Romantisme Spiritual: Refleksi tentang Kesadaran, Kejujuran, dan Keterbukaan
- account_circle Thio Rudy
- calendar_month Rabu, 2 Sep 2026
- visibility 190
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta — Perkembangan dunia spiritual di tengah masyarakat dinilai perlu diiringi dengan peningkatan kesadaran, kejujuran, serta keterbukaan dalam memahami kehidupan. Spiritualisme tidak semata-mata dikaitkan dengan kemampuan supranatural, melainkan lebih pada kesadaran seseorang dalam menjalani setiap tindakan dan proses kehidupan.
Pandangan tersebut disampaikan Reza Binol dari Masyarakat Spiritual Indonesia melalui tulisannya berjudul “Romantisme Spiritual”. Ia menyoroti fenomena spiritualitas yang menurutnya kini menghadapi tantangan di tengah beragamnya teori, metode, dan klaim kebenaran yang berkembang di masyarakat.
Menurut Reza, spiritualitas sejatinya bukan sesuatu yang semestinya diperlakukan sebagai komoditas yang dipasarkan secara bebas. Nilai spiritual, kata dia, akan menemukan orang yang membutuhkannya tanpa harus selalu ditawarkan secara berlebihan.
Ia menilai, sebagian masyarakat cenderung lebih tertarik pada aspek yang mudah dipahami dan bersifat permukaan dibandingkan melakukan proses pendalaman pemikiran dan penghayatan.
“Berspiritual bukan berarti menjadi sakti mandraguna. Tapi menjadi lebih sadar pada setiap laku lampah kehidupan,” tulis Reza.
Dalam refleksinya, Reza juga mengkritisi munculnya persaingan di antara berbagai kelompok atau aliran spiritual. Beragam metode dan teori, menurutnya, kerap disertai klaim bahwa suatu ajaran merupakan yang paling benar dibandingkan pemahaman lainnya.
Namun, ia menegaskan bahwa tulisannya tidak dimaksudkan untuk menyerang atau menjatuhkan kelompok tertentu. Tulisan tersebut lebih diarahkan sebagai catatan reflektif bagi siapa pun yang mengaku sebagai seorang spiritualis.
Reza berpandangan bahwa spiritualitas semestinya menekankan kejujuran dan keutuhan pemahaman. Dengan demikian, spiritualitas dapat menjadi sarana transformasi diri yang menyeluruh, bukan sekadar aktivitas yang berhenti pada pemahaman etika, bacaan, maupun kisah moralitas.
Ia juga menekankan pentingnya otentisitas dalam menjalani proses spiritual. Pengalaman dan tempaan kehidupan, menurutnya, tidak mudah direkayasa dalam jangka panjang. Perilaku seseorang pada akhirnya akan menjadi cermin dari kualitas pemahaman dan nilai yang diyakininya.
“Transparansi menciptakan transendensi sebab kemurniannya,” demikian salah satu gagasan yang disampaikan Reza dalam tulisannya.
Lebih jauh, Reza mengajak para spiritualis untuk mengembangkan sikap inklusif. Menurutnya, keyakinan terhadap suatu pemahaman tidak seharusnya membuat seseorang menutup diri dari ide, konsep, dan gagasan yang berbeda.
Sikap terbuka untuk mendengarkan pandangan pihak lain dinilai penting agar proses pencarian dan pengembangan pemahaman spiritual tidak terjebak pada eksklusivitas maupun persaingan antarkelompok.
Pada bagian akhir refleksinya, Reza mengingatkan bahwa tidak ada kata terlambat untuk melakukan pembenahan. Menurutnya, perjalanan spiritual semestinya membawa seseorang pada kehidupan yang lebih ringan, presisi, sadar, dan mampu menerima perbedaan.
“Rasanya kurang elok terbang terlalu tinggi kalau hanya untuk terjatuh lebih dalam lagi,” tulis Reza.
Tulisan “Romantisme Spiritual” tersebut pada akhirnya menjadi ajakan reflektif agar spiritualitas tidak berhenti pada label, simbol, atau klaim tertentu, tetapi diwujudkan melalui perilaku, kesadaran, kejujuran, dan keterbukaan dalam menjalani kehidupan.
Penulis: Reza Binol
Masyarakat Spiritual Indonesia
Jurnalis : Thio Rudy
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 24 April 2024 sebagai Jurnalis Pusat. Email : thio.rudy@mediasuaramabes.co.id

Setuju yom
3 September 2026 7:50 am