Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol Perkenalkan Konsep “Perang Fondasi”, Energi, Data, dan Persepsi Disebut Jadi Penentu Konflik Abad ke-21
- account_circle Suwoto
- calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
- visibility 411
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes, Jakarta – Perubahan lanskap geopolitik dan perkembangan teknologi global dinilai telah menggeser karakter konflik modern dari peperangan fisik menuju pengendalian sistem yang lebih kompleks dan tidak selalu terlihat secara kasat mata.
Pandangan tersebut disampaikan Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol melalui sebuah kajian strategis berjudul “Energy, Data, and Perception as the Core of 21st Century Conflict” yang memperkenalkan konsep Perang Fondasi sebagai kerangka baru dalam memahami dinamika konflik global kontemporer.
Menurut Hutagaol, selama ini berbagai konsep seperti Hybrid Warfare, Cyber Warfare, dan Information Warfare lebih banyak menjelaskan metode atau cara tekanan dilakukan. Namun, konsep Perang Fondasi berupaya menjawab pertanyaan yang lebih mendasar, yakni apa yang sebenarnya harus dikendalikan agar sebuah negara dapat dipengaruhi tanpa harus dihancurkan secara fisik.
“Negara tidak lagi harus dihancurkan untuk dikalahkan. Pengendalian terhadap fondasi yang menggerakkan, mengarahkan, dan menentukan keputusan dalam sistem memungkinkan arah suatu negara dipengaruhi tanpa perang terbuka,” tulis Hutagaol dalam kajiannya.
Tiga Fondasi Kekuatan Modern
Dalam konsep tersebut, Hutagaol mengidentifikasi tiga elemen utama yang menjadi fondasi sistem modern, yaitu energi, data, dan persepsi.
Energi dipandang sebagai sumber tekanan struktural yang menentukan kemampuan sistem untuk tetap berjalan. Ketidakpastian terhadap akses energi, menurutnya, dapat memicu volatilitas ekonomi yang berujung pada tekanan kebijakan dan keterbatasan pilihan strategis suatu negara.
Sementara itu, data disebut sebagai fondasi yang menentukan arah sistem. Penguasaan data memungkinkan pemetaan kelemahan, prediksi perilaku, hingga intervensi secara presisi tanpa harus melakukan konfrontasi terbuka.
Adapun persepsi berperan dalam membentuk legitimasi dan memengaruhi pengambilan keputusan. Melalui narasi, opini publik, dan ekosistem informasi, persepsi dapat menentukan ruang gerak politik maupun strategi sebuah negara.
“Energi menciptakan tekanan, data mengarahkan tekanan, dan persepsi melegitimasi tekanan. Ketiganya membentuk kendali atas sistem,” jelasnya.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar