Dari Tempe ke Selat Hormuz, MJP Hutagaol Soroti Ketahanan Energi Indonesia
- account_circle Suwoto
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 58
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta — Ketegangan geopolitik di Selat Hormuz menjadi pengingat bahwa gangguan jalur perdagangan energi dunia dapat berdampak hingga ke Indonesia, mulai dari harga energi dan biaya transportasi hingga ongkos produksi serta distribusi bahan pangan.
Hal tersebut menjadi sorotan Brigjen (Purn) MJP Hutagaol dalam tulisannya berjudul “Dari Tempe ke Selat Hormuz: Ketika Perang Energi Mengetuk Pintu Dapur Indonesia”. Ia mengajak masyarakat melihat risiko geopolitik bukan semata-mata sebagai persoalan militer dan hubungan antarnegara, melainkan juga sebagai tantangan terhadap ketahanan ekonomi, logistik, dan kemampuan pemerintah mengambil keputusan.
Data U.S. Energy Information Administration (EIA) menunjukkan, aliran minyak dan produk cair terkait yang melewati Selat Hormuz rata-rata mencapai sekitar 20,7 juta barel per hari pada 2024. Sebagian besar minyak mentah, kondensat, dan gas alam cair (LNG) yang melintasi jalur tersebut ditujukan ke pasar Asia.
Besarnya arus energi itu menunjukkan pentingnya kelancaran pelayaran di kawasan Teluk Persia. Gangguan berkepanjangan berpotensi menekan harga energi, meningkatkan biaya pengiriman, dan menimbulkan ketidakpastian pasokan.
Namun, dampaknya terhadap Indonesia perlu dianalisis berdasarkan struktur impor, kontrak pasokan, nilai tukar, persediaan, dan kondisi distribusi domestik. Kenaikan harga energi maupun pangan tidak dapat serta-merta dikaitkan hanya dengan gangguan di Selat Hormuz.
Energi, Data, dan Persepsi
Dalam kerangka analisis yang disebut Perang Fondasi, MJP menempatkan energi, data, dan persepsi sebagai tiga unsur yang saling berkaitan dalam membangun ketahanan nasional.
Energi menopang industri, transportasi, pertanian, dan pelayanan publik. Data menjadi dasar untuk memetakan ketergantungan impor, persediaan energi, pergerakan kapal, serta kapasitas pelabuhan. Sementara itu, persepsi masyarakat dan pelaku usaha dapat dipengaruhi oleh kualitas informasi dan komunikasi pemerintah.
Informasi yang tidak akurat berpotensi memicu kepanikan. Sebaliknya, komunikasi publik yang transparan dan berbasis data dapat membantu menjaga kepercayaan masyarakat.
MJP juga mengemukakan konsep Pertahanan Nir-Materi, yang menekankan pentingnya menjaga keberlangsungan sistem pendukung kehidupan masyarakat, termasuk pasokan energi, jaringan logistik, keamanan data, komunikasi publik, dan pelayanan dasar.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar