Ketika Entropi Membaca Indonesia: Sistem yang Tak Dirawat Perlahan Kehilangan Keteraturan
- account_circle Suwoto
- calendar_month Selasa, 1 Sep 2026
- visibility 87
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta — Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol mengajak masyarakat melihat persoalan organisasi, pemerintahan, dan pembangunan melalui perspektif konsep entropi dalam fisika. Gagasan tersebut dituangkan dalam tulisan berjudul “Ketika Entropi Membaca Indonesia”, bertanggal Jakarta, 30 Agustus 2026.
Hutagaol menegaskan, entropi dalam tulisannya digunakan sebagai analogi pemikiran, bukan sebagai rumus untuk mengukur negara, pemerintahan maupun masyarakat. Analogi tersebut digunakan untuk menjelaskan bahwa keteraturan dalam sebuah sistem membutuhkan pemeliharaan, pengawasan, koreksi dan pembaruan secara berkelanjutan.
“Keteraturan tidak merawat dirinya sendiri.”
Kompleksitas Bukan Persoalan Utama
Dalam perspektif Hutagaol, kompleksitas sebuah negara tidak selalu menjadi masalah. Negara modern memang membutuhkan pembagian fungsi antara pemerintah pusat dan daerah, kementerian dan lembaga, dunia usaha serta masyarakat.
Persoalan muncul ketika kompleksitas tersebut tidak lagi memberikan manfaat yang sebanding dengan energi yang dibutuhkan untuk mengelolanya.
Karena itu, menurutnya, tantangan strategis bukan sekadar menyederhanakan sistem, melainkan membedakan antara kompleksitas yang diperlukan dan ketidakteraturan yang diwariskan.
“Sistem yang kompleks dapat sangat teratur. Sebaliknya, sistem yang tampak sederhana dapat berantakan,” tulisnya.
Hutagaol menyoroti risiko kompleksitas tanpa fungsi, tumpang tindih tanpa nilai serta prosedur yang tidak lagi memiliki tujuan jelas.
Data sebagai Contoh
Pengelolaan data menjadi salah satu contoh yang digunakan untuk menggambarkan persoalan tersebut.
Dalam kebijakan pangan, misalnya, pemerintah membutuhkan data mengenai produksi, stok, lokasi penyimpanan, kebutuhan masyarakat, kapasitas gudang hingga harga di tingkat produsen dan konsumen.
Jika setiap institusi menggunakan definisi, metode pencatatan, waktu pembaruan atau basis data yang berbeda, energi dapat terserap hanya untuk menentukan data mana yang dapat dipercaya.
Menurut Hutagaol, persoalan tersebut bukan sekadar administratif. Data yang tidak tertata dapat menghasilkan pembacaan yang keliru, yang kemudian berpotensi memengaruhi kualitas pengambilan keputusan.
Karena itu, pemeliharaan kualitas data dinilai menjadi bagian penting dari kemampuan negara mengambil keputusan secara efektif.
Ketangguhan Ditentukan Kemampuan Memperbaiki Diri
Hutagaol juga menekankan bahwa ketangguhan negara bukan berarti terbebas dari gangguan atau kesalahan. Tidak ada sistem maupun kebijakan yang selalu sempurna dan relevan sepanjang waktu.
Ketangguhan justru terlihat dari kemampuan mendeteksi persoalan lebih awal, melakukan koreksi, belajar dari kegagalan dan menyesuaikan diri sebelum masalah berkembang menjadi lebih sulit dikendalikan.
Dalam konteks tersebut, pemeliharaan dipandang sama pentingnya dengan pembangunan.
Pembangunan infrastruktur, lembaga, aturan maupun teknologi perlu disertai mekanisme evaluasi agar tetap berfungsi dan relevan. Ia juga menyoroti kecenderungan membuat aturan atau aplikasi baru tanpa cukup mengevaluasi sistem lama, kualitas data, interoperabilitas dan tata kelolanya.
Menghubungkan Entropi dengan ESTOM
Gagasan pemeliharaan sistem tersebut kemudian dihubungkan dengan kerangka ESTOM, yang sebelumnya dibahas Hutagaol.
ESTOM terdiri atas Environment, Sensing, Thinking, Operation, dan Maneuver. Environment berkaitan dengan pembacaan lingkungan strategis; Sensing menangkap fakta, gejala dan perubahan; Thinking menganalisis keadaan dan menentukan keputusan; Operation berkaitan dengan pelaksanaan; sedangkan Maneuver menggambarkan kemampuan menyesuaikan tindakan ketika realitas kembali berubah.
Dalam kerangka tersebut, kemampuan belajar menjadi unsur penting bagi keberlangsungan sistem.
Menurut Hutagaol, persoalan paling serius bukan ketika sebuah sistem melakukan kesalahan, karena kesalahan dapat terjadi pada sistem apa pun. Masalah menjadi lebih berbahaya ketika sistem tidak lagi mampu mengetahui bahwa dirinya melakukan kesalahan.
Pembangunan Harus Disertai Pemeliharaan
Melalui tulisan tersebut, Hutagaol mengajak pembaca memperluas perspektif pembangunan nasional. Pertanyaannya tidak hanya apa yang harus dibangun, tetapi juga apa yang harus dirawat, diperbaiki, diperbarui, bahkan dilepaskan ketika sudah tidak relevan.
Analogi entropi memberikan peringatan bahwa kerusakan sistem tidak selalu diawali oleh persoalan besar. Ketidakteraturan dapat tumbuh dari masalah kecil yang dibiarkan berulang hingga akhirnya menjadi kebiasaan.
Pada akhirnya, gagasan tersebut menekankan bahwa bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang mampu membangun, tetapi juga mampu merawat, memperbaiki, memperbarui dan terus belajar.
Catatan ilmiah: Dalam tulisan ini, entropi digunakan sebagai titik awal dan analogi pemikiran. Dalam termodinamika, entropi memiliki definisi fisik dan matematis yang spesifik. Penggunaannya dalam pembahasan organisasi, pemerintahan dan negara tidak dimaksudkan sebagai persamaan fisika ataupun hukum sosial.
Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol
Jakarta, 30 Agustus 2026
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar