Strategic Options: MJP Hutagaol Dorong Indonesia Membangun Pilihan Strategis Sebelum Krisis
- account_circle Suwoto
- calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
- visibility 142
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta — Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol kembali mengembangkan pemikiran mengenai ESTOM melalui Seri Memahami ESTOM #19 bertajuk “Strategic Options — Pilihan Strategis: Jangan Menunggu Krisis untuk Menciptakan Pilihan.” Tulisan tersebut bertanggal Jakarta, 3 September 2026.
Seri #19 menyoroti pentingnya kemampuan negara menyiapkan berbagai pilihan tindakan sebelum menghadapi perubahan lingkungan strategis maupun krisis. Menurut MJP Hutagaol, sebuah negara dapat memiliki energi, industri, teknologi, anggaran, pertahanan, data, dan sumber daya manusia, tetapi seluruh kapasitas tersebut belum otomatis memberikan ruang gerak ketika terjadi gangguan.
“Krisis menjadi jauh lebih berbahaya ketika pilihan mengecil,” menjadi salah satu pokok pemikiran yang disampaikan.
Pilihan Strategis Dibangun Sebelum Krisis
MJP Hutagaol menjelaskan, strategic options bukan sekadar rencana cadangan, melainkan pilihan tindakan yang telah dipikirkan dan dipersiapkan sebelum keadaan memaksa suatu negara mengambil keputusan.
Pilihan itu dapat berupa alternatif pemasok, jalur distribusi, teknologi, mitra, kapasitas pengganti, cadangan maupun ruang manuver. Ketika satu jalur terganggu, negara diharapkan tetap memiliki kemampuan untuk bertindak.
Menurutnya, kondisi krisis biasanya membuat waktu semakin terbatas, harga meningkat, pasokan terganggu, tekanan bertambah, sementara informasi belum tentu lengkap. Karena itu, kemampuan alternatif perlu dipersiapkan jauh sebelumnya.
Sensing, Thinking dan Trigger
Seri ini juga menekankan bahwa lingkungan strategis tidak bergerak dalam satu arah yang pasti. Konflik, perubahan harga energi, gangguan rantai pasok, perkembangan teknologi, regulasi, bencana maupun perubahan pasar dapat menciptakan kondisi baru.
Karena itu, pertanyaan strategis tidak hanya “apa yang akan terjadi”, tetapi juga “apa saja yang mungkin terjadi” dan “pilihan apa yang tersedia jika hal tersebut terjadi”.
Dalam kerangka ESTOM, Sensing berperan membaca sinyal awal, sedangkan Thinking digunakan untuk membangun skenario dan menyiapkan pilihan. Sementara itu, trigger berfungsi sebagai indikator yang membantu menentukan kapan suatu pilihan perlu dijalankan.
Energi, Pangan dan Data
MJP Hutagaol menggunakan sektor energi, pangan dan data sebagai contoh pentingnya pilihan strategis.
Pada sektor energi, diversifikasi sumber, pemasok, jalur distribusi, cadangan dan kemampuan pemulihan dapat memperkuat ruang gerak. Pada sektor pangan, ketahanan tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga panen, penyimpanan, pengolahan, transportasi, distribusi, pasar dan sumber alternatif.
Di bidang data, risiko single point of failure menjadi perhatian. Sistem strategis dinilai membutuhkan pencadangan, pemulihan, redundansi, ketahanan siber serta jalur komunikasi alternatif.
Belajar dari Negara Lain
Seri #19 menggunakan Jepang, Uni Eropa, India dan Australia sebagai ilustrasi dalam memahami pilihan strategis.
Jepang dikaitkan dengan diversifikasi dan pengelolaan ketergantungan energi. Uni Eropa menjadi ilustrasi bagaimana ketergantungan pasokan dapat berubah menjadi kerentanan. India dibahas melalui konsep strategic autonomy, sedangkan Australia digunakan sebagai contoh bahwa kepemilikan sumber daya mineral perlu didukung pengolahan, rantai pasok, investasi, kemitraan dan pasar.
Indonesia Membutuhkan Ruang Manuver
Dalam konteks Indonesia, posisi geografis di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik serta kawasan Asia dan Australia dinilai memberikan peluang sekaligus risiko.
Menurut MJP Hutagaol, keunggulan geografis perlu diterjemahkan menjadi kemampuan nyata melalui konektivitas, kapasitas maritim, diplomasi, industri, logistik, pertahanan dan pilihan strategis.
Ia juga mengingatkan bahwa tidak semua alternatif harus dibangun. Pilihan perlu ditentukan berdasarkan tingkat dampak apabila sistem gagal, kemungkinan gangguan, waktu pemulihan, biaya pembangunan alternatif dan nilai strategis yang dihasilkan.
Konsep tersebut berkaitan dengan option value, yaitu nilai yang melekat pada kemampuan menggunakan alternatif ketika kondisi berubah.
Kapasitas Memberikan Kemampuan, Pilihan Memberikan Ruang
MJP Hutagaol menegaskan bahwa Strategic Options bukan unsur keenam ESTOM. Pilihan strategis dibangun melalui proses berpikir strategis dan diwujudkan menjadi kapasitas, sehingga Operation dan Maneuver tidak terkunci pada satu jalan.
Menurutnya, pendekatan strategis tidak seharusnya hanya bergantung pada kemampuan memprediksi masa depan. Negara perlu membaca sinyal, membangun skenario, menyiapkan kapasitas, menguji alternatif dan menjaga ruang untuk bertindak.
“Kapasitas memberikan kemampuan untuk bertindak. Pilihan memberikan ruang untuk bermanuver.”
Seri #19 selanjutnya mengantar pembahasan menuju Seri Memahami ESTOM #20 bertajuk “Strategic Decision — Ketika Banyak Pilihan Harus Menjadi Satu Keputusan.” Pembahasan berikutnya akan mengulas bagaimana pemimpin menentukan pilihan di tengah ketidakpastian, keterbatasan waktu, informasi yang tidak sempurna, risiko dan konsekuensi keputusan.
Jakarta, 3 September 2026
Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar