Breaking News
light_mode
Trending HasTags
Beranda » Opini » Ketika Entropi Membaca Indonesia: Sistem yang Tak Dirawat Perlahan Kehilangan Keteraturan

Ketika Entropi Membaca Indonesia: Sistem yang Tak Dirawat Perlahan Kehilangan Keteraturan

  • account_circle Suwoto
  • calendar_month Selasa, 1 Sep 2026
  • visibility 138
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MediaSuaraMabes | Jakarta — Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol mengajak masyarakat melihat persoalan organisasi, pemerintahan, dan pembangunan melalui perspektif konsep entropi dalam fisika. Gagasan tersebut dituangkan dalam tulisan berjudul “Ketika Entropi Membaca Indonesia”, bertanggal Jakarta, 30 Agustus 2026.

Hutagaol menegaskan, entropi dalam tulisannya digunakan sebagai analogi pemikiran, bukan sebagai rumus untuk mengukur negara, pemerintahan maupun masyarakat. Analogi tersebut digunakan untuk menjelaskan bahwa keteraturan dalam sebuah sistem membutuhkan pemeliharaan, pengawasan, koreksi dan pembaruan secara berkelanjutan.

“Keteraturan tidak merawat dirinya sendiri.”

Kompleksitas Bukan Persoalan Utama

Dalam perspektif Hutagaol, kompleksitas sebuah negara tidak selalu menjadi masalah. Negara modern memang membutuhkan pembagian fungsi antara pemerintah pusat dan daerah, kementerian dan lembaga, dunia usaha serta masyarakat.

Persoalan muncul ketika kompleksitas tersebut tidak lagi memberikan manfaat yang sebanding dengan energi yang dibutuhkan untuk mengelolanya.

Karena itu, menurutnya, tantangan strategis bukan sekadar menyederhanakan sistem, melainkan membedakan antara kompleksitas yang diperlukan dan ketidakteraturan yang diwariskan.

“Sistem yang kompleks dapat sangat teratur. Sebaliknya, sistem yang tampak sederhana dapat berantakan,” tulisnya.

Hutagaol menyoroti risiko kompleksitas tanpa fungsi, tumpang tindih tanpa nilai serta prosedur yang tidak lagi memiliki tujuan jelas.

Data sebagai Contoh

Pengelolaan data menjadi salah satu contoh yang digunakan untuk menggambarkan persoalan tersebut.

Dalam kebijakan pangan, misalnya, pemerintah membutuhkan data mengenai produksi, stok, lokasi penyimpanan, kebutuhan masyarakat, kapasitas gudang hingga harga di tingkat produsen dan konsumen.

Jika setiap institusi menggunakan definisi, metode pencatatan, waktu pembaruan atau basis data yang berbeda, energi dapat terserap hanya untuk menentukan data mana yang dapat dipercaya.

Menurut Hutagaol, persoalan tersebut bukan sekadar administratif. Data yang tidak tertata dapat menghasilkan pembacaan yang keliru, yang kemudian berpotensi memengaruhi kualitas pengambilan keputusan.

Karena itu, pemeliharaan kualitas data dinilai menjadi bagian penting dari kemampuan negara mengambil keputusan secara efektif.

Ketangguhan Ditentukan Kemampuan Memperbaiki Diri

Hutagaol juga menekankan bahwa ketangguhan negara bukan berarti terbebas dari gangguan atau kesalahan. Tidak ada sistem maupun kebijakan yang selalu sempurna dan relevan sepanjang waktu.

Ketangguhan justru terlihat dari kemampuan mendeteksi persoalan lebih awal, melakukan koreksi, belajar dari kegagalan dan menyesuaikan diri sebelum masalah berkembang menjadi lebih sulit dikendalikan.

Dalam konteks tersebut, pemeliharaan dipandang sama pentingnya dengan pembangunan.

Pembangunan infrastruktur, lembaga, aturan maupun teknologi perlu disertai mekanisme evaluasi agar tetap berfungsi dan relevan. Ia juga menyoroti kecenderungan membuat aturan atau aplikasi baru tanpa cukup mengevaluasi sistem lama, kualitas data, interoperabilitas dan tata kelolanya.

Menghubungkan Entropi dengan ESTOM

Gagasan pemeliharaan sistem tersebut kemudian dihubungkan dengan kerangka ESTOM, yang sebelumnya dibahas Hutagaol.

ESTOM terdiri atas Environment, Sensing, Thinking, Operation, dan Maneuver. Environment berkaitan dengan pembacaan lingkungan strategis; Sensing menangkap fakta, gejala dan perubahan; Thinking menganalisis keadaan dan menentukan keputusan; Operation berkaitan dengan pelaksanaan; sedangkan Maneuver menggambarkan kemampuan menyesuaikan tindakan ketika realitas kembali berubah.

Dalam kerangka tersebut, kemampuan belajar menjadi unsur penting bagi keberlangsungan sistem.

Menurut Hutagaol, persoalan paling serius bukan ketika sebuah sistem melakukan kesalahan, karena kesalahan dapat terjadi pada sistem apa pun. Masalah menjadi lebih berbahaya ketika sistem tidak lagi mampu mengetahui bahwa dirinya melakukan kesalahan.

Pembangunan Harus Disertai Pemeliharaan

Melalui tulisan tersebut, Hutagaol mengajak pembaca memperluas perspektif pembangunan nasional. Pertanyaannya tidak hanya apa yang harus dibangun, tetapi juga apa yang harus dirawat, diperbaiki, diperbarui, bahkan dilepaskan ketika sudah tidak relevan.

Analogi entropi memberikan peringatan bahwa kerusakan sistem tidak selalu diawali oleh persoalan besar. Ketidakteraturan dapat tumbuh dari masalah kecil yang dibiarkan berulang hingga akhirnya menjadi kebiasaan.

Pada akhirnya, gagasan tersebut menekankan bahwa bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang mampu membangun, tetapi juga mampu merawat, memperbaiki, memperbarui dan terus belajar.

Catatan ilmiah: Dalam tulisan ini, entropi digunakan sebagai titik awal dan analogi pemikiran. Dalam termodinamika, entropi memiliki definisi fisik dan matematis yang spesifik. Penggunaannya dalam pembahasan organisasi, pemerintahan dan negara tidak dimaksudkan sebagai persamaan fisika ataupun hukum sosial.

Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol
Jakarta, 30 Agustus 2026

Suwoto

Jurnalis :

Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Manuskrip Nusantara Menyimpan Jejak Pengetahuan Peradaban, dari La Galigo hingga Bujangga Manik

    Manuskrip Nusantara Menyimpan Jejak Pengetahuan Peradaban, dari La Galigo hingga Bujangga Manik

    • calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
    • account_circle Suwoto
    • visibility 132
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Jakarta — Manuskrip Nusantara bukan sekadar peninggalan tulisan masa lalu. Naskah-naskah tersebut menjadi sumber penting untuk memahami pengetahuan, tata kehidupan, nilai sosial, bahasa, sastra, hingga cara masyarakat Nusantara memandang lingkungan dan kehidupan. Hal itu menjadi bagian dari Pengetahuan Peradaban Nusantara Seri 3: Ketika Pengetahuan Tersimpan dalam Naskah — Membaca Kembali Manuskrip Nusantara di […]

  • Proyek Peningkatan Jalan Mentoro-Arjosari Pacitan Dikebut, Target Rampung Akhir November 2026

    Proyek Peningkatan Jalan Mentoro-Arjosari Pacitan Dikebut, Target Rampung Akhir November 2026

    • calendar_month Kamis, 15 Okt 2026
    • account_circle Asmawi
    • visibility 103
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Pacitan — Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Pacitan terus mempercepat pengerjaan peningkatan infrastruktur ruas Jalan Mentoro–Arjosari (melalui area Banjarsari). Hingga pertengahan Oktober 2026, realisasi pekerjaan fisik dilaporkan telah mencapai 30 persen. ​Proyek senilai Rp8.875.840.593 ini didanai melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) APBN 2026 dan dikerjakan oleh kontraktor lokal, CV Setyo […]

  • BEM Mahasiswa Se Sumatra Barat Mengutuk Keras Pernyataan Abu Janda

    BEM Mahasiswa Se Sumatra Barat Mengutuk Keras Pernyataan Abu Janda

    • calendar_month Selasa, 2 Jun 2026
    • account_circle Wajidi Adiansyah
    • visibility 268
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes, Pariaman – Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sumatera Barat (Sumbar) mengutuk keras pernyataan pegiat media sosial Permadi Arya alias Abu Janda yang menyebut masyarakat Sumatra Barat (Sumbar) sebagai kelompok “barbar”. Mereka mengambil pernyataan sikap itu setelah potongan video Abu Janda yang membahas isu intoleransi viral di media sosial. Dalam video tersebut ia menyamakan singkatan […]

  • Hilirisasi Harus Berujung pada Kedaulatan Industri, Indonesia Perlu Audit Kapasitas dan Risiko Pasokan

    Hilirisasi Harus Berujung pada Kedaulatan Industri, Indonesia Perlu Audit Kapasitas dan Risiko Pasokan

    • calendar_month Jumat, 23 Okt 2026
    • account_circle Suwoto
    • visibility 90
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Jakarta – Hilirisasi industri perlu diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, tetapi juga untuk memperkuat penguasaan teknologi, meningkatkan daya saing produksi, dan mengurangi risiko ketergantungan pada rantai pasok global. Pandangan tersebut disampaikan MJP Hutagaol ’86 dalam tulisan bertajuk “Indonesia: Dari Hilirisasi Menuju Kedaulatan Industri — Strategi Nasional Menghadapi Risiko […]

  • Kazidam III/Siliwangi Lepas Tim Karate Kodam III/Siliwangi Menuju Indonesia Open Championship Piala Presiden 2026

    Kazidam III/Siliwangi Lepas Tim Karate Kodam III/Siliwangi Menuju Indonesia Open Championship Piala Presiden 2026

    • calendar_month Jumat, 26 Jun 2026
    • account_circle Achmad Arif Rachman
    • visibility 156
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Bandung – Tim Karate Kodam III/Siliwangi secara resmi dilepas untuk mengikuti Indonesia Open Championship Piala Presiden Tahun 2026 yang akan dilaksanakan pada 26 – 28 Juni 2026 di Gedung Serba Guna (GSG) Universitas Lampung, Provinsi Lampung. Acara pelepasan berlangsung di Mazidam III/Siliwangi, Kamis (25/6/2026). Sebagai bentuk dukungan dan motivasi kepada seluruh atlet yang akan […]

  • Tim Penagihan BRI Finance Bantah Tuduhan Pengeroyokan dalam Insiden di Kafe Nordu Ketapang photo_camera 2

    Tim Penagihan BRI Finance Bantah Tuduhan Pengeroyokan dalam Insiden di Kafe Nordu Ketapang

    • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
    • account_circle Hepni Jaya Kusuma
    • visibility 391
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Ketapang, Kalimantan Barat – Tim penagihan (debt collector) yang mengaku mendapat penugasan resmi dari PT BRI Finance membantah tuduhan pengeroyokan yang beredar di media sosial terkait insiden di Kafe Nordu, Kota Ketapang, Kalimantan Barat. Perwakilan tim penagihan menyatakan bahwa narasi mengenai dugaan pengeroyokan yang disampaikan oleh salah satu pihak tidak sesuai dengan fakta […]

expand_less