Wali Nagari Zulkhiyar DT. Pado di Aceh: Momen Pengangkatan 5 Ninik Mamak, Teguhkan Persatuan dan Adat Kamang Tangah Anam Suku
- account_circle Muhammad Yaman
- calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
- visibility 201
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Kamang Tangah Anam Suku — Suasana penuh kekhidmatan dan sukacita menyelimuti wilayah Kampuang Pisang, Jorong Bansa hari ini. Upacara adat Alek Batagak Pangulu yang menyahkan dan mengukuhkan kelima Ninik Mamak baru berjalan lancar sejak pukul 09.00 WIB hingga selesai.
Wali Nagari Kamang Tangah Anam Suku sekaligus Ninik Mamak terhormat Zulkhiyar, S.H. Dt. Pado Diaceh yang akrab disapa Nyiak Aceh, menyampaikan bahwa momen ini jauh lebih dari sekadar seremonial pemberian gelar: “Ini adalah pengukuhan kembali prinsip hidup yang menjadi fondasi masyarakat adat kita.”
Beliau menegaskan pelantikan ini berlandaskan dua filosofi luhur warisan leluhur:
Pertama, Tombak nan Sabatang: bermakna seluruh elemen masyarakat harus menyatu dalam satu tekad, satu suara, dan satu tujuan—tak boleh terbelah layaknya batang tombak yang utuh dari pangkal hingga ujung.
Kedua, Tombak nan Sakaki: mengandung arti kedudukan kita harus kokoh tak tergoyahkan, berpijak teguh di atas aturan adat dan syariat agama.
Nyiak Aceh menambahkan, Kerapatan Adat Nagari (KAN) sebagai lembaga adat tertinggi adalah perwujudan nyata dari prinsip tersebut: berperan sebagai pondasi nagari, pelestari warisan leluhur, perekat pemangku adat, pelindung hak ulayat, serta penjaga keseimbangan antara norma adat dan ajaran agama.
“Istilah ‘Batagak Pangulu’ hakikatnya berarti kita sedang mendirikan kembali tiang penyangga kaum dan suku. Seperti rumah gadang yang berdiri tegak berkat tiangnya, begitu pula keberadaan suku kita kokoh karena pemimpin yang dipercaya,” jelas beliau.
Makna mendalam lainnya, lanjutnya, adalah pengingat agar kita tak melupakan asal-usul, tak memutus tali persaudaraan, dan senantiasa menjadikan adat istiadat sebagai payung perlindungan bersama.
Pengangkatan kelima Datuak ini pada hakikatnya adalah penyerahan amanah besar: menjaga nama baik kaum, membimbing anak kemenakan, menyelesaikan perselisihan, dan menyatukan langkah demi kemajuan nagari. “Seorang Pangulu tidak memimpin untuk dihormati semata, melainkan berjuang agar anak cucu kelak hidup makmur, berilmu, dan berbudi pekerti luhur,” ujarnya.
Dengan perasaan haru dan bangga, Wali Nagari menyampaikan ucapan selamat serta apresiasi mendalam kepada kelima Ninik Mamak yang kini resmi menyandang gelar Datuak. Beliau berharap gelar ini diiringi tanggung jawab yang besar, bukan kebanggaan sesaat, dan mendoakan agar mereka menjadi pemimpin yang bijaksana—mau mendengar keluh kesah rakyat kecil, serta berani memperjuangkan kebenaran.
Zulkhiyar juga yakin sepenuhnya para pemimpin baru mampu menjaga keseimbangan antara syariat agama dan adat Minangkabau, sehingga kehadiran mereka semakin memperkokoh persatuan antarsuku demi kemajuan bersama Nagari Kamang Tangah Anam Suku.
Terakhir, beliau menyampaikan terima kasih atas kehadiran dan doa restu seluruh lapisan masyarakat, serta mengajak semua pihak untuk mendukung para pemimpin baru: “Sebab keberhasilan pemimpin adalah kebahagiaan kita semua.”
Kehadiran tokoh agama, tokoh adat, para undangan, dan keluarga besar menjadi bukti nyata eratnya persaudaraan serta komitmen masyarakat dalam menjaga kelestarian tradisi luhur di tanah Minangkabau.
(FK/YamanLbs)
Jurnalis : Muhammad Yaman
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 18 April 2024 sebagai Jurnalis Kab. Agam - Sumatera Barat. Email : muhammad.yaman@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar