SIAGA LAUT: Dari Patuh Menjadi Selamat, Transformasi Pengawasan Keselamatan Pelayaran Berbasis Risiko
- account_circle Dudung Wahyudin
- calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
- visibility 278
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Surabaya — Keselamatan pelayaran tidak cukup hanya diukur dari terpenuhinya dokumen, sertifikat, maupun prosedur administratif. Keselamatan harus diwujudkan melalui budaya keselamatan, pengawasan berbasis risiko, pemanfaatan teknologi, serta tindak lanjut yang nyata terhadap setiap potensi bahaya.
Gagasan tersebut dirangkum dalam konsep “Dari Patuh Menjadi Selamat – SIAGA LAUT”, sebuah inovasi sistem pengawasan keselamatan dan keamanan pelayaran berbasis risiko yang diarahkan untuk memperkuat upaya pencegahan kecelakaan di laut.
Pelayaran merupakan satu kesatuan sistem yang mencakup angkutan di perairan, kepelabuhanan, keselamatan dan keamanan, serta perlindungan lingkungan maritim. Dalam praktiknya, satu prosedur yang diabaikan, peralatan keselamatan yang tidak berfungsi, keterlambatan informasi navigasi, hingga kesalahan pengambilan keputusan dapat berkembang menjadi kecelakaan yang mengancam keselamatan jiwa.
Karena itu, paradigma pengawasan perlu bergeser dari document-oriented menuju risk-oriented dan selanjutnya menjadi safety-oriented supervision.
Budaya keselamatan menjadi fondasi utama. Setiap insan pelayaran diharapkan memiliki kesadaran untuk mencegah kecelakaan meskipun tidak sedang diawasi. Prinsip yang dikedepankan adalah “laporkan sebelum celaka”, bukan sekadar melakukan pemeriksaan setelah kecelakaan terjadi.
Digitalisasi juga menjadi bagian penting melalui konsep Digital Safety Record, yang mengintegrasikan sertifikat, hasil inspeksi, temuan pelanggaran, pemeliharaan, kecelakaan, near miss, serta tindak lanjut pengawasan.
Data tersebut kemudian dapat dikembangkan menjadi rangkaian arsip digital, data terintegrasi, riwayat keselamatan, analisis risiko, pengawasan tepat sasaran, hingga pencegahan kecelakaan.
Sembilan Unsur SIAGA LAUT
Konsep SIAGA LAUT terdiri atas sembilan unsur yang membentuk sistem pengawasan terpadu, yaitu:
S – Sistem Terintegrasi, menghubungkan data keselamatan dalam satu sistem informasi.
I – Identifikasi Risiko, mengenali potensi bahaya sebelum berkembang menjadi kecelakaan.
A – Aksi Budaya Keselamatan, mendorong seluruh insan pelayaran aktif dalam pencegahan.
G – Gerak Pengawasan Adaptif, menyesuaikan pengawasan dengan kondisi dan tingkat risiko kapal.
A – Akuntabilitas, memastikan setiap temuan memiliki penanggung jawab, batas waktu, dan mekanisme penyelesaian.
L – Layanan Digital, memanfaatkan teknologi untuk mempercepat pertukaran informasi dan pelayanan keselamatan.
A – Analisis Data, mengolah hasil pemeriksaan dan kejadian menjadi informasi mengenai pola risiko.
U – Umpan Balik, menjadikan hasil pemeriksaan, near miss, dan kecelakaan sebagai bahan pembelajaran.
T – Tindak Lanjut, memastikan setiap risiko yang ditemukan berakhir pada tindakan korektif yang nyata.
Kesembilan unsur tersebut membentuk siklus temukan risiko, laporkan, analisis, awasi, tindak lanjuti, evaluasi, dan cegah kejadian berikutnya.
Dapat Dimulai melalui Proyek Percontohan
Implementasi SIAGA LAUT tidak harus diawali dengan proyek berskala besar. Konsep ini dapat diuji melalui proyek percontohan di satu pelabuhan atau wilayah DLKr dan DLKp KSOP Utama Tanjung Perak Surabaya.
Tahap awal dapat dilakukan dengan mengintegrasikan data inspeksi, kecelakaan, near miss, kerusakan, dan tindak lanjut temuan. Selanjutnya dibangun dashboard profil risiko kapal yang dapat membantu pimpinan maupun petugas menentukan prioritas pemeriksaan.
Sistem pelaporan near miss yang sederhana dan mudah digunakan juga menjadi bagian penting agar pelaku pelayaran berani menyampaikan informasi mengenai potensi bahaya tanpa rasa takut.
Tahapan berikutnya adalah klasifikasi kapal berdasarkan tingkat risiko, sehingga pengawasan dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran. Efektivitas sistem kemudian dievaluasi sebelum dikembangkan ke wilayah lainnya.
Konsep ini menegaskan bahwa data keselamatan tidak seharusnya berhenti sebagai arsip, tetapi harus diubah menjadi dasar pengambilan keputusan dan peringatan dini.
Pada akhirnya, transformasi keselamatan pelayaran membutuhkan perubahan paradigma: dari pemeriksaan setelah kejadian menuju deteksi sebelum kecelakaan, dari data sebagai arsip menjadi data sebagai peringatan dini, serta dari kepatuhan karena diperiksa menjadi keselamatan karena kesadaran.
SIAGA LAUT diharapkan dapat memperkuat pengawasan keselamatan dan keamanan pelayaran yang lebih preventif, adaptif, transparan, dan akuntabel.
“Risiko Terdeteksi, Pengawasan Terintegrasi, dan Pelayaran Selamat.”
Jurnalis : Dudung Wahyudin
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 9 Juli 2024 sebagai Kepala Perwakilan Wilayah Prov. Jawa Timur. Email : dudung.wahyudin@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar