GERILYA KOGNITIF SERI 7: Deepfake Ancam Kepercayaan Publik, Wajah dan Suara Kini Bisa Direkayasa AI
- account_circle Suwoto
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 57
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Verifikasi Menjadi Pertahanan Utama
Menghadapi kondisi tersebut, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dengan memeriksa sumber pertama, membandingkan informasi dengan media kredibel dan kanal resmi, serta memastikan kesesuaian waktu, tempat, dan konteks peristiwa.
Permintaan uang atau instruksi penting melalui telepon dan video juga perlu dikonfirmasi melalui saluran komunikasi lain. Sementara itu, pemeriksaan forensik digital oleh tenaga kompeten diperlukan apabila keaslian konten berkaitan dengan persoalan hukum.
Hutagaol mengingatkan bahwa ketidakwajaran gerakan bibir atau suara dapat menjadi petunjuk awal, tetapi bukan bukti pasti sebuah video merupakan deepfake.
Indonesia Perlu Memperkuat Pertahanan Digital
Menurutnya, penguatan pertahanan digital perlu mencakup peningkatan kemampuan forensik digital, literasi AI, perlindungan identitas, mekanisme klarifikasi informasi, serta kerja sama pemerintah, aparat penegak hukum, perguruan tinggi, perusahaan teknologi, media, dan masyarakat.
Upaya tersebut juga harus tetap menghormati kebebasan pers, kritik yang sah, dan hak masyarakat menyampaikan pendapat.
Dalam kerangka Perang Fondasi, Hutagaol menempatkan tiga unsur utama, yakni energi, data, dan persepsi. Energi menopang kemampuan teknologi dan komputasi, data menjadi bahan pembentukan konten, sedangkan persepsi merupakan ruang tempat informasi memengaruhi pemahaman dan keputusan manusia.
Ketiganya saling berkaitan dalam perubahan lanskap persaingan informasi digital.
Kebenaran Harus Diuji, Bukan Sekadar Dipercayai
Melalui Gerilya Kognitif Seri 7, Hutagaol menegaskan pentingnya menjaga kemampuan berpikir kritis di tengah kemajuan AI. Teknologi dapat meniru wajah dan suara, tetapi masyarakat tetap harus menguji informasi berdasarkan fakta, bukti, dan konteks.
Tantangan Indonesia bukan hanya menguasai teknologi kecerdasan buatan, melainkan juga membangun masyarakat yang tangguh menghadapi manipulasi informasi.
Pesan utama: Kebenaran harus diuji melalui fakta, bukti, dan akal sehat.
Media Suara Mabes (MSM) – Lugas, Tegas & Terpercaya.
Sumber rujukan: Kepolisian Negara Republik Indonesia (Januari dan Februari 2025); OJK/Satgas PASTI (15 November 2025); UNESCO (2021); United Nations (Global Principles for Information Integrity, Juni 2024).
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar