Dari Tempe ke Selat Hormuz, MJP Hutagaol Soroti Ketahanan Energi Indonesia
- account_circle Suwoto
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 60
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Enam Langkah Memperkuat Ketahanan Energi
Untuk menghadapi risiko gangguan pasokan, sejumlah langkah strategis dinilai perlu menjadi perhatian, yakni memperkuat produksi dan pengolahan energi domestik, mendiversifikasi negara pemasok dan jalur pengiriman, mengembangkan energi terbarukan, meningkatkan efisiensi, memperkuat cadangan strategis, serta meningkatkan transparansi data.
Tulisan tersebut juga memperkenalkan kerangka ESTOM, yang mencakup pemetaan lingkungan, pemantauan perubahan, analisis risiko, pelaksanaan tindakan, penyesuaian strategi, serta evaluasi dan pembelajaran.
Kerangka ini diusulkan untuk membantu menghubungkan informasi dengan tindakan nyata. Penerapannya membutuhkan koordinasi pemerintah, badan usaha energi, pelabuhan, perusahaan pelayaran, sektor pertanian, dan pemerintah daerah.
Di sisi diplomasi, Indonesia dinilai perlu memperkuat komunikasi dengan negara-negara Asia, bertukar informasi keselamatan pelayaran, serta mendorong perlindungan awak kapal sipil dengan tetap memperhatikan hukum internasional.
Kemandirian Bukan Berarti Menutup Diri
MJP menekankan bahwa kemandirian strategis bukan berarti mengisolasi Indonesia dari perdagangan internasional. Kemandirian justru berarti memiliki pilihan pasokan dan kapasitas yang memadai untuk mengurangi dampak ketika salah satu pemasok atau jalur perdagangan mengalami gangguan.
Ia juga mengajukan gagasan Mazhab Nusantara, yakni pengembangan pemikiran strategis yang berangkat dari sejarah, budaya, pengalaman, dan kondisi nyata Indonesia. Sementara itu, konsep ISQ (Inner Spirit Quotient–Integrity Strategic) menyoroti integritas dan tanggung jawab dalam pengambilan keputusan. Kedua gagasan tersebut merupakan kerangka konseptual yang dikembangkan penulis dan memerlukan pengujian serta evaluasi dalam penerapannya.
Pada akhirnya, ketahanan Indonesia tidak cukup bertumpu pada kekayaan sumber daya alam. Ketahanan juga memerlukan informasi akurat, rantai pasok yang tangguh, institusi yang efektif, kebijakan yang dapat dipertanggungjawabkan, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan global.
Gangguan di Selat Hormuz menjadi pengingat bahwa kesiapan menghadapi krisis perlu dibangun sebelum dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat.
Penulis analisis: Brigjen (Purn) MJP Hutagaol
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar