Gerilya Kognitif Seri 6: Algoritma dan AI Dinilai Jadi Pengganda Pengaruh di Ruang Digital
- account_circle Suwoto
- calendar_month 9 jam yang lalu
- visibility 66
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
AI Membawa Peluang sekaligus Risiko
Kecerdasan buatan memiliki kemampuan membantu produksi tulisan, gambar, suara, video, penerjemahan, hingga analisis data. Namun, teknologi yang sama berpotensi disalahgunakan untuk membuat identitas tiruan, memanipulasi materi audiovisual, dan memproduksi informasi menyesatkan dalam skala besar.
Dalam konteks tersebut, Hutagaol mengacu pada publikasi OECD berjudul Facts not Fakes: Tackling Disinformation, Strengthening Information Integrity (2024), yang membahas tantangan disinformasi dan pentingnya menjaga integritas informasi.
Ia juga menyoroti kemungkinan kombinasi AI dan algoritma dalam mempercepat produksi serta distribusi konten. Meski demikian, konten viral tidak serta-merta menunjukkan adanya operasi pengaruh yang terorganisasi. Kesimpulan mengenai manipulasi harus didasarkan pada bukti yang dapat diperiksa dan dipertanggungjawabkan.
Literasi AI dan Kedaulatan Digital Indonesia
Hutagaol menilai Indonesia perlu memperkuat kemampuan dalam memahami, mengembangkan, dan mengawasi teknologi digital secara mandiri.
Sejumlah aspek yang perlu mendapat perhatian meliputi literasi digital dan AI, pendidikan keamanan siber, kemampuan analisis informasi, pengembangan talenta teknologi nasional, transparansi sistem digital, serta perlindungan data pribadi.
Kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, industri, media massa, dan masyarakat juga dinilai penting untuk membangun ekosistem digital yang sehat dan bertanggung jawab.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar