Dekolonisasi Pemikiran: Saat Nusantara Kembali Menemukan Cara Berpikirnya Sendiri
- account_circle Suwoto
- calendar_month Rabu, 30 Sep 2026
- visibility 100
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta – Indonesia didorong untuk tidak hanya menjadi konsumen teori dan pengetahuan dari luar negeri, tetapi juga menggali, meneliti, serta mengembangkan pengetahuan yang lahir dari pengalaman sejarah dan masyarakat Nusantara.
Gagasan tersebut disampaikan Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol dalam tulisan bertajuk “Dekolonisasi Pemikiran: Ketika Nusantara Kembali Menemukan Cara Berpikirnya Sendiri”, tertanggal 29 September 2026.
Menurut MJP Hutagaol, dekolonisasi pemikiran bukan berarti menolak ilmu pengetahuan Barat ataupun menganggap seluruh pengetahuan leluhur otomatis lebih unggul. Sebaliknya, bangsa Indonesia perlu membaca berbagai sumber pengetahuan secara kritis, mengujinya, dan mengembangkan pemikiran berdasarkan pengalaman serta kondisi sendiri.
“Baca Barat. Baca Nusantara. Uji keduanya. Lalu berpikir dengan kepala sendiri,” demikian salah satu gagasan yang ditekankan dalam tulisannya.
Borobudur sebagai Sumber Pertanyaan Ilmiah
Salah satu contoh yang diangkat adalah Candi Borobudur, warisan budaya yang menyimpan banyak peluang penelitian lintas disiplin ilmu.
Selain nilai religius dan sejarahnya, Borobudur dapat dikaji untuk memahami pengetahuan dan teknik yang memungkinkan bangunan tersebut berdiri. Pertanyaan penelitian antara lain mencakup pengukuran, pengolahan material, metode konstruksi, pengelolaan air dan drainase, serta penyesuaian bangunan dengan kondisi lingkungan.
Pertanyaan tersebut, menurut gagasan dalam tulisan itu, perlu dijawab melalui penelitian ilmiah, bukan kesimpulan yang terburu-buru mengenai penggunaan konsep atau teknologi modern pada masa lampau.
Dengan demikian, Borobudur tidak hanya dipandang sebagai warisan arkeologis dan keagamaan, tetapi juga sebagai sumber pembelajaran mengenai teknologi, organisasi kerja, material, dan konstruksi masyarakat masa lalu.
Membaca Pengetahuan di Balik Warisan
Pendekatan serupa dapat diterapkan terhadap naskah kuno, prasasti, rumah tradisional, sistem pertanian, teknologi pelayaran, tata ruang, serta pengelolaan air yang diwariskan antargenerasi.
Warisan tersebut tidak cukup hanya dilestarikan, tetapi juga dapat diteliti untuk memahami pengetahuan yang terkandung di dalamnya.
Rumah tradisional, misalnya, dapat dikaji dari aspek struktur, material, ventilasi, dan adaptasi terhadap iklim. Sementara itu, teknologi kapal tradisional dapat menjadi objek penelitian mengenai desain dan pengalaman pelayaran masyarakat Nusantara.
Kerangka yang ditawarkan adalah mengembangkan proses data menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi pemikiran, pemikiran menjadi teori, dan teori menjadi inovasi.
Dekolonisasi Bukan Anti-Barat
MJP Hutagaol menekankan bahwa dekolonisasi pemikiran bukan gerakan untuk membuang teori dari luar negeri. Pengetahuan global tetap dapat dipelajari dan digunakan selama relevan, sementara pengetahuan lokal perlu diuji melalui penelitian dan dibandingkan dengan temuan ilmiah lainnya.
Pendekatan ini menghindarkan bangsa dari dua kecenderungan: menganggap pengetahuan luar sebagai satu-satunya sumber kebenaran atau menerima seluruh warisan leluhur tanpa pengujian kritis.
Tujuannya bukan membangun kebanggaan sejarah tanpa dasar, melainkan memperkuat kemampuan intelektual bangsa dalam memahami pengalaman sendiri dan menghasilkan pengetahuan baru.
Menjadikan Masa Lalu sebagai Bekal Masa Depan
Dekolonisasi pemikiran bukan ajakan untuk kembali hidup seperti masa lalu. Sebaliknya, sejarah ditempatkan sebagai sumber pembelajaran untuk membangun masa depan.
Borobudur tidak sekadar dikagumi sebagai bangunan bersejarah, tetapi juga dapat terus diteliti. Naskah kuno perlu dipahami berdasarkan konteks zamannya, sementara pemikiran tokoh pendidikan seperti Ki Hajar Dewantara dapat dikaji untuk menggali gagasan yang lahir dari pengalaman masyarakat Indonesia.
Pada akhirnya, Indonesia tetap dapat belajar dari dunia sekaligus berkontribusi dalam percakapan global melalui penelitian dan pengetahuan yang berakar pada pengalaman Nusantara.
MJP Hutagaol menegaskan bahwa bangsa Indonesia tidak perlu menolak pengetahuan Barat, tetapi perlu berhenti menganggap bahwa pengetahuan tentang Indonesia harus selalu datang dari luar negeri.
Gagasan ini menjadi pengantar menuju seri berikutnya, “Borobudur — Ilmu yang Terkunci di Dalam Batu”, yang akan membahas Borobudur dari perspektif pengukuran, geometri, konstruksi, material, tata air, tanah, struktur, dan organisasi pekerjaan.
Sebab, sebuah peradaban tidak hanya meninggalkan bangunan, tetapi juga cara berpikir.
Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol
Jakarta, 29 September 2026
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar