Breaking News
light_mode
Trending HasTags
Beranda » Opini » Dari Kebiasaan Menjadi Budaya: Ketika Yang Terus Diulang Akhirnya Dianggap Normal

Dari Kebiasaan Menjadi Budaya: Ketika Yang Terus Diulang Akhirnya Dianggap Normal

  • account_circle Suwoto
  • calendar_month Kamis, 17 Sep 2026
  • visibility 132
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MediaSuaraMabes | Jakarta — Kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang tidak hanya membentuk perilaku seseorang, tetapi juga dapat berkembang menjadi norma sosial dan pada akhirnya menjadi budaya. Proses sederhana inilah yang menjadi perhatian Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol ’86 dalam tulisannya berjudul “Dari Kebiasaan Menjadi Budaya: Ketika yang Terus Diulang Akhirnya Dianggap Normal.”

Menurut MJP Hutagaol, budaya tidak selalu lahir dari aturan tertulis ataupun pidato. Budaya dapat terbentuk dari sesuatu yang jauh lebih sederhana, yakni contoh yang dilihat, perilaku yang ditiru, kemudian dilakukan secara berulang hingga dianggap sebagai sesuatu yang wajar.

“Sesuatu yang dilihat berulang-ulang, akan mudah ditiru. Sesuatu yang ditiru berulang-ulang, akan menjadi kebiasaan. Sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan, lama-lama dianggap wajar. Dan sesuatu yang sudah dianggap wajar oleh banyak orang, dapat berubah menjadi budaya.”

Ia memberikan ilustrasi sederhana melalui kebiasaan mengantre.

Seorang anak pada awalnya mungkin belum memahami alasan harus berdiri di belakang orang lain. Namun karena melihat orang tua, guru, dan orang-orang di sekitarnya mengantre, ia mulai menirunya. Setelah dilakukan berulang kali, mengantre tidak lagi dirasakan sebagai perintah, melainkan sebagai sesuatu yang memang seharusnya dilakukan.

Dari proses tersebut, menurutnya, terbentuk sebuah rangkaian: contoh → tindakan → pembiasaan → norma → budaya.

KETELADANAN LEBIH KUAT DARIPADA NASIHAT

Dalam kehidupan sehari-hari, anak tidak hanya belajar dari apa yang dikatakan kepadanya, tetapi juga dari apa yang dilihatnya.

Orang tua dapat mengajarkan disiplin, tetapi perilaku sehari-hari orang tua menjadi contoh yang lebih konkret bagi anak. Demikian pula dengan kejujuran dan kepatuhan terhadap aturan.

Jika seseorang melihat aturan dihormati, ia memperoleh contoh bahwa aturan memiliki nilai. Sebaliknya, apabila pelanggaran terus dilakukan dan dibiarkan, perilaku tersebut berpotensi dipandang sebagai sesuatu yang biasa.

“Manusia bukan hanya membaca aturan. Manusia membaca contoh.”

Karena itu, keteladanan menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter, baik di lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

KETIKA KEBIASAAN BERUBAH MENJADI NORMA

Kebiasaan pribadi dapat berkembang menjadi norma ketika dilakukan secara terus-menerus oleh banyak orang dan mendapatkan pembenaran dari lingkungan.

Pada tahap tertentu, orang tidak lagi bertanya apakah suatu tindakan benar atau salah. Pertanyaan dapat bergeser menjadi apakah tindakan tersebut dapat dilakukan atau tidak.

Menurut MJP Hutagaol, perubahan cara berpikir seperti itu perlu diwaspadai karena sesuatu yang sudah lama dilakukan belum tentu benar.

“Sebuah kesalahan yang diulang terus-menerus tidak berubah menjadi kebenaran. Tetapi dalam kehidupan sosial, kesalahan yang terus diulang dapat berubah menjadi sesuatu yang dianggap normal.”

Persoalannya menjadi lebih serius ketika kebiasaan yang dinormalisasi merupakan perilaku yang bertentangan dengan nilai kejujuran dan integritas.

KEBIASAAN KECIL DAN RISIKO PERILAKU KORUPTIF

Dalam tulisannya, MJP Hutagaol mengajak pembaca melihat persoalan korupsi bukan hanya dari besarnya nilai uang atau skala perkara, tetapi juga dari kebiasaan yang dapat menjadi pintu masuk perilaku koruptif.

Ia menyebut sejumlah contoh perilaku yang perlu dihindari, antara lain menyontek, memalsukan atau memanipulasi informasi, mengambil sesuatu yang bukan hak, memberikan uang agar urusan dipercepat, menggelembungkan biaya, serta menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi.

Menurutnya, persoalan mendasarnya bukan semata-mata jumlah uang yang terlibat, melainkan terbentuknya kebiasaan untuk mengambil sesuatu yang bukan hak.

“Masalahnya adalah ketika seseorang mulai membiasakan diri: mengambil yang bukan haknya.”

Karena itu, pencegahan perilaku koruptif tidak cukup dilakukan setelah sebuah pelanggaran menjadi perkara hukum. Pembentukan budaya integritas perlu dimulai dari lingkungan terdekat dan dari perilaku sehari-hari.

CONTOH DARI ATASAN TURUT MEMBENTUK LINGKUNGAN

Dalam organisasi, perilaku pimpinan juga dapat menjadi rujukan bagi bawahan.

Pegawai melihat atasannya. Bawahan melihat pimpinannya. Masyarakat melihat pejabat dan institusi yang menjalankan kewenangan publik.

Ketika suatu perilaku terus terlihat dan dilakukan berulang-ulang, lingkungan dapat ikut membentuk persepsi mengenai apa yang dianggap normal.

MJP Hutagaol menggambarkan rantai tersebut secara sederhana:

Yang di atas memberi contoh. Yang di bawah melihat. Yang di bawah meniru. Yang lain melihat. Kemudian meniru lagi.

Jika pola tersebut berlangsung terus, perilaku yang semula dipandang salah dapat berubah menjadi kebiasaan yang dibenarkan dengan alasan bahwa “memang begitulah sistemnya”.

Pada titik tersebut, persoalannya tidak lagi hanya menyangkut individu, tetapi juga lingkungan yang memungkinkan terjadinya normalisasi perilaku.

JANGAN SAMPAI MASYARAKAT KEHILANGAN RASA TERKEJUT

MJP Hutagaol juga mengingatkan pentingnya menjaga kepekaan publik terhadap persoalan korupsi.

Pemberitaan mengenai perkara korupsi dengan nilai besar dapat muncul berulang kali. Namun banyaknya pemberitaan dan besarnya angka tidak semestinya membuat masyarakat kehilangan kepedulian.

Menurutnya, korupsi tidak boleh berubah dari sesuatu yang dipandang sebagai kejahatan menjadi sekadar berita rutin.

Ia mengingatkan bahwa rasa malu merupakan salah satu rem moral dalam kehidupan sosial. Ketika mengambil sesuatu yang bukan hak mulai dianggap biasa, persoalan yang muncul bukan hanya kerugian material, tetapi juga persoalan karakter dan integritas.

MEMUTUS RANTAI DARI HAL-HAL SEDERHANA

Karena itu, pembentukan budaya antikorupsi menurut MJP Hutagaol perlu dimulai dari kebiasaan sehari-hari.

Keluarga dapat membangun kejujuran. Sekolah dapat membiasakan disiplin. Lingkungan kerja dapat memperkuat kepatuhan terhadap prosedur. Pemimpin dapat memberikan keteladanan. Masyarakat dapat membangun lingkungan yang tidak memberikan ruang bagi perilaku menyimpang untuk dianggap normal.

Rumusnya sederhana:

CONTOH → PEMBIASAAN → NORMA → BUDAYA.

Jika yang dibiasakan adalah kejujuran, maka kejujuran berpeluang menjadi norma. Jika disiplin terus dicontohkan dan dilakukan, disiplin dapat menjadi bagian dari budaya. Demikian pula dengan integritas.

Pada akhirnya, menurut MJP Hutagaol, sebuah bangsa tidak hanya mewariskan tanah, kekayaan, dan kekuasaan kepada generasi berikutnya. Bangsa juga mewariskan kebiasaannya.

“Apa yang hari ini kita biasakan, bisa menjadi budaya yang besok mereka warisi.”

Tulisan ini menjadi pengingat bahwa perubahan budaya tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Perubahan dapat dimulai dari contoh sederhana yang dilakukan secara konsisten, setiap hari, oleh setiap orang.

Suwoto

Jurnalis :

Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gugur Gerebek Bandar Narkoba, Kapolri Anugerahkan Kenaikan Pangkat Luar Biasa untuk Ipda Anumerta Sumariyanto photo_camera 5

    Gugur Gerebek Bandar Narkoba, Kapolri Anugerahkan Kenaikan Pangkat Luar Biasa untuk Ipda Anumerta Sumariyanto

    • calendar_month Senin, 6 Jul 2026
    • account_circle Agus Salim
    • visibility 135
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Kasongan – Suasana khidmat dan tangis haru menyelimuti upacara pemakaman kedinasan Almarhum Ipda Anumerta Sumariyanto di Kasongan, Kabupaten Katingan. Perwira Polri tersebut dinyatakan gugur saat menjalankan tugas mulia dalam operasi penggerebekan bandar narkoba di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah. Upacara penghormatan terakhir yang berlangsung pada Minggu (06/07/2026) malam hari ini dipimpin langsung […]

  • Mewakili Kapolres Ketapang, Wakapolres Sambut Kedatangan Bid Propam Polda Kalbar dan Kepala BNN Kubu Raya dalam Kegiatan Pembinaan Etika Profesi Polri T.A 2026

    Mewakili Kapolres Ketapang, Wakapolres Sambut Kedatangan Bid Propam Polda Kalbar dan Kepala BNN Kubu Raya dalam Kegiatan Pembinaan Etika Profesi Polri T.A 2026

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle A'ang Sanjaya
    • visibility 160
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes, Ketapang Kalbar – Mewakili Kapolres Ketapang AKBP Muhammad Harris S.H., S.I.K., M.I.K., CPHR. Wakapolres Ketapang Kompol Hoerrudin S.I.K., M.H. menyambut langsung kedatangan tim Bidang Profesi dan Pengamanan (Bid Propam) Polda Kalimantan Barat bersama Kepala BNN Kabupaten Kubu Raya dalam rangka pelaksanaan kegiatan Pembinaan Etika Profesi Polri Tahun Anggaran 2026 yang dilaksanakan di Aula Polres […]

  • Pangdam III/Siliwangi Berikan Pengarahan kepada 2.211 Personel Satuan TP Tahap IV di Dodik Secata Rindam III/Siliwangi

    Pangdam III/Siliwangi Berikan Pengarahan kepada 2.211 Personel Satuan TP Tahap IV di Dodik Secata Rindam III/Siliwangi

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle Achmad Arif Rachman
    • visibility 153
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Bandung – Pangdam III/Siliwangi, Mayjen TNI Kosasih, S.E., M.M., memberikan pengarahan kepada 2.211 personel Bintara dan Tamtama Satuan TP Tahap IV di Lapangan Sapta Marga Dodik Secata Rindam III/Siliwangi, Kampung Cikole, Desa Margamukti, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Selasa (7/7/2026). Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 07.18 hingga 09.16 WIB tersebut bertujuan memberikan motivasi, arahan, serta […]

  • Jaga Singkawang Tetap Aman, Kodim 1202/Skw Perkuat Patroli di Kawasan Rawan Karhutla

    Jaga Singkawang Tetap Aman, Kodim 1202/Skw Perkuat Patroli di Kawasan Rawan Karhutla

    • calendar_month Selasa, 29 Sep 2026
    • account_circle Hepni Jaya Kusuma
    • visibility 80
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Singkawang – Upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali terjadi terus digencarkan Kodim 1202/Singkawang. Meski kondisi sejumlah kawasan terpantau aman dan tidak ditemukan titik api maupun asap, kewaspadaan tetap diperkuat melalui patroli dan monitoring secara berkelanjutan. Pada Senin (28/09/2026), personel Kodim 1202/Singkawang bersama Yonif TP 839/SA BKO dan Anggota TNI Angkatan Udara […]

  • Semarak HUT ke-81 RI di Bandung Barat, Ibu Pimpinan Umum Media Suara Mabes Serahkan Hadiah Mesin Cuci Toshiba

    Semarak HUT ke-81 RI di Bandung Barat, Ibu Pimpinan Umum Media Suara Mabes Serahkan Hadiah Mesin Cuci Toshiba

    • calendar_month Minggu, 30 Agt 2026
    • account_circle Saud Maruntung
    • visibility 188
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Bandung Barat — Semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Bandung Barat berlangsung penuh kebersamaan dan keakraban, Minggu (30/8/2026). Salah satu momen yang menarik perhatian dalam rangkaian kegiatan tersebut adalah pemberian hadiah berupa satu unit mesin cuci Toshiba kepada penerima hadiah ke-II. Hadiah tersebut diserahkan langsung oleh Ibu Pimpinan […]

  • Sosok Presiden Yang Rela Melepas Jabatannya Di Depan Tuhannya

    Sosok Presiden Yang Rela Melepas Jabatannya Di Depan Tuhannya

    • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
    • account_circle Wajidi Adiansyah
    • visibility 167
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes, Mekkah – Inilah sosok yang sedang berbaring di atas tanah di tengah jutaan jamaah haji. Beliau adalah Presiden Republik Pantai Gading, Alassane Ouattara. Beliau datang untuk menunaikan ibadah haji dengan biaya pribadi, bahkan dikabarkan menolak fasilitas istana dan penginapan mewah yang biasanya disediakan sesuai protokol kenegaraan oleh pemerintah Saudi. Lalu muncul pertanyaan yang menggetarkan […]

expand_less