Muharram dan 1 Suro: Ketika Islam dan Kebijaksanaan Nusantara Bertemu dalam Harmoni Peradaban
- account_circle Suwoto
- calendar_month Rabu, 17 Jun 2026
- visibility 366
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Introspeksi dan Penyempurnaan Akhlak
Dalam perkembangannya, berbagai tradisi budaya tumbuh di tengah masyarakat. Namun esensi utama dari Muharram maupun 1 Suro sesungguhnya terletak pada perjalanan batin manusia.
Islam mengajarkan makna hijrah sebagai upaya meninggalkan keburukan menuju kebaikan, meninggalkan kezaliman menuju keadilan, meninggalkan kebencian menuju kasih sayang, serta meninggalkan kesombongan menuju kerendahan hati.
Sementara dalam filosofi Jawa dikenal konsep eling lan waspada, yakni selalu mengingat Tuhan dan senantiasa mawas diri terhadap hawa nafsu serta godaan dunia.
Kedua nilai tersebut bertemu dalam satu tujuan yang sama, yaitu membentuk manusia yang berakhlak mulia dan mampu memperbaiki dirinya secara berkelanjutan.
Momentum Muhasabah Bangsa
Momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriah dan 1 Suro dinilai tidak seharusnya berhenti sebagai seremoni tahunan atau sekadar pergantian kalender.
Lebih dari itu, momen ini dapat menjadi sarana muhasabah nasional bagi seluruh elemen bangsa untuk meninjau kembali perjalanan Indonesia dengan kejujuran dan kebijaksanaan.
Di tengah berbagai dinamika sosial, politik, ekonomi, dan hukum yang berkembang, kepercayaan publik menjadi fondasi penting dalam menjaga persatuan bangsa.
Indonesia membutuhkan lebih banyak keteladanan daripada kebencian, lebih banyak persaudaraan daripada permusuhan, serta lebih banyak integritas daripada sekadar retorika.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar