Strategic Coherence: Ketika Banyak Kekuatan Harus Bergerak dalam Satu Arah
- account_circle Suwoto
- calendar_month Rabu, 30 Sep 2026
- visibility 99
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta – Keberhasilan sebuah sistem tidak hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya, jumlah institusi, maupun banyaknya program. Kekuatan strategis baru dapat menghasilkan dampak optimal ketika berbagai unsur mampu bergerak secara selaras, saling melengkapi, dan menuju tujuan yang sama.
Gagasan tersebut menjadi pokok pembahasan dalam Seri Memahami ESTOM #23 berjudul “Strategic Coherence — Koherensi Strategis: Ketika Banyak Kekuatan Harus Bergerak dalam Satu Arah”, yang ditulis Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol, Jakarta, 23 Agustus 2026.
Pembahasan ini merupakan kelanjutan dari Seri #22 mengenai Strategic Scale, yang menyoroti bagaimana keberhasilan yang telah terbukti dapat diperbesar menjadi kekuatan sistem.
Bukan Keseragaman
Strategic Coherence dijelaskan sebagai kemampuan menyelaraskan tujuan, kebijakan, sumber daya, kelembagaan, waktu, dan tindakan agar berbagai unsur dapat saling melengkapi menuju tujuan strategis yang sama.
Koherensi tidak berarti seluruh unsur harus memiliki fungsi, metode, maupun struktur yang sama. Tentara memiliki fungsi berbeda dengan diplomat, pemerintah pusat berbeda dengan pemerintah daerah, sementara BUMN, swasta, produsen, logistik dan pasar juga memiliki peran masing-masing.
Persoalan muncul ketika perbedaan fungsi tersebut berubah menjadi pertentangan arah. Analogi yang digunakan adalah sebuah orkestra: instrumennya berbeda, tugasnya berbeda, tetapi seluruhnya memainkan lagu yang sama.
Masalah Strategis Berada di Antara Organisasi
Dalam sistem yang kompleks, setiap organisasi dapat cenderung mengoptimalkan wilayahnya sendiri. Pada sektor pangan misalnya, persoalan tidak hanya menyangkut produksi, tetapi juga pupuk, air, energi, pergudangan, logistik, pembiayaan, pengolahan, perdagangan, pasar, data hingga konsumen.
Produksi dapat meningkat, tetapi gudang belum siap. Gudang tersedia, namun transportasi mahal. Transportasi tersedia, tetapi kapasitas pengolahan terbatas. Pengolahan tersedia, tetapi pasar belum terhubung.
Karena itu, keberhasilan pada satu bagian belum tentu menghasilkan keberhasilan pada keseluruhan sistem. Local optimum belum tentu menghasilkan system optimum.
Tujuan Bersama dan Kesadaran Situasi
Menurut seri tersebut, tujuan bersama menjadi titik awal Strategic Coherence. Pertanyaan strategis bukan hanya mengenai program masing-masing lembaga atau besarnya anggaran, tetapi keadaan akhir seperti apa yang ingin diciptakan bersama.
Tujuan bersama menjadi arah utama (north star). Untuk mencapainya, lingkungan strategis perlu dipetakan secara menyeluruh, termasuk hubungan antarpihak, ketergantungan, kewenangan, sumber daya, aliran informasi, konflik kepentingan, maupun kekosongan peran.
Koherensi juga membutuhkan shared situational awareness. Data produksi, impor, stok, harga, cuaca dan kondisi logistik perlu dapat dihubungkan sehingga membentuk gambaran situasi yang dapat dipahami bersama.
Vertikal dan Horizontal
Strategic Coherence membutuhkan dua dimensi sekaligus, yakni vertical coherence dan horizontal coherence.
Koherensi vertikal menghubungkan tingkat nasional, kementerian/lembaga, daerah, pelaksana hingga lapangan. Sementara koherensi horizontal menghubungkan antarkementerian, antardaerah, pemerintah dan dunia usaha, serta produsen, logistik, industri dan pasar.
Keduanya perlu berjalan bersamaan agar sistem tidak terjebak dalam silo maupun kehilangan arah strategis.
Koordinasi Bukan Sekadar Menambah Struktur
Kelemahan koordinasi tidak otomatis harus dijawab dengan pembentukan struktur baru. Tim, satuan tugas, sekretariat atau forum koordinasi dapat dibutuhkan dalam kondisi tertentu, tetapi semakin banyak struktur tidak dengan sendirinya menghasilkan semakin besar koherensi.
Koordinasi yang efektif justru diharapkan mengurangi duplikasi, konflik, waktu tunggu dan ketidakjelasan tanggung jawab. Prinsipnya adalah memperlancar sistem, bukan menambah lapisan birokrasi.
Mengelola Trade-Off
Koherensi strategis juga berkaitan dengan kemampuan mengelola trade-off. Tidak semua kepentingan dapat dimaksimalkan secara bersamaan.
Harga pangan yang rendah dapat memberi manfaat bagi konsumen, tetapi harga yang terlalu rendah dapat menekan produsen. Stok besar dapat memperkuat keamanan pasokan, tetapi juga menimbulkan biaya. Efisiensi tinggi dapat menekan biaya, tetapi cadangan yang terlalu tipis dapat mengurangi daya tahan sistem.
Karena itu, Strategic Coherence bukan berarti menghilangkan trade-off, melainkan memastikan pertukaran kepentingan dipahami, diputuskan dan dikelola berdasarkan tujuan strategis.
Indonesia: Satu Arah, Banyak Medan
Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan wilayah luas, kondisi geografis beragam serta struktur pemerintahan dan ekonomi yang kompleks, keseragaman total bukan satu-satunya jawaban. Namun, fragmentasi juga dapat menimbulkan persoalan.
Kerangka ini menekankan pentingnya tujuan nasional yang jelas, standar minimum, keterhubungan data, pembagian peran, ruang adaptasi daerah serta mekanisme sinkronisasi.
Prinsip yang ditawarkan adalah “Satu arah, banyak cara sesuai medan.”
Strategic Coherence dalam Kerangka ESTOM
Dalam kerangka ESTOM, Strategic Coherence bukan merupakan unsur keenam. Environment memetakan keadaan dan hubungan antarunsur; Sensing mengumpulkan informasi dan membangun gambaran situasi; Thinking menganalisis keadaan dan menghasilkan pilihan; Operation menentukan tindakan, peran, sumber daya dan mekanisme koordinasi; sedangkan Maneuver menjaga sinkronisasi serta menyesuaikan pelaksanaan terhadap perubahan lingkungan.
Dengan demikian, Strategic Coherence merupakan kualitas keterhubungan yang membuat berbagai tindakan dapat saling melengkapi dan memperkuat menuju tujuan strategis.
Ujian Koherensi Strategis
Sebelum sistem bergerak, sejumlah pertanyaan penting perlu dijawab: apa tujuan bersama, siapa yang memimpin dan mendukung, apakah data saling terhubung, apakah anggaran mengikuti prioritas, apakah sistem insentif mendukung kolaborasi, apakah terdapat tumpang tindih atau kekosongan tanggung jawab, serta apakah tersedia mekanisme feedback.
Pada akhirnya, Strategic Coherence bukan tentang membuat semua unsur menjadi sama. Konsep ini menekankan bagaimana unsur yang berbeda tetap menjalankan fungsi masing-masing, tetapi terhubung, saling melengkapi dan bergerak menuju tujuan bersama.
Kekuatan strategis muncul ketika berbagai institusi, program, infrastruktur, teknologi, sumber daya manusia dan sumber daya lainnya dapat terhubung serta bekerja sebagai sebuah sistem.
Seri Memahami ESTOM #23 kemudian menjadi jembatan menuju pembahasan berikutnya, Seri Memahami ESTOM #24: “Strategic Adaptation — Adaptasi Strategis: Ketika Arah Harus Tetap Benar di Tengah Dunia yang Berubah.”
Jakarta, 23 Agustus 2026
Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar