Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol Lanjutkan Seri Kesadaran Nusantara: Mendengar Pesan dari Keragaman Budaya
- account_circle Suwoto
- calendar_month Senin, 31 Agt 2026
- visibility 138
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta — Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol kembali melanjutkan gagasan Seri Kesadaran Nusantara melalui tulisan ketiga bertajuk “Mendengar Nusantara: Apakah Pesan Kesadaran yang Sama Hidup dalam Bahasa dan Kebudayaan yang Berbeda?” yang ditulis di Jakarta, 28 Agustus 2026.
Tulisan tersebut mengajak pembaca melihat keragaman budaya Nusantara bukan sebagai sesuatu yang harus diseragamkan, melainkan sebagai kumpulan pengalaman masyarakat dalam memahami dan menjawab berbagai persoalan kehidupan.
Jika seri sebelumnya membahas sejumlah konsep dan tokoh budaya Jawa dan Sunda, seperti Jayabaya, Sabdo Palon, Ranggawarsita, dan Budak Angon, pada seri ketiga Hutagaol memperluas kajian ke tradisi Batak Toba, Minangkabau, Bali, serta Bugis-Makassar.
Hutagaol mengingatkan pentingnya kehati-hatian sebelum menarik kesimpulan tentang adanya satu pola kesadaran yang berlaku bagi seluruh Nusantara.
“Jangan mencari istilah yang sama. Carilah sesuatu yang lebih dalam: persoalan manusia yang sama, yang dijawab oleh setiap kebudayaan dengan caranya sendiri.”
Empat Tradisi, Empat Pintu Kesadaran
Dalam pembahasan Batak Toba, Hutagaol mengangkat konsep Dalihan Na Tolu, termasuk prinsip somba marhula-hula, elek marboru, dan manat mardongan tubu. Konsep tersebut dipandang sebagai pintu masuk untuk memahami hubungan, penghormatan, serta tanggung jawab sosial. Kedudukan seseorang tidak hanya dilihat dari status pribadi, tetapi juga dari cara menempatkan diri dalam hubungan dengan orang lain.
Dari Minangkabau, diangkat ungkapan alam takambang jadi guru. Konsep ini ditempatkan sebagai cara memahami proses belajar melalui pengamatan, pengalaman, serta pemahaman terhadap hubungan sebab-akibat. Gagasan tersebut kemudian dikaitkan dengan tantangan modern, khususnya perkembangan teknologi dan kemampuan manusia mengubah lingkungan. Kemampuan melakukan sesuatu, menurut tulisan itu, tidak selalu berarti tindakan tersebut bijaksana untuk dilakukan.
Sementara dari Bali, Hutagaol membahas Tri Hita Karana, yang menekankan keharmonisan hubungan manusia dengan Yang Ilahi, sesama manusia, dan lingkungan. Perspektif ini digunakan untuk melihat bahwa pembangunan tidak cukup diukur melalui pertumbuhan ekonomi dan teknologi, tetapi juga dari keberlanjutan hubungan sosial serta lingkungan.
Adapun dari Bugis-Makassar, dibahas konsep siri’ dan pesse/pacce. Siri’ dikaitkan dengan martabat, kehormatan, harga diri, dan kepatutan, sedangkan pesse/pacce ditempatkan dalam dimensi kepekaan serta solidaritas terhadap sesama.
Warisan Budaya sebagai Pengetahuan
Dari empat tradisi tersebut, Hutagaol melihat sejumlah tema yang dapat menjadi pintu untuk memahami persoalan manusia: hubungan dan tanggung jawab, belajar dari kehidupan, keseimbangan hubungan, serta martabat dan solidaritas.
Namun, ia menegaskan bahwa pola tersebut belum dapat dijadikan kesimpulan mengenai seluruh kebudayaan Nusantara. Masih banyak tradisi di Aceh, Melayu, Kalimantan, Maluku, Nusa Tenggara, Papua, dan wilayah lainnya yang perlu didengar dan dikaji.
Karena itu, istilah “Arsitektur Kesadaran Nusantara” masih ditempatkan sebagai hipotesis kerja, bukan kesimpulan final.
Hutagaol juga menekankan bahwa warisan budaya tidak hanya berupa benda seperti rumah adat, kain, tarian, musik, bahasa, senjata, atau upacara. Di balik bentuk-bentuk tersebut terdapat pengetahuan mengenai kehidupan, hubungan sosial, alam, kepatutan, perubahan, dan tanggung jawab.
Warisan itu, menurutnya, perlu dikaji secara kritis melalui proses mencari, memeriksa, memilah, dan menimbang agar tetap relevan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, serta tantangan abad ke-21.
Pada akhirnya, Seri Kesadaran Nusantara 3 mengajak masyarakat mendengar sebelum menyimpulkan. Nusantara tidak lahir dari satu suara, melainkan dari beragam pengalaman sejarah dan kebudayaan.
Pertanyaan yang kemudian menjadi jembatan menuju seri berikutnya adalah:
“Bagaimana manusia tetap menjadi manusia ketika zaman berubah?”
Seri berikutnya akan membahas “Arsitektur Kesadaran Nusantara: Dari Warisan Karuhun Menuju Manusia Abad ke-21.”
MJP Hutagaol ’86
Jakarta, 28 Agustus 2026
— Bersambung —
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar