Morowali Dinilai Menjadi Titik Strategis Perebutan Fondasi Peradaban Abad ke-21
- account_circle Suwoto
- calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
- visibility 307
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Hilirisasi Harus Berorientasi Nilai Tambah
Selain menyoroti pentingnya nikel, MJP Hutagaol juga menekankan bahwa keberhasilan Indonesia tidak cukup hanya diukur dari besarnya cadangan mineral maupun nilai investasi yang masuk.
Menurutnya, ukuran keberhasilan sesungguhnya adalah kemampuan Indonesia meningkatkan nilai tambah di dalam negeri melalui hilirisasi, penguasaan teknologi, pengembangan riset, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga lahirnya industri nasional yang mampu bersaing di tingkat internasional.
Ia berpandangan bahwa Indonesia harus memanfaatkan momentum tersebut untuk membangun ekosistem industri yang utuh sehingga tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga menjadi pelaku utama dalam rantai nilai industri global.
Momentum Menuju Kekuatan Industri Baru
Dalam bagian penutup tulisannya, MJP Hutagaol menyebut Morowali sebagai simbol perubahan arah pembangunan nasional di tengah transformasi energi dunia.
Ia menilai kawasan tersebut dapat menjadi titik awal lahirnya Indonesia sebagai kekuatan industri baru apabila mampu mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan dengan didukung inovasi, penguasaan teknologi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Menurutnya, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh besarnya kekayaan alam yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan bangsa dalam mengelola sumber daya tersebut menjadi kekuatan ekonomi, industri, dan teknologi demi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
(Suwoto)
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar