Breaking News
light_mode
Trending HasTags
Beranda » Opini » Enam Gunung Api Erupsi, Indonesia Diingatkan Kembali Untuk Membaca Alam

Enam Gunung Api Erupsi, Indonesia Diingatkan Kembali Untuk Membaca Alam

  • account_circle Suwoto
  • calendar_month Rabu, 9 Sep 2026
  • visibility 119
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MediaSuaraMabes | Jakarta — Aktivitas erupsi sejumlah gunung api di Indonesia kembali mengingatkan masyarakat bahwa kehidupan di Nusantara tidak dapat dipisahkan dari dinamika alam. Fenomena tersebut juga membuka ruang untuk melihat kembali pengetahuan leluhur dalam beradaptasi dengan lingkungan, termasuk melalui arsitektur dan pola kehidupan tradisional.

Pada 31 Agustus 2026, enam gunung api dilaporkan mengalami erupsi, yakni Gunung Sinabung di Sumatera Utara, Anak Krakatau di Selat Sunda, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Lewotobi Laki-Laki dan Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, serta Gunung Ibu di Maluku Utara.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menegaskan bahwa aktivitas tersebut merupakan dinamika vulkanik masing-masing gunung dan tidak serta-merta menunjukkan bahwa erupsi satu gunung memicu erupsi gunung lainnya.

Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik dan memiliki banyak gunung api aktif. Kondisi tersebut membuat masyarakat sejak dahulu harus beradaptasi dengan berbagai dinamika lingkungan, mulai dari aktivitas vulkanik, gempa bumi, banjir, longsor hingga perubahan kondisi alam.

Belajar dari Arsitektur Leluhur

Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol menyoroti salah satu bentuk pengetahuan adaptif yang dapat dikaji melalui arsitektur tradisional Nusantara.

Masyarakat masa lalu memang belum memiliki seismograf, satelit, sensor digital, kecerdasan buatan maupun sistem peringatan dini seperti saat ini. Namun, pengalaman panjang berinteraksi dengan lingkungan diwariskan melalui berbagai praktik kehidupan.

Rumah panggung, penggunaan material kayu, struktur yang relatif ringan, teknik sambungan tertentu serta pemilihan lokasi merupakan bagian dari beragam tradisi arsitektur yang berkembang sesuai kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat setempat.

Meski demikian, menurut Hutagaol, tidak tepat apabila seluruh rumah tradisional Nusantara secara otomatis disebut sebagai “rumah tahan gempa”. Setiap arsitektur memiliki konteks budaya, material, teknik konstruksi, kondisi lingkungan dan sejarah adaptasi yang berbeda.

Hal yang lebih penting adalah mengkaji pengetahuan di balik bentuk tersebut.

Mengapa masyarakat menggunakan kayu? Mengapa rumah dibuat panggung? Mengapa sambungan konstruksi dibuat dengan teknik tertentu? Dan mengapa sebuah rumah ditempatkan pada lokasi tertentu?

Pertanyaan tersebut dapat menjadi bahan penelitian untuk mempertemukan pengetahuan tradisional dengan ilmu pengetahuan modern.

Dari Pengalaman Menuju Data

Pengetahuan leluhur banyak dibangun melalui pengamatan dan pengalaman yang diwariskan lintas generasi. Sementara manusia modern memiliki instrumen ilmiah, data, pemodelan, penginderaan jauh, teknologi digital dan sistem pemantauan.

Keduanya tidak harus dipertentangkan. Pengetahuan tradisional dapat menjadi objek penelitian, sedangkan teknologi modern dapat digunakan untuk menguji dan mengembangkan pengetahuan yang masih relevan.

Karena itu, pelestarian budaya tidak semestinya hanya mempertahankan bentuk rumah, ukiran atau ornamen. Logika pengetahuan yang melatarbelakangi suatu tradisi juga penting untuk dipelajari.

Pengetahuan tersebut dapat diteliti, diuji secara ilmiah dan dikembangkan apabila terbukti sesuai dengan kebutuhan masyarakat masa kini.

Warisan untuk Ketangguhan Masa Depan

Indonesia saat ini memiliki berbagai modal dalam menghadapi risiko bencana, mulai dari ilmu geologi dan seismologi hingga teknologi satelit, sistem pemantauan gunung api, teknologi informasi dan kecerdasan buatan.

Di sisi lain, Nusantara memiliki warisan pengetahuan lokal yang terbentuk melalui pengalaman panjang masyarakat dalam berinteraksi dengan alam.

Pertemuan antara keduanya dapat menjadi salah satu pendekatan dalam membangun ketangguhan masyarakat.

Warisan leluhur tidak harus disalin begitu saja. Pengetahuan tersebut perlu dipahami, diteliti, diuji dan dikembangkan sesuai kebutuhan zaman.

Dengan demikian, mempelajari arsitektur dan kehidupan leluhur bukan berarti membawa masyarakat kembali ke masa lalu. Sebaliknya, pengetahuan masa lalu dapat menjadi salah satu sumber pembelajaran untuk membangun masa depan yang lebih adaptif terhadap lingkungan dan risiko bencana.

Gunung api akan terus menjadi bagian dari dinamika alam Indonesia. Tugas manusia bukan menghentikan alam, melainkan memahami karakteristiknya, mengurangi risiko dan membangun kehidupan yang semakin siap menghadapinya.

Pada akhirnya, mengenal Indonesia bukan hanya mengenal wilayahnya, tetapi juga belajar membaca alam sebelum membangun kehidupan di atasnya.

MJP Hutagaol ’86

Suwoto

Jurnalis :

Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tim Gabungan Tindaklanjuti 26 Hotspot Karhutla di Kendawangan, Helikopter Water Boom Dikerahkan

    Tim Gabungan Tindaklanjuti 26 Hotspot Karhutla di Kendawangan, Helikopter Water Boom Dikerahkan

    • calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
    • account_circle A'ang Sanjaya
    • visibility 126
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Ketapang, Kalbar – Polres Ketapang melalui Polsek Kendawangan bersama BKSDA dan PT. BMK melakukan groundcheck atas Hospots setelah terdeteksi Aplikasi satelit Lancang Kuning, TERRA dan SNPP yg terdapat di wilayah Polsek Kendawangan Kabupaten Ketapang pada Senin (14/9/2026). “26 titik Hospots yang tersebar di wilayah Desa Air Hitam Hulu, Desa Air Hitam Besar dan […]

  • Tiga Hari Tersesat dan Jalan Kaki di Jepara, Transmigran Asal Kudus Berhasil Dipertemukan Kembali dengan Keluarga

    Tiga Hari Tersesat dan Jalan Kaki di Jepara, Transmigran Asal Kudus Berhasil Dipertemukan Kembali dengan Keluarga

    • calendar_month Selasa, 28 Jul 2026
    • account_circle Supriyono
    • visibility 186
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Jepara – Sinergi dan respons cepat jajaran kepolisian kembali membuahkan aksi kemanusiaan yang menyentuh hati. Seorang warga asal Desa Rahtawu, Kecamatan Gebok, Kabupaten Kudus, yang sempat tersesat dan berjalan kaki selama tiga hari di wilayah Kabupaten Jepara, akhirnya berhasil dievakuasi dan dipertemukan kembali dengan pihak keluarga pada Senin (27/7/2026). Pria bernama Suraji tersebut […]

  • Cegah Penyalahgunaan Narkoba Sejak Dini, Satresnarkoba Polres Ketapang Berikan Penyuluhan di SMA Negeri 3 Ketapang photo_camera 3

    Cegah Penyalahgunaan Narkoba Sejak Dini, Satresnarkoba Polres Ketapang Berikan Penyuluhan di SMA Negeri 3 Ketapang

    • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
    • account_circle A'ang Sanjaya
    • visibility 143
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Ketapang, Kalbar – Dalam upaya mencegah penyalahgunaan narkotika di kalangan pelajar, Satresnarkoba Polres Ketapang melaksanakan kegiatan penyuluhan tentang bahaya dan dampak penyalahgunaan narkotika serta sanksi hukum bagi pelaku penyalahgunaan narkotika di SMA Negeri 3 Ketapang, Kecamatan Delta Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Selasa (21/7/2026). Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah […]

  • Diduga Ada Perubahan Kebijakan Pengelolaan Parkir di KFC Ciracas, Warga Keluhkan Tidak Bisa Lagi Titip Kendaraan photo_camera 2

    Diduga Ada Perubahan Kebijakan Pengelolaan Parkir di KFC Ciracas, Warga Keluhkan Tidak Bisa Lagi Titip Kendaraan

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • account_circle Suwoto
    • visibility 266
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes, Jakarta Timur | Sejumlah warga di sekitar kawasan Ciracas, Jakarta Timur, mengeluhkan perubahan kebijakan penggunaan lahan parkir di area KFC Ciracas. Keluhan tersebut muncul setelah beberapa warga yang sebelumnya rutin menitipkan kendaraan di lokasi tersebut mengaku tidak lagi diperbolehkan menggunakan fasilitas parkir untuk penitipan kendaraan dalam jangka waktu tertentu. Berdasarkan keterangan salah seorang warga yang […]

  • R. Datuk Rumah Sati Sikumbang Bangkitkan Canduang Lewat Koperasi photo_camera 6

    R. Datuk Rumah Sati Sikumbang Bangkitkan Canduang Lewat Koperasi

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • account_circle Muhammad Yaman
    • visibility 1.587
    • 2Komentar

    MediaSuaraMabes, Canduang Koto Laweh – Di tengah hamparan alam yang kaya dan semangat warga yang tak pernah padam, nama R. Datuk Rumah Sati Sikumbang kini kembali menjadi harapan besar bagi tanah kelahirannya. R. Datuk Rumah Sati Sikumbang merupakan yokoh adat yang dikenal lugas, apa adanya, dan berpegang teguh pada prinsip transparansi serta akuntabilitas ini, akhirnya […]

  • Gong Wagub Jatim, Emil Dardak Tandai Bamus Madura Ressmi Didirikan photo_camera 3

    Gong Wagub Jatim, Emil Dardak Tandai Bamus Madura Ressmi Didirikan

    • calendar_month Senin, 6 Apr 2026
    • account_circle Khairul Huda
    • visibility 197
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes, Bangkalan — Pemukulan Gong Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak menandai berdirinya Bamus (Badan Musyawarah) Madura. Emil Dardak berharap Bamus Madura dapat mengawal investor ke Pulau Madura. Bamus Madura digagas KRH.HM.Jusuf Rizal, Ketua Umum Madas Nusantara dan dudeklarasikan tiga ormas Madas (Madas Sedarah, Madas Serumpun dan Madas Nusantara), 1 April 2026 di Bangkalan, Madura, […]

expand_less