Bentang Peradaban Nusantara: Menelusuri Jejak Bumi, Manusia Dan Peradaban Hingga Indonesia Abad Ke 21
- account_circle Suwoto
- calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
- visibility 390
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol
MediaSuaraMabes | Jakarta – Sundaland, Atlantis, Lemuria, hingga Supervolcano Toba: Membaca Sejarah Nusantara dari Perspektif Geologi dan Peradaban. Sejarah Nusantara tidak dapat dilepaskan dari perubahan bentang alam yang berlangsung selama jutaan tahun. Wilayah yang kini dikenal sebagai kepulauan Indonesia pernah mengalami perubahan geografis besar, termasuk ketika sebagian daratan Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya masih terhubung dalam satu kawasan daratan yang dikenal secara ilmiah sebagai Sundaland atau Paparan Sunda.
Dalam buku Bentang Peradaban Nusantara: Menelusuri Jejak Bumi, Manusia, dan Peradaban dari Awal Pembentukan Nusantara hingga Indonesia Abad ke-21, Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol mengajak pembaca menelusuri hubungan antara dinamika bumi, migrasi manusia, serta perkembangan peradaban di kawasan Nusantara.
Pembahasan tersebut menjadi bagian dari Bab II: Bentang Alam Melahirkan Bentang Kehidupan, khususnya mengenai Sundaland dan berbagai hipotesis tentang peradaban masa lampau.
Pada puncak Zaman Es terakhir atau Last Glacial Maximum, sekitar 26.000 hingga 19.000 tahun lalu, permukaan laut dunia diperkirakan berada jauh lebih rendah dibandingkan kondisi saat ini. Sebagian besar air bumi tersimpan dalam lapisan es di kawasan kutub.
Kondisi tersebut menyebabkan wilayah yang kini menjadi Laut Jawa, Selat Karimata, Selat Malaka, dan Laut Natuna masih berupa daratan yang relatif luas. Kawasan tersebut menghubungkan sejumlah wilayah yang saat ini telah terpisah oleh laut.
Dalam kajian geologi, kawasan dasar benua tersebut dikenal sebagai Paparan Sunda (Sunda Shelf), sedangkan daratan yang muncul akibat rendahnya permukaan laut disebut Sundaland.
Perubahan iklim dan mencairnya lapisan es pada akhir Zaman Es kemudian menyebabkan permukaan laut naik secara bertahap. Daratan yang sebelumnya saling terhubung akhirnya terpisah menjadi pulau-pulau dan membentuk bentang geografis Asia Tenggara seperti yang dikenal saat ini.
Perubahan tersebut tidak hanya mengubah peta kawasan, tetapi juga berpengaruh terhadap jalur migrasi manusia, persebaran flora dan fauna, serta pola kehidupan masyarakat purba.
Dalam perspektif sejarah manusia, perubahan lingkungan tersebut menjadi bagian penting dalam proses adaptasi manusia terhadap lingkungan maritim. Wilayah pesisir dan laut secara bertahap berkembang menjadi ruang kehidupan, perdagangan, mobilitas, dan interaksi antarkelompok manusia.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar