Gerilya Kognitif Seri 2: MJP Hutagaol Ungkap Mekanisme Perang Perebutan Persepsi di Era Digital
- account_circle Suwoto
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 25
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta – Perkembangan teknologi digital, media sosial, algoritma, dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah membuka ruang persaingan baru dalam membentuk persepsi, kepercayaan, hingga keputusan masyarakat. Ancaman manipulasi informasi kini menjadi tantangan serius yang perlu dihadapi melalui literasi digital dan ketahanan berpikir.
Hal tersebut menjadi perhatian Brigjen (Purn) MJP Hutagaol dalam tulisannya bertajuk “Gerilya Kognitif Seri 2: Bagaimana Operasi Gerilya Kognitif Bekerja? Dari Informasi Sederhana Menuju Perebutan Persepsi dan Keputusan.”
Dalam kajiannya, MJP Hutagaol menjelaskan bahwa operasi pengaruh tidak selalu dimulai dari berita bohong. Manipulasi dapat berawal dari fakta yang benar, tetapi dipilih sebagian, dilepaskan dari konteks, kemudian disajikan melalui penafsiran tertentu sehingga membentuk pemahaman yang menyesatkan.
Ia menekankan bahwa masyarakat harus mampu membedakan fakta, interpretasi, dan manipulasi informasi. Kritik terhadap pemerintah maupun perbedaan pendapat merupakan bagian dari demokrasi, sedangkan penyembunyian sumber, penggunaan identitas palsu, dan pemutarbalikan fakta secara sengaja merupakan praktik yang patut diwaspadai.
LIMA TAHAP MEKANISME OPERASI PENGARUH
Dalam tulisan tersebut, mekanisme operasi pengaruh dijelaskan melalui lima tahap analitis, yaitu memahami situasi sosial yang berkembang, membentuk narasi, menyebarkan informasi melalui berbagai kanal, memperkuat kesan melalui pengulangan pesan, serta memengaruhi sikap dan keputusan masyarakat.
Menurutnya, informasi yang berulang kali muncul di berbagai platform belum tentu berasal dari sumber independen. Banyaknya unggahan dan interaksi digital juga tidak otomatis membuktikan kebenaran suatu informasi.
Emosi seperti kemarahan, ketakutan, dan rasa terancam dapat dimanfaatkan untuk menarik perhatian publik. Sementara itu, algoritma media sosial dan teknologi AI memungkinkan konten diproduksi serta didistribusikan dengan lebih cepat, termasuk gambar, suara, dan video manipulatif.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar