Menjadikan Hijrah sebagai Gaya Hidup, Pesan Menyentuh Ustadz Indra Saepurhaman di Masjid Rabiatul Adawiyah Cileungsi
- account_circle Hapzon Effendi
- calendar_month Minggu, 14 Jun 2026
- visibility 175
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes, Bogor – Suasana sejuk dan penuh keberkahan menyelimuti Masjid Rabiatul Adawiyah, Cileungsi, Kabupaten Bogor, pada Ahad pagi (14/06/2026). Jamaah yang hadir dalam kajian ba’dah Subuh tampak khusyuk menyimak tausiyah yang disampaikan oleh Ustadz Indra Saepurhaman, S.H.I. dengan tema “Menjadikan Hijrah sebagai Gaya Hidup.”
Mengawali ceramahnya, Ustadz Indra mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SWT karena masih diberikan kesempatan untuk bangun di waktu Subuh, berdzikir, berwudhu, dan melangkahkan kaki menuju masjid.
Beliau mengingatkan tentang hadits Rasulullah SAW yang menjelaskan bahwa setiap malam manusia diikat oleh setan dengan tiga ikatan. Ketika seseorang bangun lalu berdzikir kepada Allah, terlepaslah satu ikatan. Saat berwudhu, terlepas ikatan kedua. Kemudian ketika ia melaksanakan shalat dan menuju masjid, terlepaslah ikatan ketiga.
“Alhamdulillah, jika kita istiqamah menjalankan kebaikan-kebaikan tersebut, maka Allah akan menunjukkan jalan-jalan kebaikan lainnya,” ungkapnya.
Menurut Ustadz Indra, hidayah ibarat sebuah pintu. Jika tidak diketuk dan tidak dibuka, maka seseorang tidak akan pernah masuk ke dalamnya. Karena itu setiap hari umat Islam memohon petunjuk kepada Allah melalui bacaan Ihdinash Shirathal Mustaqim dalam Surah Al-Fatihah.
Dalam materi utamanya, beliau menjelaskan bahwa hijrah secara bahasa berarti berpisah atau berpindah. Hijrah tidak hanya bermakna perpindahan fisik, tetapi juga hijrah maknawi, yaitu perpindahan hati dan perilaku dari keburukan menuju kebaikan.
“Hijrah yang paling penting adalah hijrah hati. Berpindah dari maksiat menuju ketaatan, dari kelalaian menuju kesadaran untuk mendekat kepada Allah SWT,” jelasnya.
Beliau juga mengingatkan bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda dalam beramal. Karena itu, setiap Muslim hendaknya terus memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, bersedekah, mempererat silaturahmi, serta melakukan berbagai amal saleh lainnya sesuai kemampuan masing-masing.
Pada kesempatan tersebut, Ustadz Indra turut menjelaskan keutamaan bulan Muharram yang termasuk salah satu dari empat bulan suci dalam Islam. Tiga bulan suci berlangsung berturut-turut, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, sementara satu bulan lainnya adalah Rajab.
Beliau menjelaskan bahwa pada bulan-bulan suci, umat Islam dianjurkan untuk semakin menjauhi kemaksiatan karena dosa yang dilakukan memiliki konsekuensi yang lebih berat. Adapun amalan yang dianjurkan pada bulan Muharram adalah memperbanyak amal saleh secara umum serta melaksanakan puasa Tasu’a dan Asyura pada tanggal 9 dan 10 Muharram sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.
Selain itu, beliau juga meluruskan beberapa pemahaman yang berkembang di masyarakat mengenai bulan Muharram. Menurutnya, tidak terdapat dalil khusus yang menyebutkan bahwa tanggal 10 Muharram merupakan “Lebaran Anak Yatim”. Namun demikian, menyantuni dan memuliakan anak yatim tetap merupakan amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam sepanjang waktu.
Menjelang akhir kajian, Ustadz Indra membagikan enam kunci agar seorang Muslim mampu istiqamah dalam berhijrah:
Meluruskan niat hijrah semata-mata karena Allah SWT.
Meninggalkan segala bentuk maksiat dan memperbanyak istighfar.
Bertekad kuat untuk terus memperbaiki amal dan ibadah.
Memilih lingkungan dan teman-teman yang baik.
Rajin menghadiri majelis ilmu untuk menambah wawasan keislaman.
Memperbanyak doa agar diberikan keistiqamahan oleh Allah SWT.
Kajian ditutup dengan doa dan harapan agar seluruh jamaah senantiasa diberikan kekuatan untuk terus berada di jalan yang lurus serta mampu menjadikan hijrah sebagai gaya hidup dalam kehidupan sehari-hari.
“Ya Allah, janganlah Engkau gelincirkan hati kami setelah Engkau memberikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.”
Pesan utama yang dapat dipetik dari kajian tersebut adalah bahwa hijrah bukan sekadar perubahan sesaat, melainkan proses panjang yang harus terus dijaga dengan ilmu, amal, lingkungan yang baik, dan doa yang tidak pernah putus kepada Allah SWT.
(Liputan: Hapzon Effendi, Media Suara Mabes)
Jurnalis : Hapzon Effendi
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 9 September 2025 sebagai Jurnalis Pusat. Email : hapson.effendi@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar