Menggapai Umur yang Barakah, Ustadz Muhammad Taufiq Daud: Semakin Bertambah Usia, Semakin Baik Amalnya
- account_circle Hapzon Effendi
- calendar_month Sabtu, 1 Agt 2026
- visibility 165
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Bogor — Kajian bertajuk “Menggapai Umur yang Barakah” disampaikan Ustadz Muhammad Taufiq Daud, M.P.H., M.A. di Masjid Darussalam Kota Wisata, Jumat (31/7/2026). Kajian tersebut mengajak jamaah melakukan muhasabah terhadap umur, ilmu, harta, jabatan, dan kesehatan yang telah Allah SWT anugerahkan.
Dalam tausiyahnya, Ustadz Muhammad Taufiq Daud mengingatkan bahwa panjangnya usia seseorang bukanlah ukuran utama keberhasilan hidup. Hal terpenting adalah bagaimana usia tersebut digunakan sebagai bekal menuju kehidupan akhirat.
“Perjalananku sangat panjang, sementara bekalku sangat sedikit,” menjadi salah satu ungkapan yang disampaikan untuk menggambarkan pentingnya mempersiapkan bekal akhirat.
Jamaah diajak merenungkan sejumlah pertanyaan mendasar: Nikmat umur sudah digunakan untuk apa? Ilmu yang diperoleh sudah diamalkan untuk apa? Harta dan jabatan diperoleh dari mana serta digunakan untuk apa? Dan kesehatan jasmani maupun rohani dimanfaatkan untuk apa?
Dalam urusan harta, ia mencontohkan kehati-hatian sahabat Nabi ﷺ, Abdurrahman bin Auf RA. Menjadi orang kaya, pengusaha ataupun pejabat tidaklah dilarang, selama harta dan kedudukan tersebut justru membawa seseorang semakin dekat kepada jalan ketakwaan.
Kajian juga mengingatkan bahwa manusia sering kali baru memahami betapa mahalnya nikmat kesehatan ketika sakit datang. Demikian pula waktu luang baru terasa sangat berharga ketika seseorang berada dalam kesempitan.
Ustadz Muhammad Taufiq Daud kemudian mengingatkan pesan Rasulullah ﷺ bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang panjang umurnya dan baik amalnya, sedangkan seburuk-buruk manusia adalah mereka yang panjang umurnya tetapi buruk amalnya.
Jamaah pun diajak bermuhasabah tentang kebiasaan sehari-hari.
“Malam ini, apakah kita lebih banyak melihat HP daripada melihat dan membaca Al-Qur’an? Bagaimana jika malam ini Allah memanggil kita?”
Pesan tersebut dikaitkan dengan QS. Al-Mu’minun ayat 99–100, yang menggambarkan penyesalan manusia ketika kematian datang dan keinginannya untuk kembali ke dunia agar dapat mengerjakan amal saleh. QS. Fatir ayat 37 juga menjadi pengingat bahwa manusia telah diberikan umur yang cukup untuk mengambil pelajaran.
Memasuki usia 40 tahun menjadi momentum penting untuk semakin memperbaiki kehidupan. Merujuk QS. Al-Ahqaf ayat 15, jamaah diajak untuk semakin bersyukur, memperbanyak amal saleh, memperbaiki diri, memperbanyak taubat, serta semakin berserah diri kepada Allah SWT.
Pesan utama kajian tersebut sederhana namun mendalam: semakin bertambah usia, hendaknya semakin banyak bersyukur dan semakin sedikit mengeluh; semakin banyak amal saleh dan semakin sedikit “amal salah”.
Umur yang barakah pada akhirnya bukan semata-mata umur yang panjang, melainkan umur yang setiap pertambahannya membuat seorang hamba semakin bertakwa dan semakin dekat kepada Allah SWT.
(Hapzon Effendi | Jurnalis Media Suara Mabes)
Jurnalis : Hapzon Effendi
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 9 September 2025 sebagai Jurnalis Pusat. Email : hapson.effendi@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar