Perang Fondasi Peradaban Abad ke-21: Saat Energi, Data, dan Persepsi Menjadi Medan Laga Baru
- account_circle Suwoto
- calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
- visibility 251
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes, Jakarta – Dinamika global abad ke-21 terus mengalami perubahan yang sangat cepat. Jika pada masa lalu persaingan antarbangsa identik dengan perebutan wilayah, jalur perdagangan, maupun ideologi, kini dunia memasuki babak baru yang ditandai dengan perebutan fondasi utama peradaban modern.
Pandangan tersebut disampaikan Brigjen TNI (Purn.) M.J.P. Hutagaol, mantan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) sekaligus Pembina Forum Komunikasi Keluarga Purnawirawan Baret Merah (FKKPBM), dalam analisis strategisnya mengenai fenomena yang ia sebut sebagai “Perang Fondasi” (Foundation Warfare).
Menurut Hutagaol, terdapat tiga pilar utama yang kini menjadi pusat persaingan global, yakni Energi, Data, dan Persepsi.
“Dunia berubah sangat cepat. Saat ini yang diperebutkan bukan lagi sekadar wilayah, melainkan fondasi yang menopang peradaban modern,” ujar Hutagaol dalam ulasannya yang dirilis di Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Tiga Pilar Penentu Kekuatan Global
Dalam kajiannya, Hutagaol menjelaskan bahwa ketiga pilar tersebut menjadi faktor penentu kekuatan dan pengaruh negara di era modern.
Pilar pertama adalah Energi, yang berperan sebagai penggerak utama kehidupan, ekonomi, industri, hingga stabilitas nasional. Negara-negara seperti Rusia dan Iran masih memiliki posisi strategis karena menguasai cadangan energi serta jalur distribusi yang penting bagi dunia.
Pilar kedua adalah Data, yang kini menjadi sumber kekuatan baru dalam pengambilan keputusan, pengembangan teknologi, hingga kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Amerika Serikat dinilai masih mendominasi sektor ini melalui perusahaan-perusahaan teknologi global, sementara Taiwan memegang posisi vital sebagai pusat industri semikonduktor dunia.
Sementara itu, pilar ketiga adalah Persepsi, yakni kemampuan membentuk cara berpikir, opini publik, dan arah tindakan masyarakat. Dalam konteks ini, Inggris dinilai berhasil mempertahankan pengaruh global melalui dominasi bahasa Inggris dalam berbagai sektor internasional. Sedangkan Israel menjadi contoh bagaimana inovasi teknologi, intelijen, dan komunikasi strategis mampu membangun pengaruh yang melampaui batas geografisnya.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar