Sentinel Seri 4: Ketika Teknologi Mampu Mengetahui Apa yang Tidak Terlihat
- account_circle Suwoto
- calendar_month Kamis, 24 Sep 2026
- visibility 95
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta – Perkembangan teknologi penginderaan dan komputasi telah mengubah cara manusia memahami bumi. Kemampuan teknologi modern tidak lagi terbatas pada apa yang dapat dilihat secara langsung, tetapi juga memungkinkan manusia membaca berbagai fenomena melalui jejak, pola, dan perubahan yang terekam oleh sensor.
Gagasan tersebut menjadi pokok bahasan SENTINEL Seri 4 berjudul “Ketika Teknologi Dapat Mengetahui Apa yang Tidak Terlihat”, yang ditulis Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol di Jakarta, 22 September 2026.
Dalam tulisan tersebut, MJP Hutagaol menjelaskan bahwa kemampuan memahami fenomena yang tidak terlihat secara langsung berawal dari rangkaian proses sensor, pengukuran, data, model, hingga pengetahuan.
Membaca kehidupan laut melalui jejak lingkungan
Salah satu contoh yang disampaikan adalah pemanfaatan teknologi penginderaan jauh untuk memahami kondisi laut.
Satelit tidak harus melihat ikan secara langsung dari luar angkasa. Sistem pengamatan dapat merekam berbagai parameter lingkungan seperti warna laut, konsentrasi klorofil, suhu permukaan laut, salinitas, arus, dan tinggi muka laut.
Data tersebut kemudian dapat dipadukan dengan ilmu kelautan dan model ekosistem untuk memperkirakan wilayah yang memiliki kondisi sesuai bagi organisme laut tertentu, termasuk habitat ikan.
Dengan demikian, teknologi tidak selalu bekerja dengan cara melihat objek secara langsung. Dalam kondisi tertentu, teknologi membaca jejak lingkungan yang berkaitan dengan keberadaan dan aktivitas suatu objek.
Air tanah dan jejak gravitasi
Contoh lainnya adalah pengamatan perubahan penyimpanan air di bumi melalui pengukuran gravitasi.
Misi GRACE dan GRACE-FO menggunakan pasangan satelit untuk mengukur perubahan sangat kecil pada medan gravitasi bumi. Perubahan distribusi massa, termasuk yang berkaitan dengan perubahan jumlah air, dapat memengaruhi gerak relatif kedua satelit.
Data tersebut kemudian digunakan ilmuwan untuk memperkirakan perubahan penyimpanan air dalam skala wilayah.
Prinsipnya sederhana, tetapi memiliki konsekuensi ilmiah yang besar: sesuatu yang tidak terlihat dari permukaan dapat meninggalkan jejak fisik yang dapat diukur.
Memahami bagian dalam bumi tanpa membelahnya
Kemampuan serupa digunakan dalam penelitian struktur interior bumi.
Melalui tomografi seismik, ilmuwan menganalisis bagaimana gelombang gempa merambat melalui bumi. Karakteristik perjalanan gelombang dipengaruhi oleh material dan struktur yang dilaluinya.
Dengan menggabungkan data dari banyak gempa dan sensor, ilmuwan dapat membangun model struktur bawah permukaan.
Artinya, manusia tidak perlu melihat langsung bagian dalam bumi untuk memperoleh informasi mengenainya. Data perambatan gelombang dapat digunakan sebagai dasar untuk membangun gambaran ilmiah mengenai struktur interior bumi.
Gunung api dan perubahan yang sangat kecil
Teknologi penginderaan juga digunakan untuk memantau gunung api.
Radar satelit dapat membantu mendeteksi perubahan permukaan bumi yang sangat kecil. Informasi tersebut kemudian dapat dianalisis bersama data kegempaan, gas vulkanik, suhu, GPS, serta informasi geologi.
Penggabungan berbagai sumber data membantu ilmuwan membangun pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai perubahan yang terjadi di sekitar gunung api.
Dari pengamatan menjadi model
Dalam bidang meteorologi, satelit juga tidak sekadar menghasilkan gambar awan.
Sistem pengamatan modern menyediakan berbagai informasi mengenai atmosfer dan laut, termasuk suhu, kelembapan, angin, tekanan, karakteristik awan, serta suhu permukaan laut.
Data tersebut menjadi masukan bagi model numerik cuaca. Komputer kemudian melakukan perhitungan berdasarkan hukum fisika dan kondisi atmosfer yang terukur untuk menghasilkan prakiraan mengenai kemungkinan perkembangan sistem cuaca.
Dengan pendekatan tersebut, manusia tidak sedang “melihat masa depan”, melainkan menggunakan kondisi saat ini, pengetahuan mengenai proses fisik, serta model komputasi untuk memperkirakan perkembangan yang mungkin terjadi.
Sensor menjadi “indra” tambahan manusia
Menurut MJP Hutagaol, perkembangan teknologi membuat manusia memiliki berbagai instrumen yang dapat berfungsi sebagai semacam “indra” tambahan.
Teknologi tersebut mencakup radar, sensor inframerah, multispektral, hiperspektral, gravimetri, magnetik, seismik, radio, dan berbagai sensor lainnya.
Setiap sensor menangkap karakteristik fenomena yang berbeda. Ketika data dari berbagai sumber digabungkan, terbentuk apa yang dikenal sebagai multi-source data.
Data tersebut selanjutnya dapat diproses menggunakan komputer, algoritma, kecerdasan buatan, serta model ilmiah.
Proses itu mengubah sinyal mentah menjadi informasi yang dapat dianalisis dan, dalam konteks tertentu, menjadi pengetahuan yang mendukung pengambilan keputusan.
Prediksi bukan kepastian
Namun, kemampuan teknologi tersebut tetap memiliki batas.
Model ilmiah dan sistem prediksi dibangun berdasarkan data, asumsi, metode pengukuran, serta parameter tertentu. Karena itu, hasil model tetap memiliki ketidakpastian dan kemungkinan kesalahan.
Menurut tulisan tersebut, teknologi yang matang bukan hanya menghasilkan prediksi, tetapi juga perlu memperhatikan seberapa kuat bukti yang tersedia, seberapa besar ketidakpastian, dan apa yang masih belum diketahui.
Dalam proses tersebut, peran manusia tetap penting. AI dapat membantu menemukan pola dan komputer dapat melakukan perhitungan dalam skala besar, tetapi data tetap harus ditafsirkan, model perlu divalidasi, dan keputusan harus mempertimbangkan konteks.
Tantangan bagi Indonesia
Pada bagian akhir, SENTINEL Seri 4 mengarahkan perhatian pada kemampuan Indonesia dalam membangun ekosistem teknologi dan pengetahuan.
Pertanyaannya bukan semata-mata apakah Indonesia memiliki akses terhadap teknologi, tetapi sejauh mana kemampuan tersebut dapat dikembangkan melalui kapasitas untuk mengukur, mengolah, memahami, dan memodelkan fenomena secara mandiri.
Ekosistem tersebut mencakup ilmuwan, insinyur, perguruan tinggi, lembaga penelitian, industri, sensor, satelit, data, komputasi, kecerdasan buatan, hingga sistem pengambilan keputusan.
Dalam perspektif itu, kekuatan teknologi tidak hanya ditentukan oleh kepemilikan sensor atau satelit. Nilai strategis juga berada pada kemampuan mengubah sinyal menjadi data, data menjadi informasi, informasi menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi prediksi, dan prediksi menjadi dasar pengambilan keputusan.
SENTINEL Seri 4 pada akhirnya mengajak pembaca mengubah cara memandang teknologi.
Bukan hanya bertanya, “Apa yang kita lihat?”
Tetapi juga:
“Apa yang dapat kita ketahui dari apa yang kita ukur?”
Teknologi penginderaan modern menunjukkan bahwa manusia dapat memperoleh informasi mengenai berbagai fenomena yang tidak dapat diamati secara langsung—dengan memanfaatkan pengukuran, analisis pola, pemodelan, dan validasi ilmiah.
SENTINEL dengan demikian bukan sekadar istilah tentang “penjaga”, tetapi juga simbol kemampuan manusia untuk membaca bumi melalui data dan teknologi.
— MJP —
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar