Energi, Data, dan Persepsi Jadi Fondasi Baru Kekuatan Dunia, Indonesia Perlu Perkuat Kemandirian Strategis
- account_circle Suwoto
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 58
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta — Persaingan kekuatan global pada abad ke-21 tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan militer, penguasaan wilayah, dan jalur perdagangan. Energi, teknologi, data, serta kepercayaan publik kini menjadi faktor penting yang turut memengaruhi posisi strategis suatu negara.
Pandangan tersebut disampaikan MJP Hutagaol ’86 dalam tulisan analisis berjudul “Perang Fondasi: Energi, Data, dan Persepsi”, Seri 2 dari 7, yang membahas perubahan medan kekuasaan dunia dan implikasinya terhadap masa depan Indonesia.
Menurut MJP, bentuk kekuasaan terus mengalami perubahan. Jika dahulu pengaruh negara banyak bertumpu pada pelabuhan, benteng, armada, dan jalur perdagangan, kini infrastruktur energi, pusat data, satelit, semikonduktor, kabel bawah laut, sistem pembayaran, dan platform digital turut menentukan kekuatan strategis.
Persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok, dalam kerangka tersebut, tidak hanya berkaitan dengan aspek militer dan perdagangan, tetapi juga penguasaan teknologi, keamanan rantai pasok, penetapan standar, serta ketergantungan ekonomi jangka panjang.
Energi dan Mineral Strategis
MJP menempatkan energi sebagai fondasi ketahanan nasional karena pasokannya menopang industri, transportasi, layanan kesehatan, telekomunikasi, pusat data, hingga sistem pertahanan.
Bagi Indonesia, potensi energi fosil dan energi terbarukan merupakan peluang yang perlu didukung pembangunan infrastruktur, investasi, penguasaan teknologi, dan tata kelola yang efektif. Ketahanan energi tidak cukup dinilai dari besarnya sumber daya, tetapi juga dari kemampuan mengolah, mendistribusikan, dan memanfaatkannya secara efisien.
Selain energi, mineral strategis seperti nikel, litium, kobalt, tembaga, grafit, dan unsur tanah jarang memiliki peran dalam pengembangan kendaraan listrik, penyimpanan energi, teknologi digital, serta sejumlah sistem pertahanan modern.
Indonesia dinilai memiliki posisi strategis melalui industri nikel. Namun, hilirisasi perlu melampaui pengolahan bahan mentah dengan mendorong riset, pengembangan tenaga kerja terampil, produksi komponen, dan penguasaan teknologi nasional. Manfaat ekonomi juga perlu memperhatikan keberlanjutan usaha dan dampak lingkungan.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar