Breaking News
light_mode
Trending HasTags
Beranda » Opini » Prambanan, Mahakarya Hindu Jawa Kuno yang Menjadi Jejak Kejayaan Peradaban Nusantara

Prambanan, Mahakarya Hindu Jawa Kuno yang Menjadi Jejak Kejayaan Peradaban Nusantara

  • account_circle Suwoto
  • calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
  • visibility 171
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MediaSuaraMabes | Jakarta — Prambanan bukan sekadar kompleks percandian yang menjadi salah satu ikon kebudayaan Indonesia. Mahakarya Hindu dari Jawa Kuno ini merupakan bagian penting dari jejak perkembangan politik, keagamaan, seni, arsitektur, teknologi, dan kehidupan masyarakat pada masa Mataram Kuno.

Dalam perjalanan membaca sejarah peradaban Nusantara, Prambanan menghadirkan sisi berbeda dari Borobudur. Jika Borobudur dikenal sebagai mahakarya Buddhis, Prambanan memperlihatkan kejayaan tradisi Hindu-Siwa yang berkembang dalam lingkungan Jawa Kuno.

Keduanya menunjukkan bahwa dalam satu bentang geografis dan sejarah yang relatif berdekatan, berkembang tradisi keagamaan dan kebudayaan yang menghasilkan karya monumental.

Prambanan dan Jejak Mataram Kuno

Prambanan berkembang pada abad ke-9, ketika kawasan Jawa bagian tengah menjadi salah satu pusat penting kehidupan politik dan kebudayaan.

Salah satu sumber sejarah penting mengenai kompleks tersebut adalah Prasasti Siwagrha bertahun 856 M. Prasasti itu menyebut pembangunan bangunan suci yang berkaitan dengan pemujaan terhadap Siwa. Para ahli menghubungkannya dengan kompleks Prambanan.

Kompleks tersebut tidak hanya menunjukkan kemampuan masyarakat Jawa Kuno dalam membangun tempat ibadah. Prasasti Siwagrha juga memuat keterangan mengenai pengaturan aliran sungai di sekitar kawasan bangunan.

Hal tersebut memberikan gambaran bahwa pembangunan kompleks keagamaan berskala besar membutuhkan perencanaan ruang, pengelolaan tata air, teknik konstruksi, tenaga kerja, serta kemampuan organisasi yang tidak sederhana.

Dengan demikian, Prambanan dapat dibaca sebagai salah satu bukti kemampuan masyarakat Jawa Kuno dalam mengintegrasikan aspek keagamaan, teknologi, seni, dan pengelolaan lingkungan.

Arsitektur yang Menunjukkan Kemajuan Teknologi

Keagungan Prambanan terlihat dari tata ruang dan struktur bangunannya. Kompleks Prambanan atau Loro Jonggrang terdiri atas sejumlah bangunan candi dengan Candi Siwa sebagai bangunan utama yang memiliki ketinggian sekitar 47 meter.

Candi Siwa berada dalam satu kelompok utama bersama Candi Brahma dan Candi Wisnu. Masing-masing berkaitan dengan konsep Trimurti dalam tradisi Hindu.

Kemegahan tersebut bukan hanya persoalan ukuran. Penataan bangunan, orientasi ruang, struktur bertingkat, teknik penyusunan batu, serta keberadaan candi-candi perwara memperlihatkan tingkat kemampuan arsitektur dan konstruksi yang tinggi pada zamannya.

Dinding candi juga dihiasi berbagai relief, termasuk rangkaian cerita Ramayana. Melalui relief tersebut, kisah yang berasal dari tradisi India diwujudkan kembali melalui ekspresi seni masyarakat Jawa Kuno.

Hal ini memperlihatkan proses penerimaan dan pengolahan pengaruh budaya luar menjadi bagian dari perkembangan kebudayaan lokal.

Relief Ramayana, Ketika Batu Menjadi Cerita

Salah satu daya tarik penting Prambanan adalah relief Ramayana yang menghiasi bagian kompleks candi.

Kisah Rama, Sita, Rahwana, dan Hanuman tidak hanya menjadi rangkaian cerita keagamaan. Relief tersebut juga menghadirkan tema mengenai kesetiaan, keberanian, pengorbanan, tanggung jawab, serta pertentangan antara kebajikan dan kejahatan.

Prambanan juga memiliki rangkaian relief Kresnayana yang menggambarkan kisah Kresna.

Keberadaan relief tersebut menunjukkan bahwa candi pada masa Jawa Kuno bukan hanya ruang ritual. Ia juga menjadi media untuk menyampaikan cerita, simbol, nilai, dan pandangan hidup melalui karya seni.

Warisan cerita Ramayana bahkan terus berkembang dalam berbagai bentuk seni Indonesia, mulai dari sastra dan tari hingga seni pertunjukan.

Prambanan dan Sewu: Hindu dan Buddha dalam Satu Bentang Sejarah

Keistimewaan kawasan Prambanan semakin terlihat dari keberadaan sejumlah peninggalan keagamaan dalam wilayah yang relatif berdekatan.

Tidak jauh dari Prambanan berdiri kompleks Candi Sewu yang merupakan kompleks Buddhis besar. Di kawasan yang sama juga terdapat Candi Lumbung dan Candi Bubrah.

Kedekatan peninggalan Hindu dan Buddha tersebut menjadi salah satu gambaran penting mengenai kehidupan keagamaan di Jawa Kuno.

Kawasan Prambanan tidak tepat dipahami hanya sebagai satu kompleks percandian. Ia merupakan bagian dari bentang budaya yang lebih luas, termasuk berbagai situs seperti Plaosan dan Kalasan.

Keberagaman peninggalan tersebut memperlihatkan bahwa perkembangan Hindu dan Buddha berlangsung dalam ruang kebudayaan yang saling berdekatan.

Dalam konteks sejarah, kondisi itu memberikan pelajaran bahwa perbedaan tradisi keagamaan tidak selalu menjadi penghalang bagi berkembangnya kebudayaan dan karya monumental dalam satu kawasan.

Dari Reruntuhan hingga Warisan Dunia

Perjalanan Prambanan tidak selalu berupa kejayaan. Perubahan zaman, bencana alam, aktivitas geologi, serta berabad-abad tanpa pemeliharaan menyebabkan sebagian besar bangunan mengalami kerusakan dan runtuh.

Keberadaan Prambanan kembali mendapat perhatian pada era modern. Laporan mengenai kompleks tersebut tercatat pada 1733, sementara upaya penelitian dan pemugaran kemudian berkembang secara bertahap.

Pemugaran sistematis dimulai pada awal abad ke-20. Proses panjang tersebut berlangsung melewati masa pemerintahan Hindia Belanda, pendudukan Jepang, hingga Indonesia merdeka.

Candi Siwa akhirnya selesai dipugar dan diresmikan Presiden Soekarno pada 21 Desember 1953. Pemugaran kemudian terus dilakukan terhadap bagian-bagian kompleks lainnya.

Pada 1991, kompleks Prambanan ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO.

Namun tantangan konservasi tidak berhenti. Gempa bumi Yogyakarta pada 27 Mei 2006 kembali menyebabkan kerusakan pada sejumlah bagian kompleks dan mendorong dilakukannya konservasi serta penelitian struktural lebih lanjut.

Sejarah pemugaran Prambanan menunjukkan bahwa menjaga warisan budaya merupakan pekerjaan lintas generasi yang membutuhkan ilmu pengetahuan, ketelitian, teknologi, dan komitmen jangka panjang.

Prambanan sebagai Modal Peradaban Indonesia

Prambanan memiliki nilai yang jauh melampaui fungsi sebagai objek wisata.

Sebagai warisan budaya, kompleks tersebut menjadi sumber pembelajaran mengenai sejarah Jawa Kuno, perkembangan agama, seni, arsitektur, teknologi konstruksi, dan kehidupan masyarakat pada masa lalu.

Prambanan juga memiliki potensi sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia. Kisah Ramayana, arsitektur Hindu-Jawa, serta jejak hubungan kebudayaan Nusantara dengan India dan kawasan Asia menunjukkan bahwa masyarakat kepulauan Indonesia sejak masa lalu telah berinteraksi dengan jaringan peradaban yang lebih luas.

Karena itu, pengelolaan Prambanan tidak semestinya hanya berorientasi pada jumlah kunjungan wisatawan.

Konservasi fisik, penelitian sejarah, pendidikan, penghormatan terhadap nilai spiritual, serta pemanfaatan budaya secara bertanggung jawab perlu menjadi bagian dari upaya menjaga warisan tersebut.

Prambanan harus dipandang sebagai warisan yang hidup: batunya dilestarikan, sejarahnya dipelajari, nilai budayanya dihormati, dan pesan peradabannya diteruskan kepada generasi berikutnya.

Prambanan dan Pelajaran bagi Indonesia Masa Kini

Lebih dari seribu tahun setelah dibangun, Prambanan masih menyampaikan pesan penting mengenai arti sebuah peradaban.

Kebesaran sebuah masyarakat tidak hanya ditentukan oleh luas wilayah atau kekuatan politiknya, tetapi juga oleh kemampuan menciptakan pengetahuan, karya seni, sistem sosial, serta warisan yang dapat bertahan melampaui generasi.

Bersama Borobudur dan berbagai peninggalan di sekitarnya, Prambanan menunjukkan kemampuan masyarakat Jawa Kuno menerima pengaruh dari luar sekaligus mengolahnya menjadi karya dengan karakter budaya sendiri.

Tantangan Indonesia saat ini bukan sekadar membangun sesuatu yang semegah Prambanan.

Tantangan yang lebih besar adalah membangun peradaban yang layak diwariskan: menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, menjaga kebudayaan, menghormati kehidupan spiritual, merawat lingkungan, serta berpikir melampaui kepentingan satu generasi.

Prambanan akhirnya mengingatkan bahwa kekuasaan dapat berubah dan zaman dapat berganti, tetapi karya peradaban yang memiliki nilai dapat terus berbicara kepada manusia jauh setelah penciptanya tiada.

Oleh: Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol

Jakarta, 11 Agustus 2026

BERSAMBUNG

Perjalanan Bentang Peradaban Nusantara belum berhenti di Borobudur dan Prambanan. Pembahasan berikutnya akan menelusuri Sewu, Plaosan, Kalasan, dan sejumlah peninggalan lainnya untuk melihat bagaimana keyakinan, kekuasaan, ilmu pengetahuan, seni, serta kehidupan masyarakat membentuk ekosistem peradaban

Suwoto

Jurnalis :

Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketua KAN Canduang Koto Laweh Didesak Mundur, Diduga Tidak Amanah

    Ketua KAN Canduang Koto Laweh Didesak Mundur, Diduga Tidak Amanah

    • calendar_month Minggu, 14 Jun 2026
    • account_circle Muhammad Yaman
    • visibility 1.833
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes, Agam – Pengurus Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Canduang Koto Laweh, didukung sejumlah LSM, menyampaikan pernyataan tegas. Mereka mendesak Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Canduang Koto Laweh, Tamrin Datuk Pangeran, untuk segera meletakkan jabatannya. Diduga masa jabatan sudah habis, tidak amanah, dan banyak melanggar aturan adat serta hukum yang berlaku. Pertama, Terindikasi masa jabatan sudah […]

  • Mobil Operasional Desa Hegarmanah Hilang, BPKAD Mengaku Sudah Bersurat, Tapi Kapan? Publik Menunggu Bukti

    Mobil Operasional Desa Hegarmanah Hilang, BPKAD Mengaku Sudah Bersurat, Tapi Kapan? Publik Menunggu Bukti

    • calendar_month Jumat, 21 Agt 2026
    • account_circle Deden Guntara
    • visibility 135
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Kab. Bekasi – Pernyataan BPKAD Kabupaten Bekasi terkait hilangnya mobil operasional Desa Hegarmanah justru memunculkan pertanyaan baru. BPKAD mengklaim telah menyurati Inspektorat Kabupaten Bekasi untuk menindaklanjuti persoalan tersebut. Namun ketika diminta menyebutkan kapan surat itu dikirim, pejabat yang berwenang memberikan jawaban yang sangat sederhana: “Lupa.” Kepala Bidang Aset BPKAD Kabupaten Bekasi, Asep Setiawan, saat […]

  • Aktivis Demokrasi, Ivan Haikal : Hukum Tak Boleh Dikorbankan Demi Keuntungan Sengketa Tanah Fort de Kock, Ujian Bagi Kepentingan Rakyat

    Aktivis Demokrasi, Ivan Haikal : Hukum Tak Boleh Dikorbankan Demi Keuntungan Sengketa Tanah Fort de Kock, Ujian Bagi Kepentingan Rakyat

    • calendar_month Minggu, 23 Agt 2026
    • account_circle Muhammad Yaman
    • visibility 164
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Bukittinggi — Perselisihan atas tanah kawasan Universitas dan STIKes Fort de Kock hingga kini belum menemukan titik terang. Pemerintah Kota Bukittinggi, Yayasan Pendidikan Fort de Kock, dan pihak perorangan saling bersitegang mempertahankan klaim kepemilikan, masing-masing berpegang pada dasar hukum yang dianggap sah. Di balik tumpukan dokumen, angka miliaran rupiah, dan putusan pengadilan yang […]

  • Kapolda Kalbar Jalin Silaturahmi dengan Kajati Kalbar, Perkuat Sinergi Penegakan Hukum photo_camera 5

    Kapolda Kalbar Jalin Silaturahmi dengan Kajati Kalbar, Perkuat Sinergi Penegakan Hukum

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Hepni Jaya Kusuma
    • visibility 165
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Pontianak – Kapolda Kalimantan Barat, Irjen Pol. Alberd Teddy Benhard Sianipar, S.I.K., M.H., melakukan kunjungan silaturahmi ke Kepala Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat, Dr. Emilwan Ridwan, S.H., M.H., di Kantor Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat, Pontianak, Selasa (14/7). Kunjungan ini menjadi langkah awal untuk semakin memperkuat sinergi dan koordinasi antara Polri dan Kejaksaan dalam mendukung […]

  • Hari Jadi ke-78 Polwan, Kapolda Tekankan Peningkatan Kompetensi dan Pelayanan Humanis

    Hari Jadi ke-78 Polwan, Kapolda Tekankan Peningkatan Kompetensi dan Pelayanan Humanis

    • calendar_month Rabu, 9 Sep 2026
    • account_circle Hepni Jaya Kusuma
    • visibility 145
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Pontianak, Kalbar – Wakapolda Kalimantan Barat Brigjen Pol. Hindarsono, S.I.K., S.H., M.Hum., menghadiri kegiatan syukuran dalam rangka Hari Jadi ke-78 Polisi Wanita (Polwan) Republik Indonesia Tahun 2026 di Graha Khatulistiwa Polda Kalbar, Selasa (08/9). Turut hadir pada acara tersebut Ibu Asuh Polwan Polda Kalbar, Wakil Ketua Bhayangkari Daerah Kalimantan Barat, Pengurus Bhayangkari Daerah […]

  • Sekum BGN dan Pemkab Belitung Timur Resmikan SPPG Mekarjaya untuk Layani 2.049 Penerima Manfaat

    Sekum BGN dan Pemkab Belitung Timur Resmikan SPPG Mekarjaya untuk Layani 2.049 Penerima Manfaat

    • calendar_month Rabu, 14 Okt 2026
    • account_circle Ramlie Arbaie
    • visibility 244
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Manggar — Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Pemerintah Kabupaten Belitung Timur resmi mengoperasikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mekarjaya di Desa Mekarjaya, Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur, Rabu (14/10/2026). Peresmian ini menandai peluncuran tahap kedua Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dilaksanakan secara serentak di sejumlah wilayah Indonesia guna menekan angka stunting dan […]

expand_less