Borobudur, Puncak Peradaban Nusantara: Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol Kupas Jejak Kejayaan Jawa Kuno
- account_circle Suwoto
- calendar_month Minggu, 2 Agt 2026
- visibility 193
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta – Borobudur tidak hanya dikenal sebagai candi Buddha terbesar di dunia, tetapi juga merupakan simbol puncak pencapaian Peradaban Nusantara. Pandangan tersebut menjadi benang merah dalam Bab III buku Bentang Peradaban Nusantara karya Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol yang mengulas kawasan candi Jawa Kuno sebagai salah satu pusat peradaban terbesar di Asia.
Dalam naskah tersebut dijelaskan bahwa kemunculan puluhan candi monumental di Jawa Tengah bukanlah peristiwa yang terjadi secara kebetulan. Keberadaannya merupakan hasil perpaduan antara kondisi geografis yang subur, pemerintahan yang stabil, kemajuan ekonomi, penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi konstruksi, organisasi sosial yang matang, serta berkembangnya nilai budaya dan spiritual masyarakat pada masanya.
Menurut MJP Hutagaol, kawasan candi Jawa Kuno mencerminkan lahirnya sebuah ekosistem peradaban yang mampu menghasilkan karya monumental yang hingga kini tetap dikagumi dunia.
Borobudur ditempatkan sebagai mahakarya yang melampaui fungsi keagamaan. Bangunan tersebut dipandang sebagai bukti tingginya kemampuan masyarakat Nusantara dalam bidang arsitektur, teknik sipil, seni pahat, tata ruang, matematika, geometri, manajemen pembangunan, hingga filsafat.
Melalui lebih dari 2.600 panel relief dan ratusan arca Buddha, Borobudur juga merekam berbagai aspek kehidupan masyarakat Jawa Kuno, mulai dari aktivitas pertanian, perdagangan, pelayaran, seni, hingga kehidupan sosial. Relief kapal bercadik, misalnya, menjadi salah satu bukti kemampuan maritim masyarakat Nusantara yang telah terlibat dalam jaringan perdagangan internasional sejak lebih dari seribu tahun silam.
Dalam pembahasannya, penulis juga menempatkan Borobudur dalam konteks hubungan antarperadaban Asia. Pada abad ke-7 hingga ke-9 Masehi, Nusantara berada di jalur strategis perdagangan dunia yang menghubungkan India, Tiongkok, Asia Tenggara, hingga Timur Tengah melalui Jalur Sutra Maritim.
Jaringan tersebut mempertemukan Sriwijaya sebagai pusat maritim dan pendidikan Buddha dengan Mataram Kuno sebagai pusat agraris yang melahirkan karya-karya arsitektur monumental. Hubungan intelektual Sriwijaya dengan Universitas Nalanda di India serta catatan perjalanan biksu Tiongkok Yijing menjadi bukti bahwa Nusantara telah menjadi bagian penting dalam jaringan pendidikan internasional pada masanya.
Selain mengulas latar belakang sejarah pembangunan Borobudur, buku ini juga menyoroti hubungan antara Dinasti Syailendra dan Dinasti Sanjaya yang sama-sama memberi kontribusi besar terhadap perkembangan peradaban Jawa Kuno. Meski memiliki afiliasi keagamaan yang berbeda, kedua dinasti dinilai mampu melahirkan lanskap budaya yang memperlihatkan harmoni antara tradisi Buddha dan Hindu.
Pembahasan turut mengangkat perjalanan Borobudur pada era modern, mulai dari proses penemuan kembali pada abad ke-19, pemugaran besar yang didukung UNESCO, hingga penetapannya sebagai Warisan Dunia pada 1991. Borobudur kini dipandang bukan hanya sebagai situs sejarah, tetapi juga sebagai simbol identitas bangsa, laboratorium ilmu pengetahuan, pusat kegiatan spiritual, serta instrumen diplomasi budaya Indonesia di tingkat global.
Penulis menegaskan bahwa kejayaan sebuah bangsa tidak hanya diukur melalui kekuatan politik, ekonomi, atau militer, melainkan juga dari kemampuannya melahirkan ilmu pengetahuan, karya budaya, serta nilai-nilai kemanusiaan yang memberi manfaat bagi dunia.
Bab ini menjadi pengantar menuju pembahasan berikutnya mengenai Candi Prambanan dan kawasan candi Hindu Jawa Kuno. Melalui kajian tersebut, penulis ingin menunjukkan bahwa kejayaan Nusantara dibangun oleh sebuah ekosistem peradaban yang memadukan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, toleransi, kepemimpinan, dan spiritualitas sebagai fondasi utama lahirnya peradaban yang besar dan berkelanjutan.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar