Mengambil Ibroh dari Kisah Nabi Ibrahim AS dan Keluarganya, Dalam Menghadapi Ujian Hidup & Mendidik Anak
- account_circle Hapzon Effendi
- calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
- visibility 351
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes, Cileungsi – Khatib Jumat Masjid Rabiatul Adawiyah, Cileungsi, Ustadz Sa’adul Hay, Lc., mengajak jamaah untuk mengambil pelajaran (ibroh) dari kisah Nabi Ibrahim AS dan keluarganya dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan serta dalam mendidik anak-anak agar tumbuh menjadi generasi yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.
Dalam khutbah Jumat yang disampaikan pada Jumat, 29 Mei 2026, Ustadz Sa’adul Hay mengawali khutbahnya dengan mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa bersyukur atas nikmat iman, Islam, dan kesehatan yang masih diberikan Allah SWT. Shalawat dan salam juga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Beliau mengingatkan bahwa umat Islam saat ini masih berada dalam suasana hari-hari Tasyrik yang termasuk hari-hari mulia di sisi Allah SWT. Momentum tersebut menjadi kesempatan bagi kaum muslimin untuk meningkatkan ketakwaan sekaligus merenungkan berbagai pelajaran berharga dari para nabi dan orang-orang saleh.
Menurutnya, kehidupan manusia tidak akan pernah terlepas dari berbagai ujian. Ada yang diuji dengan harta, keluarga, kesulitan hidup, kesehatan, jabatan, maupun berbagai persoalan lainnya. Semua itu merupakan bagian dari sunnatullah yang pasti dialami setiap manusia.
“Allah ingin melihat siapa di antara hamba-Nya yang memiliki amal terbaik. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala (untuk menguji kalian siapa yang paling baik amalnya),” ujar Ustadz Sa’adul Hay.
Ia menyesalkan fenomena sebagian manusia yang justru menjauh dari Allah ketika menghadapi kesulitan hidup. Padahal, Islam mengajarkan agar seorang mukmin selalu bersyukur ketika memperoleh nikmat dan bersabar ketika menghadapi ujian.
Dalam khutbahnya, Ustadz Sa’adul Hay kemudian mengajak jamaah meneladani keteguhan iman Nabi Ibrahim AS beserta keluarganya. Nabi Ibrahim AS menghadapi berbagai ujian berat sepanjang hidupnya. Beliau pernah diusir oleh kaumnya dan bahkan dibakar hidup-hidup. Namun, karena keimanan yang kokoh dan keyakinan penuh kepada Allah SWT, pertolongan Allah selalu datang pada waktu yang tepat.
Keteladanan yang sama juga ditunjukkan oleh Siti Hajar. Ketika ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim AS di tengah padang pasir yang tandus bersama putranya yang masih kecil, Siti Hajar sempat bertanya berulang kali tentang alasan dirinya ditinggalkan. Namun ketika mengetahui bahwa hal tersebut merupakan perintah Allah SWT, ia menerima dengan penuh keikhlasan dan keyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang taat.
“Dengan iman yang kuat, Siti Hajar yakin bahwa pertolongan Allah pasti datang. Dan benar, Allah kemudian menghadirkan mukjizat air Zamzam yang hingga kini menjadi sumber keberkahan bagi umat manusia,” jelasnya.
Demikian pula Nabi Ismail AS yang mendapatkan ujian luar biasa ketika diperintahkan Allah SWT melalui ayahnya untuk disembelih. Berkat pendidikan tauhid yang kuat dari kedua orang tuanya, Nabi Ismail AS menerima perintah tersebut dengan penuh keikhlasan dan kesabaran.
Allah SWT mengabadikan peristiwa tersebut dalam Al-Qur’an ketika Nabi Ibrahim AS bertanya kepada putranya tentang perintah yang diterimanya dalam mimpi. Dengan penuh ketundukan, Nabi Ismail AS menjawab:
“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Menurut Ustadz Sa’adul Hay, keimanan Nabi Ismail AS tidak lahir begitu saja, melainkan merupakan buah dari pendidikan yang diberikan oleh orang tuanya sejak dini. Karena itu, peran orang tua dalam membentuk karakter dan keimanan anak sangatlah penting.
Beliau menegaskan bahwa pendidikan anak bahkan sudah dimulai sejak mereka masih berada dalam kandungan. Orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam menanamkan nilai-nilai keimanan, akhlak mulia, dan kecintaan kepada Allah SWT.
“Maka menjadi tugas kita sebagai orang tua untuk memberikan teladan yang baik kepada anak-anak kita. Semoga Allah menjadikan putra-putri kita sebagai generasi yang beriman dan bertakwa, serta menjadikan kita sebagai orang tua yang mampu menjadi teladan bagi mereka,” tutupnya.
Khutbah tersebut menjadi pengingat bagi seluruh jamaah bahwa keteguhan iman, kesabaran dalam menghadapi ujian, serta pendidikan anak yang berlandaskan nilai-nilai Islam merupakan kunci dalam membangun keluarga yang diridhai Allah SWT, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar, dan Nabi Ismail AS.
Penulis:Hapzon Effendi.
Jurnalis : Hapzon Effendi
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 9 September 2025 sebagai Jurnalis Pusat. Email : hapson.effendi@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar