tetapi juga dapat mengalami perubahan, kehilangan, maupun kekeliruan. Karena itu, warisan pengetahuan perlu ditelaah dengan melihat apa yang diwariskan, bagaimana mekanisme pewarisannya, apa dampaknya, serta bukti yang mendukungnya.

Tradisi lisan seperti petuah, hikayat, legenda, nyanyian, genealogi, cerita perjalanan, dan pantangan dapat menjadi sumber penting untuk memahami ingatan masyarakat. Meski demikian, tradisi lisan tidak otomatis dapat diposisikan sebagai bukti sejarah.

Untuk memperoleh pemahaman yang lebih kuat, tradisi lisan dapat dibandingkan dengan naskah, prasasti, data arkeologi, kajian linguistik, bukti lingkungan, dan sumber sejarah lainnya.

Pengetahuan Dapat Hilang

Pewarisan pengetahuan juga berlangsung melalui proses belajar langsung. Melihat, mengikuti, mencoba, melakukan kesalahan, memperbaiki, dan mengulangi menjadi bagian dari proses seseorang menguasai keterampilan.

Pengetahuan tersebut kemudian dapat berkembang menjadi kebiasaan, ingatan motorik, kepekaan indera, serta kemampuan mengenali pola.

Hutagaol juga menyoroti risiko hilangnya pengetahuan ketika rantai pewarisan terputus. Seorang ahli yang meninggal tanpa penerus, perubahan bahasa, lingkungan, profesi, teknologi, maupun pola kehidupan dapat menyebabkan keterampilan tertentu ikut menghilang.

Karena itu, keberlanjutan pengetahuan tidak hanya bergantung pada isi pengetahuan, tetapi juga pada keberadaan pewaris, lembaga, kebutuhan, dan lingkungan yang mendukungnya.

Pada akhirnya, Seri 4 menekankan bahwa melestarikan warisan pengetahuan bukan berarti membekukan masyarakat agar hidup seperti masa lalu. Pengetahuan perlu didokumentasikan, dipahami, dibandingkan, dan diuji sepanjang memungkinkan.

Pengetahuan yang masih relevan dapat dipertahankan dan dikembangkan, sedangkan hal yang terbukti keliru atau tidak lagi sesuai dapat dikoreksi.

Seri ini sekaligus mengantarkan pembaca pada pembahasan berikutnya, Pengetahuan Peradaban Nusantara Seri 5: “Ketika Rasa Menjadi Sumber Pertanyaan”, yang akan membahas hubungan antara pengalaman manusia, intuisi, tafsir, kepercayaan, data, dan pembuktian.

Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol
Jakarta, 29 Agustus 2026

Suwoto

Jurnalis :

Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sentinel Seri 11: Ketika Yang Diserang Bukan Satelitnya, Melainkan “Otak” di Bumi

    Sentinel Seri 11: Ketika Yang Diserang Bukan Satelitnya, Melainkan “Otak” di Bumi

    • calendar_month Jumat, 2 Okt 2026
    • account_circle Suwoto
    • visibility 122
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Jakarta — Ancaman terhadap sistem ruang angkasa tidak selalu dilakukan dengan menyerang satelit secara langsung. Di balik sebuah satelit terdapat ekosistem digital yang menghubungkan satelit dengan stasiun bumi, jaringan komunikasi, server, perangkat lunak, pusat data, operator hingga pengguna. Hal tersebut menjadi perhatian dalam SENTINEL Seri 11 yang ditulis Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol dengan […]

  • Semangat Juang Bhayangkara, Polres Humbahas Peringati Hari Juang Polri

    Semangat Juang Bhayangkara, Polres Humbahas Peringati Hari Juang Polri

    • calendar_month Minggu, 23 Agt 2026
    • account_circle Anton Anggiat Purba
    • visibility 170
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Humbahas – Kepolisian Resor Humbang Hasundutan menggelar upacara dalam rangka memperingati Hari Juang Kepolisian Republik Indonesia yang berlangsung khidmat di lapangan apel Polres Humbahas, Jumat (21/8/2026). Upacara tersebut dipimpin oleh Wakapolres Humbahas, Kompol Manson Nainggolan, S.H., M.Si., dan diikuti oleh jajaran Pejabat Utama (PJU) Polres Humbahas, serta seluruh personel, baik Perwira, Bintara, hingga […]

  • Media Gathering dan Diseminasi Pelayanan RSUD R.A. Kartini Jepara

    Media Gathering dan Diseminasi Pelayanan RSUD R.A. Kartini Jepara

    • calendar_month Jumat, 2 Okt 2026
    • account_circle Supriyono
    • visibility 91
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Jepara — Meskipun kinerja pelayanan RSUD R.A. Kartini Jepara terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, pihak rumah sakit menyadari bahwa pelayanan yang diberikan belum tentu dapat memenuhi seluruh harapan dan keinginan masyarakat. Karena itu, RSUD R.A. Kartini Jepara menyatakan terbuka terhadap berbagai saran, usulan, maupun kritik dari masyarakat. Masukan tersebut dapat disampaikan […]

  • Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Perawatan Tanaman Jagung Terus Dioptimalkan

    Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Perawatan Tanaman Jagung Terus Dioptimalkan

    • calendar_month Selasa, 27 Okt 2026
    • account_circle Hepni Jaya Kusuma
    • visibility 53
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Sanggau, Kalbar – Polsek Entikong terus mendukung program ketahanan pangan melalui perawatan tanaman jagung di lahan demplot yang berlokasi di Jalan Flamboyan, Dusun Entikong, Desa Entikong, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Senin (26/10). Kegiatan yang dipimpin Panit Reskrim Polsek Entikong Ipda Juliasan Syahputra bersama sejumlah personel tersebut difokuskan pada perawatan dua lahan demplot jagung […]

  • MASYARAKAT TEGAS !! Tolak Hasil Rapat Tali Asih PT. NPR, Tidak Diketahui Masyarakat dan Tidak di Hadiri Oleh Kades Karendan dan Kades Muara Pari

    MASYARAKAT TEGAS !! Tolak Hasil Rapat Tali Asih PT. NPR, Tidak Diketahui Masyarakat dan Tidak di Hadiri Oleh Kades Karendan dan Kades Muara Pari

    • calendar_month Jumat, 14 Agt 2026
    • account_circle Ron
    • visibility 98
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Barito Utara – Sikap Tegas Di Tunjukan Oleh Para Pemilik Lahan Sah Di Area Konsesi PPHK Lahan Sah Di Area Konsesi PPHK 281 PT. NUSA PERSADA RESOURCES (NPR). Mereka Menyatakan Penolakan Keras Terhadap Poin Kesimpulan Rapat Tertutup Yang Di Pimpin Oleh Camat Lahei Bersama Ormas Perkumpulan Karendan Bersatu Membangun (PKBM) Pada Senin (10/08/2026). […]

  • Pimpin Apel Gelar Pasukan Karhutla, Dir Samapta Polda Kalbar Tekankan Kesiapsiagaan

    Pimpin Apel Gelar Pasukan Karhutla, Dir Samapta Polda Kalbar Tekankan Kesiapsiagaan

    • calendar_month Kamis, 13 Agt 2026
    • account_circle Hepni Jaya Kusuma
    • visibility 97
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Pontianak, Kalbar — Direktorat Samapta Polda Kalimantan Barat melaksanakan apel gelar pasukan dan perlengkapan dalam rangka kesiapsiagaan penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), Selasa (11/8/2026). Apel dipimpin langsung oleh Direktur Samapta Polda Kalbar Kombes Pol Arief Budiman, S.H., S.I.K., dan diikuti personel Ditsamapta, termasuk personel Sipammat (SAR). Dalam arahannya, Arief menekankan pentingnya kesiapan […]

expand_less