Korupsi dan Krisis Moral Bangsa: Saatnya Menghidupkan Kembali Hikmat Kebijaksanaan
- account_circle Suwoto
- calendar_month Rabu, 10 Jun 2026
- visibility 202
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pentingnya Hikmat Kebijaksanaan dalam Kepemimpinan
Salah satu fokus utama tulisan tersebut adalah makna sila keempat Pancasila, yakni “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.”
Hikmat kebijaksanaan dipandang bukan hanya sebagai kecerdasan berpikir, melainkan kemampuan untuk menggunakan akal budi, hati nurani, kejujuran, serta integritas dalam mengambil keputusan yang mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Menurut Hutagaol, seorang pemimpin yang memiliki hikmat kebijaksanaan akan memandang jabatan sebagai amanah dan kekuasaan sebagai sarana pengabdian, bukan sebagai alat untuk memperkaya diri atau memperluas pengaruh.
Reformasi Moral Menuju Indonesia Emas 2045
Dalam menghadapi tantangan menuju Indonesia Emas 2045, ia menilai bahwa pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi saja tidak cukup. Indonesia memerlukan reformasi moral yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat.
Beberapa langkah yang dinilai penting antara lain membangun keteladanan kepemimpinan, memperkuat pendidikan karakter sejak usia dini, mengembalikan keluarga sebagai pusat pembentukan moral, membangun birokrasi yang transparan dan berbasis digital, serta menegakkan hukum secara adil dan konsisten.
Selain itu, budaya malu terhadap korupsi dan penyalahgunaan amanah harus kembali ditumbuhkan sebagai bagian dari kehidupan sosial bangsa. Pancasila juga perlu dihidupkan sebagai perilaku nyata, bukan sekadar dihafalkan atau dijadikan slogan.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar