ESTOM #20: Strategic Decision, Ketika Banyak Pilihan Harus Menjadi Satu Keputusan
- account_circle Suwoto
- calendar_month Selasa, 8 Sep 2026
- visibility 141
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta — Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol kembali menerbitkan Seri Memahami ESTOM #20 yang mengangkat tema “Strategic Decision — Keputusan Strategis”.
Dalam seri yang bertanggal 5 September 2026 tersebut, Hutagaol menjelaskan bahwa kemampuan strategis sebuah negara tidak berhenti pada kapasitas dan tersedianya berbagai pilihan. Pada titik tertentu, pemimpin harus mampu menentukan satu arah keputusan di tengah keterbatasan informasi, waktu, risiko, serta konsekuensi yang menyertainya.
“Strategic decision” dijelaskan bukan sekadar memilih pilihan yang dianggap paling baik. Keputusan strategis menyangkut keputusan yang berdampak besar, berjangka panjang, melibatkan sumber daya yang signifikan, memengaruhi banyak pihak, sulit dibalikkan, atau menentukan ruang pilihan pada tahap berikutnya.
Keputusan di Tengah Ketidakpastian
Menurut Hutagaol, pengambilan keputusan strategis berlangsung dalam lingkungan yang tidak pernah sepenuhnya ideal. Data dapat belum lengkap, informasi bisa saling bertentangan, tekanan meningkat, sementara lingkungan strategis terus berubah.
Karena itu, keputusan strategis tidak seharusnya menunggu sampai seluruh ketidakpastian hilang. Pemimpin dituntut mampu memutuskan secara rasional berdasarkan informasi yang tersedia, sekaligus memahami risiko dan konsekuensinya.
Dalam kerangka tersebut, proses pengambilan keputusan dimulai dengan membaca environment atau lingkungan strategis, kemudian melakukan sensing untuk mendeteksi perubahan, dan dilanjutkan dengan thinking untuk menganalisis informasi, menilai pilihan, serta menentukan keputusan.
Keputusan selanjutnya diterjemahkan melalui operation menjadi tindakan konkret dan dilaksanakan melalui maneuver, yaitu kemampuan menyesuaikan pelaksanaan ketika kondisi lapangan berubah.
Tujuan Harus Mendahului Pilihan
Salah satu penekanan utama dalam seri ini adalah pentingnya menentukan tujuan sebelum memilih alternatif.
Pilihan yang paling murah belum tentu menjadi pilihan terbaik. Demikian pula pilihan yang paling cepat, paling aman, atau paling mandiri tidak otomatis menjadi pilihan strategis yang tepat.
Menurut kerangka yang ditawarkan Hutagaol, pertanyaan awal harus diarahkan pada apa yang hendak dicapai, kemudian baru menentukan pilihan yang paling sesuai dengan tujuan tersebut.
Ia juga mengingatkan bahwa keputusan tidak bertindak merupakan sebuah keputusan yang dapat mempunyai konsekuensi strategis.
Mengelola Risiko dan Menjaga Ruang Pilihan
Seri #20 turut menyoroti pentingnya reversibility, yakni kemampuan untuk mengubah atau membalikkan sebuah keputusan.
Keputusan yang sulit dibalikkan membutuhkan analisis, pengujian asumsi, simulasi, dan kehati-hatian yang lebih besar. Sebaliknya, keputusan yang relatif mudah disesuaikan dapat memberikan ruang untuk melakukan eksperimen, belajar, dan melakukan koreksi.
Dalam konteks ini, kecepatan dan ketepatan tidak ditempatkan sebagai dua hal yang harus dipertentangkan. Tantangannya adalah menentukan seberapa cepat tingkat kepastian yang memadai dapat dicapai untuk mengambil tindakan.
Red Team untuk Menguji Asumsi
Hutagaol juga memasukkan konsep red team sebagai mekanisme untuk menguji kualitas keputusan.
Red team tidak ditujukan untuk menghambat keputusan, melainkan untuk menyerang asumsi, mencari kelemahan, menguji skenario, dan mengajukan pertanyaan sederhana tetapi penting: bagaimana jika kita salah?
Konsep ini berkaitan dengan bahaya groupthink, ketika organisasi terlalu cepat mencapai kesepakatan dan kehilangan ruang bagi pandangan berbeda.
Prinsip yang ditawarkan adalah membuka ruang perdebatan sebelum keputusan ditetapkan, kemudian menyatukan tindakan setelah keputusan dibuat.
Belajar dari Krisis dan Perubahan Negara
Untuk memberikan konteks, seri ini menggunakan sejumlah pengalaman internasional, antara lain Krisis Misil Kuba 1962, reformasi ekonomi Selandia Baru pada pertengahan 1980-an, serta transisi politik Afrika Selatan pada awal 1990-an.
Krisis Misil Kuba digunakan sebagai contoh mengenai pentingnya mempertahankan ruang bagi diplomasi, penyesuaian, dan de-eskalasi dalam situasi berisiko tinggi.
Sementara pengalaman Selandia Baru menunjukkan bahwa keputusan strategis dapat membawa manfaat sekaligus biaya transisi dan dampak samping. Adapun pengalaman Afrika Selatan menggambarkan bahwa pada kondisi tertentu, mempertahankan cara lama justru dapat meningkatkan risiko sehingga diperlukan jalan baru melalui proses negosiasi dan perubahan.
Hutagaol menekankan bahwa pengalaman negara lain tidak harus disalin secara langsung oleh Indonesia. Yang perlu dipelajari adalah prinsipnya, kemudian disesuaikan dengan environment Indonesia.
Indonesia Harus Membaca Lingkungannya Sendiri
Dalam pembahasan mengenai Indonesia, keputusan strategis dinilai perlu mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari geografi, demografi, ekonomi, sosial-budaya, pertahanan, teknologi, energi, pangan hingga posisi internasional.
Seri ini juga menempatkan energi, data, dan persepsi sebagai unsur yang memengaruhi ruang keputusan dalam environment strategis.
Energi berkaitan dengan kemampuan sistem untuk bergerak, data menjadi basis penglihatan dalam pengambilan keputusan, sedangkan persepsi berhubungan dengan bagaimana realitas dipahami dan bagaimana kepercayaan terbentuk.
Ketiganya, menurut Hutagaol, bukan unsur baru dalam ESTOM, melainkan bagian dari environment yang perlu dibaca sepanjang proses pengambilan keputusan.
Keputusan Harus Memiliki Akuntabilitas
Aspek lain yang ditekankan adalah kejelasan tanggung jawab.
Keputusan kolektif tidak boleh berujung pada kondisi ketika tidak ada pihak yang bertanggung jawab. Karena itu perlu ditentukan siapa yang memutuskan, siapa yang menentukan tindakan, siapa yang melaksanakan, siapa yang mengawasi, siapa yang mengukur hasil, serta siapa yang melakukan koreksi.
Dengan demikian, keputusan strategis tidak berhenti sebagai konsep, tetapi harus memiliki jalur accountability yang jelas.
Jangan Terjebak pada Keputusan Sendiri
Menurut Hutagaol, salah satu jebakan dalam kepemimpinan adalah mempertahankan keputusan hanya karena keputusan tersebut sudah diumumkan, telah menghabiskan biaya, atau telah menjadi bagian dari identitas organisasi.
Padahal, lingkungan dapat berubah.
Karena itu, ukuran kepemimpinan bukan semata-mata seberapa keras seseorang mempertahankan keputusan, tetapi seberapa teguh ia mempertahankan tujuan dan seberapa berani mengubah cara ketika fakta berubah.
Konsep stop-loss juga menjadi bagian dari pembahasan. Sebelum tindakan dilakukan, perlu ditentukan indikator keberhasilan, batas risiko, titik evaluasi, serta kondisi yang menjadi dasar untuk mengubah atau menghentikan tindakan.
Strategic Decision dalam Siklus ESTOM
Pada bagian akhir, Hutagaol menegaskan bahwa Strategic Decision bukan unsur keenam dalam ESTOM.
Keputusan terutama lahir dalam proses Thinking, kemudian diterjemahkan menjadi tindakan melalui Operation, dan dilaksanakan serta disesuaikan melalui Maneuver.
Rangkaian tersebut dapat diringkas sebagai:
Environment → Sensing → Thinking → Operation → Maneuver
Dari proses tersebut lahir hasil. Hasil memberikan feedback, feedback menghasilkan pembelajaran, pembelajaran membangun kapasitas, dan kapasitas kemudian menciptakan pilihan baru.
Dengan demikian, proses strategis membentuk sebuah siklus yang terus bergerak menghadapi perubahan lingkungan.
Keberanian Mengambil Keputusan dan Mengoreksi
Hutagaol menutup Seri Memahami ESTOM #20 dengan penekanan bahwa pemimpin tidak dapat menunggu masa depan menjadi sepenuhnya pasti.
Pemimpin dituntut mampu membaca, mendengar, berpikir, memilih, memutuskan, bertindak, sekaligus melakukan koreksi ketika fakta berubah.
Keberanian dalam pengambilan keputusan, menurut kerangka tersebut, bukan hanya keberanian untuk menentukan pilihan, tetapi juga keberanian mengakui perubahan keadaan dan mengubah cara tanpa kehilangan tujuan.
Jakarta, 5 September 2026
Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar