Breaking News
light_mode
Trending HasTags
Beranda » Opini » Dekolonisasi Pemikiran Seri 8: Dari Nusantara Membangun Masa Depan

Dekolonisasi Pemikiran Seri 8: Dari Nusantara Membangun Masa Depan

  • account_circle Suwoto
  • calendar_month Minggu, 4 Okt 2026
  • visibility 101
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MediaSuaraMabes | Jakarta — Dekolonisasi pemikiran tidak semestinya dipahami sebagai ajakan untuk kembali secara romantis ke masa lalu. Gagasan tersebut lebih diarahkan pada upaya membangun kemampuan sebuah bangsa untuk menentukan pertanyaan, membaca realitas, menguji pengetahuan, serta menghasilkan kontribusi intelektual bagi dunia.

Pandangan tersebut disampaikan Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol dalam tulisan bertajuk “Dekolonisasi Pemikiran — Seri 8: Dari Nusantara Membangun Masa Depan”, bertanggal Jakarta, 3 Oktober 2026.

Menurut Hutagaol, membaca kembali Nusantara bukan semata-mata untuk menemukan kebanggaan terhadap masa lalu atau menganggap seluruh warisan leluhur pasti benar. Dekolonisasi pemikiran juga bukan berarti menolak pemikiran Barat dan menggantinya dengan pusat pengetahuan baru.

“Tujuan yang lebih besar adalah mengembalikan kemampuan sebuah bangsa untuk menentukan pertanyaannya sendiri, membaca realitasnya sendiri, menguji pengetahuannya sendiri, dan menyumbangkan hasilnya kepada dunia,” demikian gagasan utama dalam tulisan tersebut.

Warisan Peradaban sebagai Sumber Pengetahuan

Hutagaol menilai pengetahuan dapat ditemukan melalui berbagai jejak peradaban, seperti bangunan, batu, naskah, prasasti, kapal, peta, sistem pertanian, tata ruang, bahasa, tradisi hingga cara masyarakat mengorganisasi kehidupannya.

Borobudur, misalnya, tidak hanya dapat dipandang sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga sebagai objek penelitian. Cara bangunan didirikan, sistem pembebanan, pemilihan dan penyusunan batu, hingga rancangan ruang dan proporsinya dapat dikaji melalui berbagai disiplin, termasuk teknik sipil, geometri, material, geologi, hidrologi dan arsitektur.

Dengan perspektif tersebut, peninggalan masa lalu dapat berubah dari sekadar objek yang dikagumi menjadi objek yang diselidiki secara ilmiah.

Pentingnya Disiplin Penelitian

Selain peninggalan fisik, Sutasoma, Nagarakretagama, berbagai babad dan prasasti dinilai dapat menjadi sumber data sekaligus sumber pertanyaan.

Namun, Hutagaol menekankan pentingnya membedakan teks dengan tafsir, sumber primer dengan sumber sekunder, serta fakta dengan dugaan. Hipotesis dan teori juga tidak dapat ditempatkan pada kedudukan yang sama.

Pendekatan tersebut diperlukan agar pembacaan terhadap masa lalu tidak berubah menjadi pemitosan sejarah. Sebaliknya, warisan tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk meneliti berbagai persoalan yang belum sepenuhnya terjawab.

Bukan Pertentangan Barat dan Nusantara

Dalam tulisan tersebut, dekolonisasi pemikiran tidak ditempatkan sebagai pertentangan antara Barat dan Nusantara. Hutagaol menolak pandangan sederhana yang menempatkan “Barat salah” dan “Nusantara benar”.

Berbagai tradisi pengetahuan, baik dari Barat, Timur maupun peradaban lainnya, dinilai tetap dapat dipelajari secara terbuka. Namun, semuanya harus melewati ukuran yang sama, yakni bukti dan pengujian.

Perkembangan teknologi juga dinilai membuka peluang penelitian yang lebih luas. Metodologi ilmiah, statistika, komputasi, pemodelan, arkeologi modern, penginderaan jauh, sistem informasi geografis (GIS) hingga kecerdasan buatan dapat digunakan sebagai perangkat penelitian.

Meski demikian, teknologi tidak otomatis menentukan pertanyaan penelitian. Manusia tetap berperan dalam menentukan apa yang hendak dicari dan bagaimana hasilnya diuji.

Dari Konsumen Menjadi Produsen Pengetahuan

Hutagaol mendorong perubahan posisi bangsa berkembang dalam ekosistem pengetahuan, dari konsumen menjadi produsen.

Menerima, menggunakan, mengajarkan dan menerapkan teori dinilai bukan sesuatu yang keliru. Namun, proses tersebut tidak seharusnya menjadi titik akhir. Tahap berikutnya adalah kemampuan mengajukan pertanyaan, mengumpulkan data, membangun konsep, merumuskan hipotesis, melakukan pengujian, menerima bantahan, memperbaiki kesimpulan dan menghasilkan pengetahuan baru.

Dalam konteks itu, data menjadi dasar penting. Sebuah pola tidak otomatis menjadi teori, sementara penemuan naskah tidak serta-merta menjadikan seluruh isinya sebagai fakta. Kesimpulan perlu ditahan sampai tersedia bukti yang memadai.

Nusantara sebagai Laboratorium Peradaban

Nusantara juga dipandang sebagai laboratorium peradaban. Kepulauan, laut, gunung api, hutan tropis, sungai, pertanian, perdagangan, permukiman, keberagaman bahasa dan budaya serta pertemuan berbagai peradaban merupakan pengalaman manusia yang dapat terus diteliti.

Penelitian terhadap Nusantara tidak harus berhenti pada pertanyaan mengenai masa lalu. Pengetahuan yang dihasilkan juga dapat diarahkan untuk menjawab tantangan masa depan.

Hutagaol mengingatkan bahwa penelitian warisan Nusantara tidak perlu diarahkan untuk membuktikan leluhur bangsa Indonesia sebagai yang paling unggul dibandingkan peradaban lain. Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang dikuasai, bagaimana pengetahuan tersebut diterapkan, seberapa akurat, dalam kondisi apa pengetahuan itu bekerja, dan apa yang dapat dipelajari darinya.

Membangun Kedaulatan Intelektual

Kedaulatan intelektual bukan berarti sebuah bangsa harus menghasilkan seluruh pengetahuannya sendiri. Kedaulatan intelektual justru berarti kemampuan untuk memilih, mengkritik, mengembangkan, menggabungkan dan, bila diperlukan, menciptakan pengetahuan baru.

Indonesia tetap dapat belajar dari berbagai negara dan tradisi keilmuan. Namun, ketika menghadapi persoalan Indonesia, kemampuan membaca realitas berdasarkan data dan kondisi Indonesia menjadi penting.

Tradisi ilmiah juga membutuhkan keterbukaan terhadap koreksi. Generasi berikutnya harus memiliki ruang untuk membantah kesimpulan generasi sebelumnya apabila didukung data, metode, argumentasi dan bukti yang memadai.

Dari Objek Menjadi Subjek

Pada akhirnya, seri kedelapan “Dekolonisasi Pemikiran” menempatkan kemerdekaan intelektual bukan sebagai penolakan terhadap pengetahuan dunia, melainkan kemampuan untuk belajar dari siapa pun tanpa kehilangan kemampuan berpikir sendiri.

Posisi yang hendak dibangun adalah perubahan dari objek menjadi subjek, dari konsumen menjadi produsen, serta dari pihak yang hanya dijelaskan menjadi pihak yang turut memberikan penjelasan.

Rangkaian gagasan tersebut dirumuskan dalam alur:

PERTANYAAN → PENELITIAN → PENGETAHUAN → INOVASI → PERADABAN

Dengan demikian, membaca kembali Nusantara bukan sekadar mencari kebanggaan sejarah, melainkan membuka ruang untuk menentukan pertanyaan, mengumpulkan data, menguji pengetahuan, membangun teori dan memberikan kontribusi bagi dunia.

Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol
Jakarta, 3 Oktober 2026

Suwoto

Jurnalis :

Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Strong Point Pagi Hari, Personel Polres Aceh Tenggara Perkuat Pengaturan Lalu Lintas di Titik Rawan

    Strong Point Pagi Hari, Personel Polres Aceh Tenggara Perkuat Pengaturan Lalu Lintas di Titik Rawan

    • calendar_month Senin, 21 Sep 2026
    • account_circle Agus Suprianto
    • visibility 92
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Aceh Tenggara – Untuk menjaga kelancaran arus lalu lintas dan meningkatkan keselamatan pengguna jalan, Polres Aceh Tenggara secara rutin melaksanakan kegiatan Strong Point pada pagi hari di sejumlah lokasi yang memiliki aktivitas lalu lintas cukup tinggi. 21 September 2026 Personel dari berbagai satuan diterjunkan ke lapangan dan ditempatkan di persimpangan, titik rawan kemacetan, […]

  • Media Suara Mabes Resmi Berdiri 16 Juni 2021, Usung Semangat Jurnalistik Positif untuk TNI dan Polri 57:47 Play Button

    Media Suara Mabes Resmi Berdiri 16 Juni 2021, Usung Semangat Jurnalistik Positif untuk TNI dan Polri

    • calendar_month Rabu, 16 Jun 2021
    • account_circle Suwoto
    • visibility 160
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes, Jakarta – Media Suara Mabes resmi berdiri pada 16 Juni 2021, bertepatan dengan hari lahir Dewan Pendiri Suratno yang juga menjabat sebagai Pimpinan Umum Media Suara Mabes serta Direktur Utama PT Globalindo Suara Media. Peresmian Media Suara Mabes dilaksanakan secara sederhana dan penuh suasana kekeluargaan di Kantor Pusat Media Suara Mabes yang berlokasi di […]

  • KING JABAR dan RD Law Office Sebut Gugatan PMH Merupakan Instrumen Hukum Dalam Mencari Keadilan

    KING JABAR dan RD Law Office Sebut Gugatan PMH Merupakan Instrumen Hukum Dalam Mencari Keadilan

    • calendar_month Kamis, 25 Jun 2026
    • account_circle Aan Hermawan
    • visibility 181
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes, Bogor | Ketua Umum LPKSM PATROLI, H. Sukarman, S.H., M.H., yang dikenal dengan sebutan KING JABAR, bersama tim kuasa hukum dari RD Law Office and Partner menegaskan bahwa gugatan perdata, termasuk Gugatan Perbuatan Melawan Hukum (PMH), merupakan mekanisme hukum yang sah dan dijamin oleh peraturan perundang-undangan untuk memperoleh keadilan dan kepastian hukum. Pernyataan tersebut […]

  • Presiden Prabowo Resmikan 218 Jembatan di Indonesia, Menhan Sjafrie Sjamsoeddin Turut Mendampingi photo_camera 4

    Presiden Prabowo Resmikan 218 Jembatan di Indonesia, Menhan Sjafrie Sjamsoeddin Turut Mendampingi

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle Suwoto
    • visibility 109
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes, Bogor — Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam peresmian 218 jembatan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Peresmian dilakukan secara hybrid melalui konferensi video dari Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Senin (9/3). Sebanyak 218 jembatan tersebut dibangun oleh Satuan Tugas Jembatan dalam kurun waktu sekitar dua setengah bulan. Infrastruktur yang diresmikan terdiri […]

  • Api Mengamuk di Tiga Kelurahan, Babinsa Koramil 03/Skh dan Tim Gabungan Turun Tangan Selamatkan Lahan

    Api Mengamuk di Tiga Kelurahan, Babinsa Koramil 03/Skh dan Tim Gabungan Turun Tangan Selamatkan Lahan

    • calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
    • account_circle Hepni Jaya Kusuma
    • visibility 99
    • 0Komentar

    MediaSuataMabes | Singkawang – Sebanyak 15 titik kebakaran terpantau di wilayah Koramil 1202-03/Singkawang, Jum’at (04/09/2026). Tak ingin kobaran api meluas, TNI bersama Polri, Manggala Agni, MPA, dan masyarakat bergerak cepat melakukan pengecekan, pemadaman, serta pendinginan di tiga kelurahan. Titik kebakaran tersebar di Kelurahan Setapuk Kecil sebanyak 8 titik, Sungai Rasau 5 titik, dan Sungai Bulan […]

  • Pangdam III/Siliwangi Ajak Pengusaha Perkuat Sinergi Jaga Kelestarian Citarum

    Pangdam III/Siliwangi Ajak Pengusaha Perkuat Sinergi Jaga Kelestarian Citarum

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Achmad Arif Rachman
    • visibility 177
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Bandung – Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Kosasih, S.E., M.M., melaksanakan tatap muka dengan para pengusaha industri di Kabupaten Bandung di Meeting Room Sharon Bakery, Jalan Rancajigang No.108, Desa Padamulya, Kecamatan Majalaya, Selasa (14/7-2026). Kegiatan yang dihadiri sekitar 150 peserta tersebut bertujuan memperkuat sinergi antara TNI, pemerintah daerah, dan dunia usaha dalam mendukung Program Citarum […]

expand_less