Kajian Risalatul Mu’awanah, Ustadz Faisol Ajak Perkuat Ukhuwah Islamiyah
- account_circle Hapzon Effendi
- calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
- visibility 237
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Bogor – Suasana penuh kekhusyukan menyelimuti Masjid Rabiatul Adawiyah, Cileungsi, Kabupaten Bogor, usai pelaksanaan Sholat Subuh berjamaah, Ahad (28/6/2026). Ratusan jamaah mengikuti kajian rutin Kitab Risalatul Mu’awanah yang disampaikan oleh Ustadz Faisol bin Yunus.
Mengawali tausiyahnya, Ustadz Faisol mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SWT karena masih diberikan nikmat iman, kesehatan, serta kesempatan melaksanakan Sholat Subuh berjamaah. Beliau juga mendoakan agar amal ibadah para jamaah menjadi pembuka pintu ampunan, keberkahan, dan rezeki yang halal, sehingga kelak Allah SWT memudahkan langkah menuju Baitullah untuk menunaikan ibadah haji maupun umrah.
Memasuki pembahasan Kitab Risalatul Mu’awanah, Ustadz Faisol menekankan pentingnya memiliki sifat kasih sayang (rahmah) kepada seluruh makhluk ciptaan Allah, terlebih kepada sesama kaum muslimin. Menurutnya, seorang mukmin hendaknya mampu berlapang dada, bahkan terhadap orang yang memusuhinya.
“Kasih sayang Allah jauh lebih besar dibandingkan kasih sayang manusia. Betapa banyak dosa yang kita lakukan, namun Allah tidak langsung menurunkan azab kepada kita. Karena itu, jangan mudah menyimpan kebencian kepada orang lain,” ungkapnya.
Beliau mengingatkan bahwa ketika seseorang disakiti, bisa jadi Allah SWT sedang menguji kualitas keimanan sekaligus mengangkat derajatnya. Oleh sebab itu, setiap muslim dianjurkan untuk lebih banyak mengoreksi diri daripada sibuk mencari kesalahan orang lain.
Setiap menjelang tidur, jamaah diajak melakukan muhasabah, mengevaluasi diri dan mengingat kembali apakah selama beraktivitas telah menyakiti hati saudara sesama muslim. Semua amal, kata beliau, berawal dari niat yang tulus sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Innamal a’malu binniyat” (Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya).
Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Faisol juga menyoroti fenomena umat Islam yang lebih mengedepankan hawa nafsu, fanatisme kelompok, hingga mudah membid’ahkan atau bahkan mengkafirkan sesama muslim. Menurutnya, kondisi tersebut justru menjadi pemicu lahirnya perpecahan di tengah umat.
Beliau mencontohkan akhlak para ulama besar seperti Imam Malik dan Imam Syafi’i yang tetap saling menghormati meski memiliki perbedaan pandangan dalam fiqih. Perbedaan, katanya, seharusnya menjadi rahmat, bukan alasan untuk saling bermusuhan.
“Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin rendah egonya dan semakin kecil potensi perpecahannya,” pesannya.
Kajian juga menekankan pentingnya belajar ilmu tauhid kepada guru yang memiliki sanad keilmuan yang benar agar tidak mudah memberikan vonis kafir kepada orang lain. Ustadz Faisol mengingatkan bahwa wafatnya para ulama saleh merupakan salah satu tanda diangkatnya ilmu oleh Allah SWT.
Dalam pembahasan ibadah, beliau menjelaskan bahwa setiap gerakan sholat memiliki makna yang sangat dalam. Mulai dari niat ketika berwudhu hingga bacaan Wajjahtu Wajhiya, seluruhnya harus dihayati dengan menghadirkan kesadaran bahwa Allah SWT senantiasa melihat hamba-Nya.
Menjelang akhir kajian, Ustadz Faisol mengajak seluruh jamaah untuk membersihkan hati dari rasa benci, memperbanyak istighfar, menebarkan senyum, serta membiasakan mengucapkan salam kepada sesama. Beliau mengutip teladan Imam Syafi’i yang berusaha mencapai kondisi hati tanpa menyimpan kebencian kepada siapa pun.
“Hidup adalah perjuangan. Teruslah berjuang di jalan Allah SWT, meneruskan ajaran Rasulullah SAW, hingga kelak kita dikumpulkan bersama beliau dan memperoleh syafaatnya di hari kiamat,” tutup Ustadz Faisol.
Kajian Subuh rutin di Masjid Rabiatul Adawiyah ini menjadi salah satu sarana memperkuat ukhuwah Islamiyah sekaligus menambah pemahaman agama bagi masyarakat. Diharapkan, nilai-nilai kasih sayang, keikhlasan, dan persaudaraan yang disampaikan dalam kajian tersebut dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Wallahu a’lam bishawab.
Penulis: Hapzon Effendi, S.Pd.


Jurnalis : Hapzon Effendi
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 9 September 2025 sebagai Jurnalis Pusat. Email : hapson.effendi@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar