Perang Abad ke-21 Tak Lagi Hanya di Medan Tempur, Sistem Kehidupan Jadi Sasaran Strategis
- account_circle Suwoto
- calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
- visibility 158
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta — Karakter perang pada abad ke-21 dinilai mengalami perubahan. Konflik tidak lagi hanya berkaitan dengan pertempuran fisik di darat, laut dan udara, tetapi dapat meluas ke berbagai sistem yang menopang kehidupan dan keberlangsungan sebuah negara.
Pandangan tersebut disampaikan Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol dalam tulisan “Seri 1 — Membaca Perang Abad ke-21: Perang Sudah Berubah, Dari Medan Tempur Menuju Sistem Kehidupan”, yang ditulis di Jakarta, 4 September 2026.
Menurut Hutagaol, perkembangan teknologi dan perubahan lingkungan strategis telah memperluas ruang persaingan dan konflik hingga mencakup siber, informasi, ekonomi, serta ruang angkasa.
“Perang tidak selalu dimulai dengan tembakan. Ia dapat dimulai ketika sebuah bangsa perlahan kehilangan kemampuan menentukan nasibnya sendiri,” tulis Hutagaol.
Ia menjelaskan, dalam perang konvensional sasaran umumnya dapat dikenali, seperti wilayah, pasukan, pusat komando dan instalasi militer. Namun dalam konflik modern, perhatian dapat bergeser kepada sistem yang menjadi penopang kehidupan nasional.
Sistem energi, komunikasi, data, pelabuhan, rantai pasok, sistem keuangan, infrastruktur kritis dan ruang informasi disebut sebagai sejumlah aspek yang perlu diperhatikan dalam melihat kerentanan strategis.
Menurut Hutagaol, gangguan pada satu sistem berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap sistem lainnya. Gangguan energi, misalnya, dapat memengaruhi industri, kemudian berdampak pada perekonomian dan kehidupan masyarakat.
Karena itu, membaca perang modern tidak cukup hanya dengan mempertanyakan siapa yang menyerang siapa. Pertanyaan yang dinilai lebih penting adalah sistem apa yang sedang dipengaruhi, dilemahkan atau berpotensi dikendalikan.
Multi-Domain dan Tantangan Pertahanan
Dalam tulisannya, Hutagaol turut membahas konsep Multi-Domain Operation (MDO) yang berkembang dalam lingkungan pertahanan modern. Ia mengaitkan pembahasan tersebut dengan pelaksanaan Super Garuda Shield 2026 di Indonesia pada 31 Agustus hingga 11 September 2026.
Menurutnya, perkembangan latihan dan kesiapan operasi menunjukkan pentingnya integrasi kemampuan lintas domain.
“Darat harus terhubung dengan laut. Laut harus terhubung dengan udara. Udara harus terhubung dengan ruang angkasa. Semuanya membutuhkan data, komunikasi dan kemampuan mengambil keputusan dengan cepat,” tulisnya.
Namun, Hutagaol menilai pembahasan MDO juga perlu dilihat dari lapisan yang lebih mendasar, yakni sumber kekuatan yang menopang berbagai domain tersebut.
Gagasan “Perang Fondasi”
Dalam tulisan itu, Hutagaol memperkenalkan gagasan “Perang Fondasi” untuk melihat sumber kekuatan di balik berbagai domain strategis.
Energi dipandang sebagai penggerak sistem, data sebagai penghubung, ekonomi sebagai penggerak aktivitas, informasi sebagai pembentuk persepsi, sedangkan infrastruktur dan manusia menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan kehidupan nasional.
Ia mengajukan sejumlah pertanyaan strategis bagi Indonesia, antara lain mengenai ketahanan energi dan pangan, keamanan data, komunikasi, rantai pasok, infrastruktur kritis, ketahanan ekonomi serta kemampuan masyarakat menghadapi manipulasi informasi.
Menurutnya, pertanyaan mendasarnya adalah apakah Indonesia tetap memiliki kemampuan mengambil keputusan strategis berdasarkan kepentingan nasional ketika menghadapi tekanan atau gangguan.
Sebagai negara kepulauan dengan posisi geografis strategis, wilayah laut yang luas, sumber daya alam dan jumlah penduduk yang besar, Indonesia memiliki modal strategis. Namun, potensi tersebut membutuhkan sistem pendukung yang tangguh dan berkelanjutan.
Konflik di Wilayah Abu-Abu
Hutagaol juga mengingatkan bahwa pelemahan strategis tidak selalu diawali invasi atau pendudukan wilayah. Ketergantungan sistem, kerentanan infrastruktur, gangguan rantai pasok, tekanan ekonomi, kebocoran data maupun manipulasi informasi dapat menjadi persoalan strategis apabila terjadi dalam skala dan pola tertentu.
Ia menilai kondisi tersebut berkaitan dengan konsep grey zone, yakni situasi ketika batas antara damai, persaingan dan konflik semakin sulit dibedakan.
“Perang modern dapat berjalan dalam wilayah abu-abu. Tidak selalu ada deklarasi. Tidak selalu ada seragam. Tidak selalu ada garis depan. Tetapi dampaknya nyata,” tulisnya.
Melalui seri pertama ini, Hutagaol menempatkan MDO dan “Perang Fondasi” sebagai dua perspektif yang saling melengkapi. MDO melihat ruang serta integrasi operasi, sementara “Perang Fondasi” digunakan untuk melihat sumber kekuatan yang menopang berbagai domain tersebut.
Pembahasan akan dilanjutkan melalui seri berikutnya bertema “Perang Tanpa Pernyataan Perang”, yang akan mengulas bentuk-bentuk konflik strategis yang dapat berlangsung tanpa deklarasi perang secara formal.
Jakarta, 4 September 2026
Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar