Breaking News
light_mode
Trending HasTags
Beranda » Opini » Mazhab Nusantara: Menelusuri Jejak Cara Berpikir Masyarakat Nusantara dari Alam hingga Kehidupan Sosial

Mazhab Nusantara: Menelusuri Jejak Cara Berpikir Masyarakat Nusantara dari Alam hingga Kehidupan Sosial

  • account_circle Suwoto
  • calendar_month Minggu, 11 Okt 2026
  • visibility 93
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MediaSuaraMabes | Jakarta — Apakah Nusantara memiliki cara berpikir sendiri yang dapat dikembangkan menjadi landasan pemikiran untuk menghadapi tantangan masa depan? Pertanyaan tersebut menjadi pokok pembahasan dalam Seri 3 Mazhab Nusantara karya MJP Hutagaol ’86, yang mengajak pembaca menelaah warisan pengetahuan, tata kehidupan sosial, pengalaman sejarah, dan nilai spiritual masyarakat Nusantara secara kritis.

Tulisan bertajuk “Apakah Nusantara Memiliki Cara Berpikir Sendiri?” ini mengangkat pentingnya membaca warisan Nusantara bukan semata-mata sebagai peninggalan sejarah, melainkan juga sebagai sumber pembelajaran untuk memahami perkembangan pengetahuan dan kehidupan manusia.

Berbagai peninggalan, seperti Borobudur, jaringan maritim Sriwijaya, sejarah Majapahit, tradisi pembuatan kapal Pinisi, serta sistem pertanian Subak di Bali, menjadi contoh untuk menelusuri hubungan antara pengalaman manusia, lingkungan, organisasi sosial, dan perkembangan peradaban.

Namun, penulis menegaskan bahwa keberadaan warisan tersebut belum dengan sendirinya membuktikan adanya satu sistem pemikiran Nusantara yang seragam.

Dalam pembahasannya, MJP Hutagaol ’86 mengingatkan bahwa Nusantara terdiri atas beragam masyarakat dengan bahasa, adat, kepercayaan, kondisi geografis, dan pengalaman sejarah yang berbeda.

Masyarakat pesisir, agraris, dan pegunungan menghadapi tantangan lingkungan yang tidak sama. Perbedaan tersebut turut membentuk pengetahuan serta tata kehidupan masing-masing komunitas.

Karena itu, upaya merumuskan Mazhab Nusantara perlu bertolak dari penelitian terhadap pengalaman konkret masyarakat, bukan dari anggapan bahwa seluruh masyarakat di kepulauan Indonesia sejak dahulu mempunyai pola pikir yang identik.

Pendekatan tersebut penting agar gagasan Mazhab Nusantara tidak berhenti pada kebanggaan terhadap identitas budaya, tetapi berkembang menjadi kajian yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Salah satu pembahasan utama dalam tulisan ini adalah hubungan antara manusia dan lingkungan.

Sistem Subak di Bali, misalnya, memperlihatkan bahwa pengelolaan irigasi tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis pertanian. Sistem tersebut juga melibatkan kelembagaan petani, pengaturan distribusi air, koordinasi, serta tanggung jawab bersama.

Sementara itu, tradisi pembuatan Pinisi oleh masyarakat Sulawesi Selatan memperlihatkan perkembangan keterampilan dalam pemilihan bahan, konstruksi kapal, serta pengetahuan yang berkaitan dengan pelayaran.

Kedua contoh tersebut memberikan ruang untuk mempelajari bagaimana pengalaman lokal menghasilkan pengetahuan yang diwariskan dan dikembangkan antargenerasi.

Dalam konteks masa kini, pengetahuan semacam itu dapat menjadi bahan penelitian untuk mendukung pembahasan mengenai ketahanan pangan, pengelolaan sumber daya air, keberlanjutan lingkungan, dan pengembangan teknologi.

Warisan lokal, menurut arah pemikiran yang dibahas dalam tulisan ini, tidak harus dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan modern. Keduanya dapat dipertemukan melalui penelitian, pengujian, dan pengembangan yang bertanggung jawab.

Selain hubungan manusia dengan alam, tulisan tersebut menyoroti kehidupan bersama sebagai salah satu bidang penting dalam kajian Mazhab Nusantara.

Gotong royong, musyawarah, adat, dan pembagian tanggung jawab merupakan sejumlah praktik sosial yang dikenal dalam berbagai masyarakat di Indonesia.

Praktik-praktik tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran mengenai cara masyarakat mengelola kepentingan bersama, menyelesaikan perbedaan, dan membangun kesepakatan.

Meski demikian, penulis mengingatkan bahwa tradisi tidak selalu identik dengan keadilan. Kualitas musyawarah, misalnya, bergantung pada keterlibatan pihak-pihak yang berkepentingan, kesempatan menyampaikan pendapat, dan pertanggungjawaban atas keputusan yang dihasilkan.

Oleh sebab itu, nilai kebersamaan perlu dikembangkan tanpa mengabaikan kebebasan individu, hak masyarakat, ruang kritik, dan prinsip keadilan.

Pendekatan kritis tersebut menjadi penting dalam kehidupan Indonesia modern, ketika masyarakat dihadapkan pada persoalan perbedaan kepentingan, tata kelola publik, dan kebutuhan memperkuat partisipasi warga.

Pembahasan berikutnya menempatkan Sriwijaya dan Majapahit sebagai bagian dari sejarah perkembangan masyarakat Nusantara.

Sriwijaya dikenal melalui keterkaitannya dengan jaringan maritim, perdagangan, dan pembelajaran di Asia. Sementara itu, Majapahit meninggalkan sumber sejarah penting mengenai kehidupan politik dan kebudayaan pada masanya.

Kedua contoh tersebut membuka ruang penelitian mengenai hubungan antardaerah, pengelolaan kekuasaan, pertukaran pengetahuan, dan perkembangan organisasi sosial.

Namun, kebesaran suatu kerajaan tidak otomatis membuktikan keberadaan satu filsafat yang dianut secara seragam oleh seluruh masyarakatnya.

Untuk memahami pemikiran yang berkembang pada suatu masa, diperlukan kajian terhadap prasasti, naskah, artefak, bukti arkeologis, dan sumber sejarah lain sesuai konteksnya.

Dengan demikian, sejarah tidak hanya menjadi sarana mengenang kejayaan masa lalu, tetapi juga menjadi bahan untuk memahami bagaimana peradaban dibangun, bagaimana kekuasaan dijalankan, dan bagaimana pengetahuan berkembang.

Tulisan Seri 3 Mazhab Nusantara juga mengangkat dimensi spiritual dalam kehidupan manusia.

Berbagai tradisi kepercayaan, adat, dan agama di Nusantara mempunyai sejarah serta ajaran yang berbeda. Perbedaan tersebut perlu dihormati dan dipelajari berdasarkan sumber yang relevan.

Pembahasan mengenai spiritualitas diarahkan pada pertanyaan tentang bagaimana pandangan hidup memengaruhi kewajiban moral, tanggung jawab sosial, hubungan manusia dengan lingkungan, serta penggunaan pengetahuan dan kekuasaan.

Dalam konteks ini, kemajuan ilmu pengetahuan dan ekonomi juga perlu dibahas bersama persoalan etika dan tanggung jawab kemanusiaan.

Pendekatan tersebut tidak dimaksudkan untuk menyamakan seluruh tradisi spiritual, melainkan untuk memahami perannya dalam membentuk pengalaman dan kehidupan masyarakat Nusantara.

Salah satu penegasan utama dalam tulisan MJP Hutagaol ’86 adalah bahwa keberadaan berbagai warisan pengetahuan dan nilai sosial belum cukup untuk menyatakan bahwa Mazhab Nusantara telah terbukti sebagai satu mazhab pemikiran yang utuh.

Gagasan tersebut masih memerlukan perumusan prinsip yang jelas, penelitian lintas wilayah, perbandingan sumber sejarah, serta pengujian terhadap berbagai temuan.

Kajian itu setidaknya dapat mencakup lima bidang, yakni pengetahuan lokal dan lingkungan, tata kehidupan bersama, hubungan antara kekuasaan dan pengetahuan, nilai spiritual dan moral, serta kemungkinan penerapan pengetahuan lokal untuk menjawab persoalan Indonesia masa kini.

Melalui pendekatan tersebut, Mazhab Nusantara berpeluang dikembangkan sebagai kerangka pemikiran yang berangkat dari pengalaman masyarakat Indonesia, terbuka terhadap ilmu pengetahuan modern, dan bersedia menerima kritik.

Kekuatan sebuah mazhab pemikiran tidak hanya ditentukan oleh identitas atau nama yang digunakan. Gagasan tersebut juga harus mampu menjelaskan persoalan, menunjukkan dasar argumentasi, menghadapi kritik, dan memberikan sumbangan nyata bagi kehidupan.

Pada bagian penutup, penulis mengarahkan pembaca pada pertanyaan mengenai bagaimana manusia menentukan tindakan yang patut dilakukan, bukan sekadar memahami tindakan yang dapat dilakukan.

Pertanyaan tersebut menjadi pengantar menuju Seri 4 yang mengangkat tema “Budi: Fondasi Kebijaksanaan Nusantara.”

Tema ini akan membawa pembahasan pada hubungan antara pengetahuan, kebijaksanaan, pertimbangan moral, dan tanggung jawab manusia dalam menentukan tindakan.

Melalui rangkaian tulisan Mazhab Nusantara, pembaca diajak melihat warisan masa lalu sebagai sumber pembelajaran yang perlu dipahami, diuji, dan dikembangkan, bukan sekadar dikagumi.

Gagasan utamanya jelas: memahami sejarah dan kebudayaan sendiri dapat menjadi salah satu jalan untuk membangun pemikiran masa depan, sepanjang prosesnya tetap berlandaskan bukti, keterbukaan, dan tanggung jawab intelektual.

Penulis: MJP Hutagaol ’86

Sumber: Seri 3 Mazhab Nusantara — “Apakah Nusantara Memiliki Cara Berpikir Sendiri?”

Suwoto

Jurnalis :

Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pangdam III/Siliwangi Dukung Pelestarian Domba Garut Melalui Festival Peternak di Cimahi

    Pangdam III/Siliwangi Dukung Pelestarian Domba Garut Melalui Festival Peternak di Cimahi

    • calendar_month Rabu, 10 Jun 2026
    • account_circle Achmad Arif Rachman
    • visibility 109
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes, Cimahi – Festival Ternak Domba Garut Piala Pangdam III/Siliwangi yang diselenggarakan di Lapangan Tembak Gunung Bohong, Brigif 15/Kujang II, Cimahi, Minggu (7/6/2026), berlangsung meriah dan mendapat antusiasme tinggi dari para peternak serta masyarakat. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-80 Kodam III/Siliwangi dan dihadiri langsung oleh Pangdam III/Siliwangi, Mayjen TNI Kosasih, S.E., M.M. […]

  • Kabiro Media Suara Mabes Sabang Tampung Aspirasi Warga, Soroti Kondisi Ekonomi dan Tingginya Pengangguran

    Kabiro Media Suara Mabes Sabang Tampung Aspirasi Warga, Soroti Kondisi Ekonomi dan Tingginya Pengangguran

    • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
    • account_circle Soeharto
    • visibility 248
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Sabang – Kepala Biro Media Suara Mabes Kota Sabang, Soeharto, menerima berbagai aspirasi dan keluhan dari sejumlah masyarakat terkait kondisi perekonomian di Kota Sabang yang dinilai belum menunjukkan perkembangan signifikan. Keluhan tersebut disampaikan warga dalam beberapa kesempatan pada 21–22 Juli 2026. Sejumlah warga mengungkapkan bahwa kondisi ekonomi yang mereka rasakan saat ini cukup […]

  • ARM laporkan Pengerukan Sungai di Kp. Nameng Cariu Diduga Ilegal serta melanggar hukum dan Warga merasa Resah

    ARM laporkan Pengerukan Sungai di Kp. Nameng Cariu Diduga Ilegal serta melanggar hukum dan Warga merasa Resah

    • calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
    • account_circle Sudirman
    • visibility 93
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Jawab Barat – Kegiatan pengerukan sungai di Kampung Nameng, Desa Cibatu Tiga, Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor diduga dilakukan tanpa mengantongi izin resmi dari instansi terkait. Sementara Ketua Umum Aliansi Rakyat Menggugat Furqon Mujahid Bangun yang akrab disapa Mang Jahid menyatakan telah menerima aduan dari masyarakat sekitar , terlihat sejumlah alat berat berupa excavator […]

  • DPP- GANNAS Gelar Workshop Dan LDK Gelombang Ke 2 diikuti 100 peserta Se-Jabodetabek

    DPP- GANNAS Gelar Workshop Dan LDK Gelombang Ke 2 diikuti 100 peserta Se-Jabodetabek

    • calendar_month Minggu, 10 Nov 2024
    • account_circle Ichsan
    • visibility 36
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Jakarta – Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Anti Narkoba Nasional (DPP GANNAS) pada hari Jumat tanggal 8 November 2024 bertempat Di Terraz Tree Hotel Jl Tendean Jakarta selatanbmenyelenggarakan kegiatan Workshop Penggiat Anti Narkoba (WPAN) sesuai pasal 8 Ayat 1 Anggaran Dasar Anti Narkoba Nasional diikuti oleh seluruh pengurus dan anggota Gerakan Anti Narkoba Nasional […]

  • Presiden Akui Polri, Menurunkan Kahutla dari 500.000 jadi 7.000 Hektar

    Presiden Akui Polri, Menurunkan Kahutla dari 500.000 jadi 7.000 Hektar

    • calendar_month Senin, 24 Agt 2026
    • account_circle Sudarnarto
    • visibility 155
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Jakarta – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Kepolisian Republik Indonesia dibantu TNI dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) atas keberhasilan menekan luasan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Bumi Tambun Bungai. Apresiasi tersebut disampaikan langsung Presiden Prabowo saat melakukan kunjungan kerja ke Palangka Raya, Sabtu […]

  • Rapat Minggon Desa Pahlawan Setia, Pj Kepala Desa Haji Namin Soroti Persoalan Sampah di Wilayah Pisang Batu

    Rapat Minggon Desa Pahlawan Setia, Pj Kepala Desa Haji Namin Soroti Persoalan Sampah di Wilayah Pisang Batu

    • calendar_month Kamis, 1 Okt 2026
    • account_circle Aan Hermawan
    • visibility 82
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Bekasi – Pemerintah Desa Pahlawan Setia menggelar rapat minggon yang dihadiri Penjabat (Pj) Kepala Desa Pahlawan Setia, Haji Namin. Dalam rapat tersebut, persoalan kebersihan lingkungan, khususnya keberadaan sampah di sejumlah titik wilayah desa, menjadi salah satu hal yang mendapat perhatian. Dalam arahannya, Haji Namin menyoroti kondisi sampah yang masih ditemukan di berbagai lokasi. […]

expand_less