ESTOM sebagai Siklus Strategis: Setelah Maneuver, Negara Harus Kembali Membaca Perubahan
- account_circle Suwoto
- calendar_month Senin, 24 Agt 2026
- visibility 312
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta — Pemikiran mengenai ESTOM (Environment, Sensing, Thinking, Operation, dan Maneuver) tidak berhenti pada tahap tindakan. Setelah maneuver dilakukan, proses strategis justru kembali dimulai karena setiap tindakan akan menciptakan perubahan baru dalam lingkungan strategis.
Gagasan tersebut dikemukakan Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol dalam Seri Memahami ESTOM #7: ESTOM sebagai Siklus Strategis.
Dalam pemikiran tersebut, ESTOM pada awalnya dapat dipahami sebagai rangkaian proses untuk memetakan lingkungan, mengindra perubahan, memahami situasi, merancang tindakan, dan menggerakkan sumber daya. Namun dalam praktiknya, proses tersebut tidak bersifat linear.
Salah satu gagasan utama yang ditekankan adalah bahwa setiap tindakan akan menciptakan lingkungan baru.
Kebijakan pemerintah dapat memunculkan respons masyarakat. Kebijakan ekonomi dapat mengubah perilaku pasar. Pembangunan industri dapat memengaruhi kebutuhan energi. Diplomasi dapat mengubah hubungan antarnegara. Sementara dalam konteks pertahanan, suatu tindakan operasi dapat mendorong pihak lain mengubah strategi dan langkahnya.
Karena itu, setelah tahap Maneuver, negara perlu kembali melakukan pemetaan terhadap lingkungan yang telah berubah.
Dari Garis Lurus Menjadi Siklus
ESTOM dapat digambarkan secara sederhana sebagai:
E → S → T → O → M
Namun setelah maneuver, proses tersebut kembali menuju lingkungan baru:
E Baru → S Baru → T Baru → O Baru → M Baru.
Dengan demikian, ESTOM bukan sekadar prosedur bertahap, melainkan sebuah siklus strategis yang terus bergerak.
Setiap tindakan menghasilkan konsekuensi. Konsekuensi tersebut menghasilkan data dan pengalaman baru yang harus dibaca, dianalisis, serta dijadikan dasar untuk menentukan tindakan berikutnya.
Feedback Menjadi Unsur Kunci
Dalam siklus ESTOM, feedback atau umpan balik memiliki posisi penting.
Rencana dibuat berdasarkan asumsi tertentu, sementara pelaksanaan di lapangan akan menguji apakah asumsi tersebut benar, sebagian benar, atau justru keliru.
Dengan demikian, terdapat hubungan timbal balik antara rencana dan kenyataan. Rencana diuji oleh kenyataan, kemudian kenyataan memberikan jawaban melalui hasil dan feedback.
Tanpa mekanisme umpan balik, organisasi berisiko mempertahankan kebijakan yang tidak efektif hanya karena enggan mengoreksi keputusan sebelumnya.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar