GERILYA KOGNITIF SERI 10: Brigjen (Purn) MJP. Hutagaol Tekankan Pentingnya Ketahanan Akal Hadapi Manipulasi Informasi
- account_circle Suwoto
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 41
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes.co.id | Jakarta – Perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dan semakin kompleksnya penyebaran informasi di media sosial menuntut masyarakat memiliki kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terpengaruh manipulasi informasi.
Hal tersebut menjadi pokok pemikiran Brigjen (Purn) MJP. Hutagaol dalam tulisan Gerilya Kognitif Seri 10 berjudul “Ketahanan Akal: Membangun Masyarakat yang Tidak Mudah Dimanipulasi”, yang ditulis di Jakarta pada 5 November 2026.
Hutagaol menegaskan, kekuatan bangsa tidak hanya ditentukan oleh teknologi, kekuatan militer, dan pertumbuhan ekonomi. Kemampuan masyarakat menjaga kejernihan berpikir, memverifikasi informasi, serta mengambil keputusan secara mandiri juga menjadi bagian penting dari ketahanan nasional.
Menurutnya, algoritma media sosial dan perkembangan AI memungkinkan penyebaran tulisan, gambar, suara, maupun video yang terlihat meyakinkan, tetapi belum tentu sesuai dengan fakta.
Karena itu, masyarakat perlu membiasakan diri membedakan fakta, opini, dugaan, dan manipulasi. Informasi yang viral, disampaikan berulang kali, atau memperoleh banyak dukungan di media sosial tidak otomatis dapat dianggap benar.
Tujuh Kebiasaan Membangun Ketahanan Akal
Dalam tulisannya, Hutagaol menguraikan tujuh kebiasaan untuk memperkuat ketahanan akal, yaitu:
- Tidak terburu-buru bereaksi terhadap informasi yang memancing emosi.
- Memeriksa sumber dan kredibilitas penerbit informasi.
- Membandingkan informasi dengan sumber terpercaya lainnya.
- Membedakan fakta dengan pendapat.
- Mengenali pengaruh emosi dan keyakinan pribadi.
- Bersedia menerima koreksi berdasarkan bukti baru.
- Tidak menjadikan popularitas, jumlah pengikut, dan tanda suka sebagai ukuran kebenaran.
Kebiasaan tersebut diperlukan untuk mengurangi risiko masyarakat terjebak provokasi, disinformasi, dan manipulasi persepsi.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar