PATUS, MENCARI JIWA KEPEMIMPINAN NUSANTARA: Filosofi Meramu Harmoni, Menjaga Keseimbangan, dan Membangun Peradaban
- account_circle Suwoto
- calendar_month Rabu, 22 Jul 2026
- visibility 545
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta – Bangsa yang besar tidak hanya mewarisi sejarah, tetapi juga mewarisi cara memimpin. Gagasan tersebut menjadi pijakan utama Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol dalam memperkenalkan pemikiran “Patus: Mencari Jiwa Kepemimpinan Nusantara”, sebuah refleksi filosofis mengenai kepemimpinan yang berakar pada kearifan budaya Nusantara.
Melalui tulisan yang disusun di Jakarta, 21 Juli 2026, MJP Hutagaol mengangkat filosofi Patus sebagai metafora kepemimpinan. Dalam tradisi Bali, Patus dikenal berkaitan dengan kemampuan meramu lawar, makanan khas Bali yang terdiri atas berbagai unsur dengan karakter dan rasa berbeda.
Namun, menurut gagasan tersebut, makna Patus tidak berhenti pada aktivitas meramu makanan. Patus dipandang sebagai simbol kemampuan menjaga keseimbangan: memahami karakter setiap unsur, mengetahui kapan harus menambah atau mengurangi, serta menyatukan perbedaan menjadi keharmonisan.
“Seperti seorang Patus yang meramu berbagai bumbu menjadi satu cita rasa yang harmonis, demikian pula seorang pemimpin harus mampu meramu keberagaman menjadi persatuan serta menjaga keseimbangan demi kehidupan dan peradaban,” demikian inti pemikiran yang ditawarkan.
KEPEMIMPINAN BUKAN SEKADAR KEKUASAAN
Dalam perspektif Patus, kepemimpinan bukan hanya persoalan jabatan, kewenangan, atau kemampuan memberikan perintah. Seorang pemimpin dituntut memiliki kepekaan membaca situasi, memahami manusia, mengambil keputusan secara bijaksana, dan menjaga keseimbangan antara kepentingan pribadi dengan kepentingan bersama.
Pemimpin sejati, dalam gagasan ini, bukanlah sosok yang menghapus perbedaan atau memaksakan keseragaman. Sebaliknya, ia mampu menjadikan perbedaan sebagai kekuatan bersama.
Pemikiran tersebut dinilai relevan dengan karakter Indonesia yang dibangun dari keberagaman suku, budaya, bahasa, agama, dan tradisi.
Patus kemudian ditempatkan sebagai metafora tentang jiwa kepemimpinan Nusantara—kepemimpinan yang mampu menjaga keseimbangan antara kekuasaan dan pengabdian, kemajuan dan nilai kemanusiaan, serta kepentingan individu dan kepentingan bersama.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar