Strategi Perang Nusantara Seri 10: Belajar dari Sejarah, Membangun Aliansi Tanpa Kehilangan Kemandirian Bangsa
- account_circle Suwoto
- calendar_month Senin, 2 Nov 2026
- visibility 211
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta – Membangun kekuatan nasional tidak selalu harus dilakukan sendiri. Kemampuan menjalin aliansi, membaca kepentingan mitra, serta memanfaatkan momentum geopolitik menjadi bagian penting dalam mempertahankan kedaulatan dan mencapai tujuan strategis bangsa.
Gagasan tersebut menjadi pokok pembahasan dalam Strategi Perang Nusantara Seri 10 karya Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol berjudul “Aliansi: Membangun Kekuatan Tanpa Kehilangan Kemandirian.”
Tulisan ini mengulas pengalaman empat tokoh sejarah, yakni Raden Wijaya, Arung Palakka, Sultan Nuku, dan Soekarno, serta dinamika hubungan politik Joko Widodo dan Prabowo Subianto sebagai gambaran perubahan konfigurasi aliansi dalam politik Indonesia modern.
Belajar dari Strategi Para Tokoh Nusantara
Pengalaman Raden Wijaya dalam mendirikan Majapahit pada 1293 memperlihatkan pentingnya kemampuan membaca situasi dan memanfaatkan kerja sama untuk mengubah posisi yang lemah menjadi kekuatan politik. Hubungannya dengan Arya Wiraraja serta pemanfaatan kedatangan pasukan Mongol menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut.
Sementara itu, Arung Palakka menunjukkan bagaimana kepentingan politik Bone bertemu dengan kepentingan VOC dalam menghadapi Gowa pada abad ke-17. Kerja sama tersebut turut berperan dalam Perang Makassar yang berakhir dengan semakin kuatnya pengaruh VOC di kawasan Sulawesi Selatan.
Pengalaman ini memberikan pelajaran bahwa kemenangan dalam sebuah aliansi tidak selalu menghasilkan keuntungan yang seimbang bagi seluruh pihak.
Berbeda dengan itu, Sultan Nuku dari Tidore memperlihatkan pentingnya membangun jaringan lintas kawasan. Melalui hubungan dengan berbagai kelompok di Maluku, Halmahera, Seram, Papua, serta Inggris, Nuku memperluas dukungan dalam menghadapi tekanan VOC.
Dalam sejarah Indonesia modern, Soekarno juga memperlihatkan kekuatan diplomasi melalui Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung. Forum yang diikuti 29 negara Asia dan Afrika tersebut menghasilkan Dasasila Bandung sebagai landasan penting hubungan internasional, penghormatan terhadap kedaulatan, dan kerja sama antarbangsa.
Perjuangan diplomasi Indonesia dalam penyelesaian sengketa Irian Barat juga memperlihatkan bagaimana dinamika Perang Dingin dapat menjadi bagian dari pertimbangan strategis nasional.
Aliansi dalam Politik Indonesia Modern
Hutagaol turut menyoroti perubahan hubungan politik Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Keduanya pernah bersaing dalam Pilpres 2014 dan 2019, sebelum Prabowo bergabung dalam pemerintahan Jokowi sebagai Menteri Pertahanan.
Pada 2024, Prabowo terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia dan dilantik pada 20 Oktober 2024.
Dinamika tersebut menunjukkan bahwa persaingan politik dapat berkembang menjadi kerja sama melalui proses demokrasi. Namun, aliansi politik tetap harus memperhatikan kepentingan publik, transparansi, pengawasan, dan independensi lembaga negara.
Tujuh Prinsip Membangun Aliansi Strategis
Dari berbagai pengalaman sejarah tersebut, Hutagaol merumuskan tujuh prinsip yang dapat menjadi bahan pembelajaran dalam membangun kekuatan nasional, yaitu:
- Baca diri: memahami kemampuan, kelemahan, sumber daya, dan tujuan sendiri.
- Baca mitra: memahami kepentingan pihak yang bekerja sama.
- Baca lawan: mengenali kekuatan dan kemungkinan perubahan sikap pihak lain.
- Kuasai momentum: membaca peluang dan perubahan situasi.
- Kelola jaringan: membangun komunikasi, kepercayaan, dan kerja sama.
- Jaga ketahanan: memastikan aliansi tidak melemahkan kemampuan nasional.
- Jaga kemandirian: mempertahankan tujuan strategis bangsa.
Kerangka pemikiran tersebut juga dibandingkan dengan literatur strategi dunia, antara lain The Art of War karya Sun Tzu, Arthashastra karya Kautilya, dan On War karya Carl von Clausewitz.
Perbandingan tersebut dimaksudkan untuk memperkaya analisis, bukan menyatakan bahwa para tokoh Nusantara secara langsung menerapkan teori-teori tersebut.
Sejarah sebagai Dasar Pengetahuan Strategis
Salah satu penekanan Seri 10 adalah pentingnya membangun kebanggaan terhadap sejarah Nusantara berdasarkan fakta dan penelitian yang bertanggung jawab.
Hutagaol menawarkan tahapan pengembangan konsep melalui proses: data sejarah, pola tindakan, analisis, perbandingan, perumusan konsep, hingga penerapan.
Pendekatan ini diharapkan dapat menjadikan pengalaman sejarah sebagai sumber pembelajaran untuk menghadapi tantangan geopolitik dan dinamika hubungan internasional masa kini.
Pada akhirnya, aliansi merupakan instrumen untuk memperkuat posisi bangsa, bukan tujuan yang harus dipertahankan tanpa mempertimbangkan kepentingan nasional.
Kerja sama internasional perlu dibangun dengan perhitungan matang, kesadaran terhadap kepentingan masing-masing pihak, serta kemampuan menjaga kemandirian dalam menentukan arah kebijakan.
Sebagaimana pesan utama dalam tulisan tersebut:
“Aliansi boleh berubah, momentum harus dibaca, tetapi kemandirian dan tujuan bangsa harus tetap dijaga.”
Penulis: Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar