Breaking News
light_mode
Trending HasTags
Beranda » Opini » Bumi yang Menatap Manusia”: Refleksi Brigjen (Purn.) MJP. Hutagaol tentang Teknologi, Kekuasaan, dan Masa Depan Kemanusiaan

Bumi yang Menatap Manusia”: Refleksi Brigjen (Purn.) MJP. Hutagaol tentang Teknologi, Kekuasaan, dan Masa Depan Kemanusiaan

  • account_circle Suwoto
  • calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
  • visibility 158
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MediaSuaraMabes | Jakarta — Perkembangan teknologi, perubahan zaman, kekuasaan, hingga masa depan generasi mendatang menjadi rangkaian refleksi dalam karya berjudul “Bumi yang Menatap Manusia” karya Brigjen (Purn.) MJP. Hutagaol.

Karya tersebut menempatkan Bumi bukan sekadar sebagai latar kehidupan manusia, melainkan sebagai simbol yang seolah menyaksikan perjalanan panjang peradaban—dari perkembangan teknologi hingga berbagai persoalan kemanusiaan.

Gagasan utama karya ini berangkat dari sebuah pertanyaan reflektif: ketika manusia merasa mampu menaklukkan dunia, apakah pada saat yang sama manusia justru sedang menghadapi konsekuensi dari tindakannya sendiri?

Dalam manuskrip tersebut, perjalanan manusia digambarkan melalui perkembangan peradaban, mulai dari penemuan roda, pembangunan kota, kemajuan ilmu pengetahuan, hingga kemampuan manusia menembus angkasa. Namun, kemajuan itu tidak serta-merta menghilangkan konflik, perebutan kekuasaan, keserakahan, maupun kekerasan.

“Bumi yang Menatap Manusia” kemudian mengarahkan perhatian pada persoalan yang lebih mendasar: apakah kemajuan kecerdasan manusia selalu berjalan seiring dengan kebijaksanaan?

Teknologi dan Tantangan Kebijaksanaan

Salah satu bagian penting karya ini membahas munculnya kecerdasan buatan, algoritma, robotika, dan kemampuan mesin dalam membantu manusia mengambil keputusan.

Kemajuan tersebut dipandang sebagai bagian dari perubahan besar zaman. Namun, karya ini menekankan adanya perbedaan antara kecerdasan dan kebijaksanaan.

Kecerdasan dapat digunakan untuk menghitung, menemukan solusi, bahkan menciptakan teknologi yang memiliki daya besar. Sementara itu, kebijaksanaan berkaitan dengan kemampuan manusia menentukan apa yang layak dilakukan dan mempertimbangkan dampaknya terhadap kehidupan.

Persoalan tersebut menjadi semakin relevan ketika teknologi berkembang lebih cepat daripada kemampuan masyarakat dalam memahami konsekuensi penggunaannya.

Generasi Mendatang dan Warisan Dunia

Karya ini juga menghadirkan sosok seorang anak sebagai simbol generasi yang akan menerima dunia dari generasi sebelumnya.

Pertanyaan yang diajukan sederhana tetapi mendasar: dunia seperti apa yang akan diwariskan kepada mereka?

Ukuran keberhasilan sebuah generasi, menurut gagasan yang dibangun dalam manuskrip ini, tidak semata-mata dapat dilihat dari jumlah gedung, kemajuan teknologi, atau kekayaan yang berhasil diciptakan.

Lebih jauh, generasi mendatang akan menerima dampak dari keputusan politik, ekonomi, sosial, lingkungan, dan teknologi yang dibuat pada masa sekarang.

Karena itu, masa depan digambarkan bukan sebagai sesuatu yang sepenuhnya menunggu manusia, melainkan sesuatu yang sedang dibentuk melalui keputusan dan tindakan hari ini.

Kekuasaan dan Kesadaran

Persoalan kekuasaan juga menjadi bagian penting dari refleksi.

Karya ini mengingatkan bahwa kekuasaan tanpa kesadaran dapat menjadi ancaman bagi masyarakat yang memilikinya. Sejarah menunjukkan bahwa berbagai kerajaan, imperium, dan gagasan politik pernah mengalami perubahan dan keruntuhan.

Namun, keruntuhan sebuah masyarakat tidak selalu dimulai dari serangan pihak luar. Dalam perspektif karya ini, keruntuhan juga dapat berawal dari hilangnya kejujuran, rasa malu, persaudaraan, serta kemampuan membedakan kepentingan pribadi dan kepentingan bersama.

Dengan demikian, pertahanan sebuah bangsa tidak hanya dipahami dalam konteks kekuatan material, tetapi juga kualitas manusia dan karakter masyarakatnya.

“Sadarlah” sebagai Pesan Utama

Pada bagian lain, Bumi dibayangkan seandainya dapat berbicara kepada manusia.

Pesannya bukan sekadar larangan terhadap perang, melainkan ajakan untuk meningkatkan kesadaran.

Perang, menurut refleksi karya tersebut, hanyalah salah satu bentuk dari persoalan yang lebih mendalam, seperti keserakahan, kebencian, ketakutan, dan keinginan untuk menguasai.

Bentuk konflik dapat berubah mengikuti perkembangan zaman. Jika dahulu konflik banyak diwujudkan melalui kekuatan militer, masa depan dapat menghadirkan bentuk persaingan melalui teknologi, ekonomi, informasi, atau kekuatan lain yang belum sepenuhnya dikenal.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana memastikan agar kekuatan yang dimiliki manusia tidak berkembang jauh lebih cepat daripada kesadarannya.

Warisan yang Lebih Besar daripada Kekayaan

Karya ini juga menyampaikan pesan kepada generasi yang belum lahir.

Kemajuan teknologi mungkin akan mengubah cara manusia hidup. Mesin dapat menjadi semakin cerdas, usia manusia mungkin semakin panjang, dan kehidupan manusia dapat berkembang melampaui batas-batas yang dikenal saat ini.

Namun, satu hal yang dianggap penting untuk tetap dipertahankan adalah kemampuan manusia untuk merasakan penderitaan dan kehidupan sesamanya.

Pesan tersebut kemudian diperluas menjadi gagasan tentang warisan. Manusia tidak hanya dituntut meninggalkan teknologi, bangunan, atau kekayaan, tetapi juga karakter, kebijaksanaan, dan teladan.

Pada akhirnya, manusia akan meninggalkan dunia. Generasi berikutnya mungkin tidak mengenal nama atau wajah orang-orang yang hidup sebelumnya. Namun, mereka akan hidup di dalam dunia yang dibentuk oleh keputusan generasi terdahulu.

Bumi sebagai Cermin Kemanusiaan

Bagian penutup manuskrip menegaskan bahwa Bumi tidak membutuhkan manusia untuk menjadi penguasa terbesar, terkaya, atau terkuat.

Manusia justru diajak menaklukkan sesuatu yang dianggap lebih sulit, yakni dirinya sendiri—keserakahan, kesombongan, kebencian, dan keinginan untuk selalu merasa paling benar.

Dalam perspektif tersebut, hubungan manusia dengan Bumi tidak lagi ditempatkan sebagai hubungan antara pemilik dan objek yang dimiliki. Manusia diposisikan sebagai penjaga sementara dari kehidupan yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

Pesan akhirnya kembali pada kesadaran.

Bumi tidak harus menjadi sempurna agar manusia berubah. Yang dibutuhkan adalah kesadaran bahwa setiap keputusan manusia meninggalkan jejak bagi generasi berikutnya.

“Bumi yang Menatap Manusia” pada akhirnya bukan sekadar renungan mengenai lingkungan atau teknologi. Karya ini merupakan refleksi tentang manusia, kekuasaan, kemajuan peradaban, tanggung jawab antargenerasi, dan pertanyaan mengenai arah kehidupan di tengah perubahan zaman.

Penulis: Brigjen (Purn.) MJP. Hutagaol

Suwoto

Jurnalis :

Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • DPP FKKPBM Gelar Upacara HUT ke-81 RI di Kalisari, Perkuat Semangat Persatuan dan Kebangsaan

    DPP FKKPBM Gelar Upacara HUT ke-81 RI di Kalisari, Perkuat Semangat Persatuan dan Kebangsaan

    • calendar_month Senin, 17 Agt 2026
    • account_circle Suwoto
    • visibility 192
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Jakarta — Dewan Pimpinan Pusat Forum Komunikasi Keluarga Purnawirawan Baret Merah (DPP FKKPBM) menggelar upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Jalan Intisari Raya, Kelurahan Kalisari, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur, Senin (17/8/2026). Upacara yang dimulai pukul 08.00 WIB berlangsung tertib dan khidmat. Kegiatan diikuti keluarga besar FKKPBM, jajaran […]

  • UPTD Puskesmas Setiamulya Gelar Pengobatan Gratis dan Skrining TBC Terintegrasi CKG

    UPTD Puskesmas Setiamulya Gelar Pengobatan Gratis dan Skrining TBC Terintegrasi CKG

    • calendar_month Sabtu, 12 Sep 2026
    • account_circle Aan Hermawan
    • visibility 104
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Setiamulya — Pemerintah Kabupaten Bekasi melalui Dinas Kesehatan, bersama UPTD Puskesmas Setiamulya, menggelar kegiatan pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat di rumah Kepala Dusun (Kadus) 03 Haji Muhhabar, Kampung Pamahan Bulak, RT 002/RW 018. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya memberikan akses pelayanan kesehatan kepada masyarakat sekaligus mendukung kegiatan skrining atau penelusuran Tuberkulosis (TBC) […]

  • Perkuat Ukhuwah Islamiyah Wakapolres Ketapang,Hadiri Penutupan Pengajian Majelis Sholawat Al-Burdah dan Doa Akasyah photo_camera 2

    Perkuat Ukhuwah Islamiyah Wakapolres Ketapang,Hadiri Penutupan Pengajian Majelis Sholawat Al-Burdah dan Doa Akasyah

    • calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
    • account_circle A'ang Sanjaya
    • visibility 192
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Ketapang, Kalbar – Mewakili Kapolres Ketapang AKBP Muhammad Harris, S.H., S.I.K., M.I.K., CPHR., Wakapolres Ketapang KOMPOL Hoeruddin, S.I.K., M.H., menghadiri kegiatan Penutupan Pengajian Majelis Sholawat Al-Burdah dan Doa Akasyah Jl. Pangeran Kusuma Jaya Kelurahan Mulia Kerta Kecamatan Benua Kayong yang berlangsung dengan penuh khidmat dan dihadiri ratusan jamaah (06/07/2026). Kegiatan tersebut turut dihadiri […]

  • DIduga IMB Bangunan Bodong Diterbitkan, Walikota Surabaya Terancam Digugat Warganya photo_camera 3

    DIduga IMB Bangunan Bodong Diterbitkan, Walikota Surabaya Terancam Digugat Warganya

    • calendar_month Jumat, 5 Jun 2026
    • account_circle Dudung Wahyudin
    • visibility 326
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes, Surabaya – Seperti kata pepatah ” Anak berpolah Bapak kepradah” yang artinya ” Ketika anak bertingkah atau membuat masalah maka orang tua yang ikut menanggung akibatnya”. Demikian juga hal tersebut jika terjadi pada institusi atau lembaga pemerintah, dimana seorang pemimpin harus bertanggungjawab atas kelalaian dan kesalahan para staf dalam jajarannya baik secara ketentuan internal […]

  • Tiang Listrik Yang Terbuat Dari Kayu Sudah Miring Hampir Tumbang Karena Sudah Membusuk Dan Kabel Mulai Koyak

    Tiang Listrik Yang Terbuat Dari Kayu Sudah Miring Hampir Tumbang Karena Sudah Membusuk Dan Kabel Mulai Koyak

    • calendar_month Rabu, 26 Agt 2026
    • account_circle Anton Anggiat Purba
    • visibility 289
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Humbang Hasundutan — Kondisi jaringan listrik di sepanjang jalan dan permukiman Desa Pusuk 2 yang menghubungkan Huta Sipang, Lumban Nauli hingga Huta Ri, Kecamatan Parlilitan, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, dikeluhkan warga. Sejumlah tiang listrik berbahan kayu dilaporkan telah lapuk, miring, bahkan nyaris tumbang. Kondisi tersebut disebut telah berlangsung sekitar dua tahun. Berdasarkan […]

  • Masyarakat Semarakkan Nobar Piala Dunia 2026 di Makodam III/Siliwangi, Argentina Taklukkan Inggris 2-1

    Masyarakat Semarakkan Nobar Piala Dunia 2026 di Makodam III/Siliwangi, Argentina Taklukkan Inggris 2-1

    • calendar_month Kamis, 16 Jul 2026
    • account_circle Achmad Arif Rachman
    • visibility 103
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Bandung – Suasana penuh semangat mewarnai Lapangan Serka Dedy Unadi, Makodam III/Siliwangi, Kamis (16/7/2026) dini hari,Sekitar 700 masyarakat bersama prajurit TNI, keluarga besar TNI, organisasi kemasyarakatan, dan tamu undangan mengikuti Nonton Bareng (Nobar) Gembira Piala Dunia 2026 antara Argentina melawan Inggris yang digelar Kodam III/Siliwangi. Kegiatan yang di hadiri Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI […]

expand_less