Gerilya Kognitif: Brigjen (Purn) MJP Hutagaol Ingatkan Ancaman Perang Persepsi di Era Digital
- account_circle Suwoto
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 34
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta – Perkembangan teknologi digital, media sosial, pengolahan data, dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah pola persaingan dan ancaman keamanan di era modern. Ruang digital kini menjadi salah satu medan penting yang dapat memengaruhi pola pikir, kepercayaan, hingga pengambilan keputusan masyarakat.
Hal tersebut menjadi perhatian Brigjen (Purn) MJP Hutagaol melalui tulisan bertajuk “Gerilya Kognitif – Seri 1: Ketika Pikiran Menjadi Medan Tempur Baru”. Dalam pemikirannya, ia mengingatkan bahwa ancaman masa kini tidak hanya berkaitan dengan wilayah fisik, tetapi juga manipulasi informasi dan pembentukan persepsi di ruang digital.
Menurut MJP Hutagaol, penggunaan smartphone, komputer, dan berbagai platform media sosial membuka peluang penyebaran informasi secara cepat lintas wilayah dan negara. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan risiko berupa disinformasi, pemalsuan identitas digital, serta manipulasi gambar, video, dan suara menggunakan teknologi AI.
PERANG PERSEPSI DAN ANCAMAN DEEPFAKE
Ia menjelaskan bahwa emosi, pikiran, kepercayaan, dan keputusan manusia menjadi aspek penting dalam lingkungan informasi modern. Informasi yang tidak benar berpotensi memengaruhi penilaian publik apabila diterima tanpa proses verifikasi.
Sejumlah kasus internasional dan nasional memperlihatkan risiko tersebut. Di Hong Kong pada 2024, seorang pegawai perusahaan Arup tertipu konferensi video yang menggunakan teknologi deepfake hingga menyebabkan kerugian sekitar HK$200 juta.
Di Amerika Serikat, suara tiruan AI yang menyerupai Presiden Joe Biden digunakan dalam panggilan otomatis menjelang pemilihan pendahuluan New Hampshire pada Januari 2024. Sementara di Indonesia, Bareskrim Polri pada Februari 2025 mengungkap penipuan menggunakan video manipulasi yang menampilkan Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Kasus tersebut dilaporkan menimbulkan kerugian sekitar Rp65 juta dengan kurang lebih 100 korban di 20 provinsi.
MJP Hutagaol menegaskan bahwa Gerilya Kognitif merupakan gagasan konseptual untuk memahami pengaruh terhadap persepsi dan keputusan manusia melalui ruang informasi, bukan doktrin resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Gagasan ini memiliki keterkaitan pembahasan dengan konsep Cognitive Warfare yang berkembang dalam pemikiran strategis internasional, termasuk di lingkungan NATO.
TIGA KEMAMPUAN DAN PENGUATAN CYBER ARMY
Dalam menghadapi tantangan tersebut, ia mengusulkan tiga kemampuan yang perlu diperkuat, yakni Gerilya Kognitif untuk memahami dan mengelola lingkungan informasi, Pertahanan Kognitif untuk mendeteksi serta menghadapi manipulasi informasi, dan Ketahanan serta Optimalisasi Akal untuk membangun kemampuan berpikir kritis masyarakat.
Ia juga memperkenalkan istilah Cyber Army sebagai konsep sumber daya manusia digital yang memiliki kompetensi di bidang keamanan siber, intelijen siber, forensik digital, operasi informasi, analisis data, AI, dan pertahanan kognitif.
Konsep tersebut bukan pernyataan bahwa Indonesia telah memiliki satuan resmi bernama Cyber Army, melainkan gagasan kemampuan yang perlu dikaji berdasarkan kebutuhan nasional, hukum, kewenangan, dan mekanisme pengawasan.
AI HARUS TETAP DALAM KENDALI MANUSIA
Menurut MJP Hutagaol, AI dapat membantu pengolahan data, analisis informasi, dan pendeteksian pola. Namun, teknologi tidak boleh menggantikan tanggung jawab manusia dalam memeriksa kebenaran dan mengambil keputusan.
Ia menekankan alur berpikir: fakta, data dan sumber, analisis, interpretasi, kemudian pendapat. Prinsip ini dinilai penting agar kesimpulan tidak dibangun berdasarkan informasi yang belum terverifikasi.
Enam prioritas yang turut disoroti meliputi kemampuan deteksi dan analisis, keamanan siber, komunikasi strategis, pendidikan literasi digital, kolaborasi manusia dan AI, serta pengembangan sumber daya manusia digital.
ENERGI, DATA, DAN PERSEPSI SEBAGAI FONDASI
Dalam kerangka pemikiran Perang Fondasi, MJP Hutagaol menempatkan energi, data, dan persepsi sebagai tiga pilar penting. Energi menopang kehidupan dan aktivitas masyarakat, data menjadi dasar pemahaman serta pengambilan keputusan, sedangkan persepsi memengaruhi cara manusia memahami keadaan dan menentukan tindakan.
Ia mengingatkan bahwa ketahanan bangsa di era digital tidak cukup hanya mengandalkan teknologi dan persenjataan. Literasi informasi, kredibilitas komunikasi, kemampuan berpikir kritis, serta perlindungan ruang digital juga perlu diperkuat.
Penguatan ketahanan informasi, menurutnya, harus tetap berlandaskan fakta, bukti, hukum, dan komunikasi yang bertanggung jawab, bukan propaganda maupun penyebaran fitnah.
Melalui Gerilya Kognitif Seri 1, MJP Hutagaol mengajak masyarakat dan pemangku kepentingan untuk lebih memahami perubahan medan persaingan modern. Sebab, menjaga ketahanan bangsa di era digital juga berarti menjaga kualitas informasi, kecerdasan, dan kesadaran masyarakat.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar